Kredit Kendaraan Murah Disebut Lebih Berisiko Macet

Direktur Utama Adira Finance Hafid Hadeli mengungkapkan risiko kredit macet atau non performing loan (NPL) banyak terjadi di segmen kendaraan murah atau entry level. Hafid mengatakan, hal itu disebabkan kondisi keuangan masyarakat pembeli kendaraan murah di segmen entry level atau LCGC belum begitu stabil. Berbeda dengan pembeli kendaraan menengah hingga mewah yang cenderung memiliki perekonomian mapan.

"Kalau dari segmentasi motor, semakin rendah harganya maka semakin tinggi risikonya," kata Hafid Hadeli kepada wartawan seusai konferensi pers ulang tahun ke-27 Adira Finance di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, belum lama ini.

"Sama juga seperti di mobil. Jika misalnya bicara pembeli CR-V dibandingkan LCGC tentu berbeda...Yang membeli (mobil) segmen lebih mahal, lebih bagus karena konsumennya sudah mapan," sambung dia.

Ia menambahkan kredit macet pada motor selalu lebih besar dibandingkan pada mobil. Kendati demikian, Direktur Keuangan Adira Finance I Dewa Made Susila menyatakan bahwa NPL atau kredit macet merupakan risiko yang tidak bisa dihindari dalam perusahaan pembiayaan.

"Memang di bisnis ini jangan lihat NPL-nya tapi lihat berapa orang yang mewujudkan mimpi-mimpinya. Akan ada nasabah yang bermasalah namun prosesnya sudah standar dan sudah ada komunikasi sebelumnya," kata I Dewa Made Susila.

Finance Hafid Hadeli menjelaskan pembiayaan kredit mobil dan motor bekas tetap diminati konsumen berdasarkan portofolio pembiayaan perusahaan tersebut yang mencatat kredit motor bekas menyumbang 21 persen dan mobil bekas sebesar 18 persen.

Adapun kredit motor baru sebesar 35 persen, mobil baru 23 persen, sedangkan peralatan elektronik 3 persen. Kredit kendaraan bekas memiliki segmen konsumen tersendiri, terutama bagi konsumen yang ingin memiliki kendaraan siap pakai dengan harga yang lebih murah dibandingkan kendaraan baru.

"Buat kami, motor bekas itu berkontribusi bagus, walaupun memang tidak sebesar motor baru. Namun bagi kami, motor baru dan bekas punya segmen yang berbeda. Ada yang mau langsung pakai dan suka ganti-ganti maka menggunakan motor bekas," kata Hafid.

Kendaraan bekas pun tetap memiliki daya tarik tersendiri walaupun kendaraan baru ditawarkan dengan uang muka (DP) yang terjangkau. "DP Murah ada pengaruhnya, tapi segmentasi motor bekas ada saja. Tidak semua karena DP motor baru murah, lantas orang berbondong-bondong ke sana," jelas dia.

Hafid Hadeli menjelaskan mobil bekas juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan tahun pada ini. "Jadi mobil bekas itu tumbuh 1 persen dibanding tahun lalu, mobil baru 8 persen. Itu semester pertama," katanya.

Adira Finance telah melayani sebanyak 15 juta nasabah sejak berdiri pada tahun 1990 hingga sekarang dengan rata-rata pembiayaan mencapai Rp 33 triliun per tahun dalam lima tahun terakhir.

BERITA TERKAIT

Kredit Konsumtif Dominasi Perolehan Laba Bank Sultra

    NERACA   Kendari - Secara umum kredit konsumtif masih mendominasi sumber laba Bank Sultra dengan kisaran 87 persen…

TANTANGAN PENYALURAN KREDIT USAHA RAKYAT

Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Setyowati (tengah) memberikan pemaparan saat menjadi pembicara diskusi Tantangan Penyaluran Kredit Usaha…

Menkeu Upayakan Bunga Kredit Ultra Mikro Diperkecil

      NERACA   Sumut - Pemerintah berupaya memperkecil suku bunga Kredit Ultra Mikro untuk semakin memberi manfaat besar…

BERITA LAINNYA DI OTOMOTIF

Toyota C-HR Dominasi Penjualan SUV Anyar di Jepang

  Toyota Motor Corporation mengumumkan performa mobil SUV mereka, C-HR, yang berhasil terjual sebanyak 117.299 unit sepanjang tahun 2017 di…

GSX Series Jadi Tulang Punggung Penjualan Suzuki

Suzuki Indonesia mengalami kenaikan penjualan kendaraan roda dua yang ditopang larisnya model segmen sport, Suzuki GSX-R dan GSX S, sepanjang…

Penjualan Global BMW Masih Tertinggal dari Mercedes

Produsen mobil mewah Jerman, BMW, mengatakan pada Jumat telah membukukan rekor penjualan global dalam tujuh tahun berturut-turut pada 2017, kendati…