Desain Oriental Menyambut Tahun Baru Imlek

Sabtu, 21/01/2012

NERACA. Sentuhan Oriental menjadi ciri dalam menyambut tahun baru Imlek. Sentuhan yang dapat disaksikan dipelbagai tempat seperti; pusat perkantoran, perbelanjaan, bahkan pusat pemerintahan atau sejumlah kantor kedutaan di seluruh dunia, umumnya memberi sentuhan oriental.

Keindahan dan kesederhanaan dekorasi oriental dapat membantu meringankan kesan berat pada sebuah apartemen sehingga menjadi semacam apartemen studio yang lapang. Pertimbangan lainnya, dekorasi oriental dinilai tak akan lekang oleh kemajuan zaman.

Desain oriental senantiasa menyajikan sentuhan unik yang seolah merepresentasikan kekhasan tersendiri. Dekorasi rumah oriental juga cocok diterapkan pada hunian kontemporer dan modern mengingat kesan antiknya.

Dalam mendekorasi rumah untuk menyemarakaan Imlek, pilihlah warna merah. Karena, merah adalah warna yang menyimbolkan keberhasilan, semangat, keberuntungan dan kebahagiaan. Warna lain yang sering digunakan adalah hijau, biru, dan kuning. Aksesori-aksesori yang bisa menambah kesan oriental adalah sekat, barongsai, ornamen-ornamen cina, bambu, bantal, serta karpet.

Tambahkan juga hiasan buah jeruk. Buah jeruk menurut orang Cina, memiliki makna tersendiri. Ada yang beranggapan bahwa jeruk dalam bahasa Mandarin disebut chi zhe. Dimana kata chi berarti rezeki dan zhe berarti buah. Jangan lupa pasang lampu lampion, letakan pada halaman dan upayakan berwarna merah agar kehidupan selalu disinari oleh kebahagian.

Jika desain interior berbasis Fengsui, selayaknya pemilihan warna, objek, furnitur, dan elemen lain harus dilakukan dengan sangat teliti agar menguntungkan bagi penghuni rumah.

Adat, tradisi dan wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Cina secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi.

Yik nien fuk se, wan siang keng sin artinya datangnya tahun baru mengubah segalanya menjadi baru. Warga tionghoa kini menghabiskan hari-harinya mempersiapkan imlek dengan membuat aneka macam kue keranjang atau kue tar, membersihkan rumah dan tempat ibadah serta menyiapkan angpao. Sementara yang laki-laki akan membersihkan pekarangan atau mencat rumah.

Bagi orang Tionghoa, tahun baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok. Atmosfir Imlek bahkan dirasakan disejumlah negara, seperti Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873).

Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Macau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi Han Cina yang signifikan, Tahun Baru Cina juga dirayakan, dan pada berbagai derajat, telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Imlek atau chinese year merupakan sistem kalender lunisolar, yaitu gabungan dari sistem kalender bulan dan kalender matahari. Tahun baru imlek dikenal juga sebagai tahun baru china dan festival musim semi (chun jie). Perayaan tahun baru ini tentunya tidak bisa lepas dari segala mitos dan ritual yang melekat kuat di dalamnya.

Secara tradisi, Imlek telah diperingati oleh masyarakat tionghoa seluruh dunia sejak ribuan tahun lalu. Dari buku kuno diketahui imlek dirayakan di tiongkok 4699 tahun yang lalu oleh raja pertama huang ti. Secara tradisi penyambutan imlek diisi dengan aktivitas menjadi baru mulai dari mendandani rumah dan dirinya sendiri dengan pakaian dan semangat baru.

Di Indoneasia, tahun baru Imlek sudah dijadikan sebagai hari libur nasional, karena tahun baru imlek di negara ini tidak hanya di rayakan oleh kaum tionghoa saja, tetapi juga turut diramaikan oleh berbagai etnis.

Asal muasal peringatan tahun baru imlek ini pun mempunyai kisah tersendiri. Konon pada dahulu kala pada tepat setiap musim semi tiba di akhir musim dingin, masyarakat sering diganggu makhluk buas yang bernama nian.

Binatang buas ini datang dari dasar lautan untuk memakan manusia. Pada akhirnya masyarakat mengetahui bahwa nian ini takut akan bunyi yang keras. Karena itu untuk mencegahnya datang, mereka memukul beduk, gong dan membakar bambu yang akan menimbulkan suara ledakan. Mulai saat itu setiap akhir musim dingin, masyarakat merayakan tahun baru imlek atau Chinese year dengan membakar petasan dan memainkan barongsai untuk mengusir segala yang jahat dan menyambut datangnya musim semi.

Karena merupakan hari penting, maka untuk merayakannya tentu harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut hari bahagia tersebut. Salah satu untuk memeriahkan perayaan Imlek adalah dengan menata ulang tampilan rumah. Tema yang masih up to date dan senang dipakai oleh banyak orang adalah tema oriental, karena gaya tersebut yang tak lekang oleh waktu. Dengan menggunakan desain tema ini di rumah, suasana Imlek akan lebih terasa di rumah, karena desain interior bergaya China merupakan kombinasi antara kesederhanaan, alam, dan energi untuk menghasilkan atmosfer damai dan tenang.