Pemerintah Persiapkan IKM Pasarkan Produk Secara Daring - Industri Kecil dan Menengah

NERACA

Jakarta – Pemerintah Indonesia mempersiapkan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) khususnya sektor mebel agar memasarkan produk secara "online" atau dalam jaringan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan penjualan mebel yang dipasarkan secara konvensional hanya sekitar 1 persen/tahun, sedangkan yang dipasarkan secara "online" pertumbuhannya mencapai 5 persen/tahun.

"Sejauh ini penjualan secara 'online' ternyata memperlihatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan berjualan secara konvensional," kata Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih di Solo, sebagaimana disalin dari Antara di Jakarta.

"Memang kalau dari sisi kuantitas, penjualan secara 'online' tidak sebesar penjualan secara konvensional tetapi dari sisi transaksi lebih besar. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong penjualan melalui online," katanya.

Terkait dengan hal itu, pihaknya merasa perlu menggandeng "market place" berbasis "online" bukalapak untuk memberikan pelatihan kepada para pelaku IKM. Selain itu, pihaknya juga sudah menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi terkait kemudahan akses internet.

"Pada MoU ini salah satunya adalah Menteri Komunikasi dan Informasi memberikan pelatihan mengenai penjualan berbasis 'online' sekaligus memberikan akses jaringan internet di daerah-daerah yang selama ini belum tersentuh internet," katanya.

Gati mengatakan langkah tersebut saat ini menjadi fokus pemerintah mengingat tema serupa juga tengah hangat diperbincangkan dalam forum internasional. "Yang namanya 'ecommerce' ini atau digital dibicarakan di setiap pertemuan dunia. Mau itu Trans Pacific Partnership (TPP), Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), hingga Unieropa. Oleh karena itu, kami tidak mau ketinggalan," katanya. Pihaknya berharap dengan penerapan sistem pemasaran secara "online", pertumbuhan penjualan akan makin signifikan.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia mengajak pelaku industri kecil dan menengah (IKM) khususnya dari sektor furnitur mengoptimalkan pasar domestik seiring dengan tingginya permintaan dalam negeri.

"Sejauh ini pasar furnitur dalam negeri belum digarap secara optimal, di antaranya pengadaan mebel perkantoran, interior, dan eksterior real eatate atau perhotelan," kata Direktur IKM Pangan, Barang Dari Kayu dan Furnitur Kementerian Perindustrian RI Sudarto pada acara Workshop e-smart IKM PBKF Direktorat IKM Pangan, Barang dari Kayu dan Furnitur Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian Sudarto di Hotel Sahid Solo, sebagimana disalin dari laman Antara di Jakarta.

Ia mengatakan salah satu yang dilakukan agar pelaku IKM furnitur mengoptimalkan pasar dalam negeri adalah dengan melakukan pembinaan. "Di dalam pembinaan IKM sektor furnitur dan kerajinan, kami secara strategis mengambil langkah melalui pendekatan pembentukan korporasi IKM dalam rangka meningkatkan posisi tawar semula hanya kecil atau individu dapat lebih tinggi," katanya.

Ia mengatakan pembinaan tersebut akan lebih mudah dilakukan dengan telah dibentuknya komunitas industri mebel dan kerajinan asal soloraya (Kimkas) oleh para pelaku IKM. Menurut dia, sementara ini Kimkas terdiri dari 40 eksportir yang bermitra dengan pelalu usaha kecil dan mikro.

Dalam hal ini, dikatakannya, pendekatan kelompok industri akan lebih memudahkan pemerintah pusat dalam memberikan berbagai program bantuan yang dapat memajukan industri furnitur di Solo raya seperti fasilitasi KUR, "event" promosi, "branding", HKI, sertifikasi produk maupun program "E-Smart" IKM yang saat ini sedang dilaksanakan oleh Kemenperin.

"Kimkas ini bentuk bisnisnya koperasi industri dan mebel kerajinan asal Solo raya. Pada prinsipnya komunitas ini merupakan wadah yang menjadi langkah untuk memanfaatkan potensi peluang pasar baik ekspor maupun dalam negeri," katanya.

Menurut dia, dengan dibentuknya sebuah komunitas, para pelaku IKM akan lebih ringan ketika menghadapi sebuah permasalahan, salah satunya adalah di saat harus memenuhi kuantitas pemesanan. "Seperti misalnya saat 'buyer' sudah oke dengan kualitasnya dan dia minta ada kesinambungan pengiriman, dari kuantitas apakah bisa memenuhi jika individual," katanya.

Sudarto mengatakan dalam hal ini pihaknya mengawal perkembangan dari IKM melalui dibentuknya komunitas tersebut. "Dalam menyelesaikan masalah apapun akan kami 'support'. Selain itu, nantinya akan ada promosi lanjutan untuk Kimkas. Mudah-mudahan untuk di Jawa Tengah nantinya gubernur bisa segera mendirikan rumah promosi," katanya.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Perlu Atasi Alih Fungsi Capai Swasembada

  NERACA   Jakarta - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai pemerintah perlu benar-benar mengatasi alih fungsi lahan guna…

Isu TKA Bertujuan Jatuhkan Kredibilitas Pemerintah

    Oleh: Anisa Medina, Pemerhati Ekonomi, Sosial dan Politik   Pada 2016, China telah duduk di posisi ke-3 sebagai…

PEMERINTAH UBAH PROGRAM PRIORITAS KE PEMBANGUNAN SDM - Presiden: Tanpa Kerja Keras, Jangan Mimpi Negara Maju

Jakarta-Presiden Jokowi menegaskan, tahun depan (2019) pemerintah akan menggeser program prioritasnya dari pembangunan infrastruktur dalam empat tahun terakhir ke sumber…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

Penilaian Menteri - Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa…

Ekspor Melalui Kuala Tanjung Ditargetkan Capai 1.000 TEUS

NERACA Jakarta – Ekspor langsung melalui Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, ditargetkan bisa mencapai hingga 1.000 TEUs saat dioperasikan pada…