Pabrik Semen Baturaja II Beroperasi Komersil - Jalani Dua Bulan Masa Percobaan

NERACA

Jakarta - Pabrik Semen Baturaja II siap beroperasi secara komersil pada 1 September 2017, setelah menjalani dua bulan masa percobaan. “Kita mulai produksi full secara komersil,” kata Direktur Utama PT Semen Baturaja Tbk Rahmad Pribadi usai bertemu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, dikutip dari kantor berita Antara, akhir pekan kemarin.

Menurut Rahmad, waktu operasi tersebut lebih cepat satu bulan dari rencana sebelumnya, yakni 1 Oktober 2017. Pabrik tersebut nantinya akan menambah kapasitas produksi hingga 1,8 juta ton.“Kami meminta Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik kami, bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto,” ungkap Rahmad.

Diketahui, pabrik Baturaja II akan meningkatkan kapasitas terpasang perusahaan sebanyak 92,5 persen atau menjadi 3,85 juta ton pada 2018 dari kemampuan produksi saat ini sebesar 2 juta ton. Adapun pabrik terbaru ini berlokasi di Baturaja, Sumatra Selatan telah menelan investasi sebesar Rp3,4 triliun.

Pada kesempatan yang sama, Rahmad menyampaikan optimistis mampu mencapai target penjualan tahun ini yang dipatok 20 persen lebih tinggi dari tahun lalu, mengingat pasar di Sumatera optimal. “Pasar di Sumatra masih menjanjikan dikarenakan permintaan di sana lebih banyak dibandingkan dengan kapasitas produksi pabrik. Tahun ini kami yakin dapat menjual sebanyak 2 juta ton semen, atau lebih banyak lebih dari 500.000 ton dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” katanya.

Di sisi lain Rahmad, mengatakan perusahaannya tidak terpengaruh oleh kondisi kelebihan pasokan yang sedang dihadapi industri nasional. Hal ini karena pasar di Pulau Sumatra jumlah permintaannya lebih tinggi dibandingkan dengan pasokan semen ke wilayah tersebut.‎ Kendati demikian, dia khawatir jika industri semen nasional akan terlibat persaingan yang tidak sehat yang terjadi akibat kelebihan pasokan.

"Produksi semen masih di atas 30% dibandingkan dengan kebutuhan nasional. Sedangkan pertumbuhan ‎permintaan nasional setiap tahun hanya tumbuh 5%, mengakibatkan industri semen selalu langganan over supply," ujar Rahmad.

Asosiasi Semen Indonesia mencatat total kapasitas semen nasional lebih dari 106 juta ton per tahun, sementara konsumsi nasional 63 juta ton sampai 65 juta ton per tahun. Adapun pertumbuhan konsumsi setiap tahun hanya mencapai 3 juta ton.

Menurutnya, dengan adanya kelebihan pasokan ini dapat menimbulkan persaingan yang tidak sehat. Pabrikan akan melakukan berbagai cara untuk memasarkan produknya, bisa melalui ekspansi pasar antar pulau maupun dialihkan ke pasar Internasional. “Jika perusahaan kami masih diuntungkan dengan letak secara geografis sehingga beberapa produsen semen lain akan berpikir ulang untuk ekspansi ke sini. Namun bagaimana jika terjadi saling sikut antara sesama produsen di pasar yang sama?," katanya.

Dia menambahkan jika persaingan tidak sehat ini tidak baik dampaknya terhadap sesama produsen, pemerintah, pengusaha, dan kondisi pasar. Dengan begitu Semen Baturaja meminta bantuan dari pemerintah untuk mengatur perizinan pembangunan pabrik atau penambahan kapasitas produksi diperketat kembali. "Kementerian Perindustrian telah mengimbau agar pabrikan menahan diri. Bagi yang telah memiliki izin dipersilahkan untuk melanjutkan pembangunan, namun bagi yang belum memiliki izin diimbau agar tidak menambah kapasitas terlebih dahulu," imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan industri semen merupakan salah satu andalan penopang perekonomian nasional karena dasar dari pembangunan fisik adalah semen dan baja.

Menurut dia, memang dalam beberapa tahun terakhir cukup banyak muncul pemain baru di bidang semen yang sebelumnya lebih didominasi oleh Semen Indonesia grup."Dengan munculnya pemain baru membuktikan daya saing industri semen lebih kuat mulai dari lokal hingga regional," ujar dia.

Ia mengatakan pemerintah saat ini mendorong dibangunnya beragam infrastruktur sehingga diharapkan industri semen bisa mengambil peluang ini. Pada sisi lain, ia mendorong industri menciptakan downstream atau proses lanjutan dari produk semen dilakukan oleh BUMN yang bergerak di bidang karya.

Kemudian ia mendorong dilakukan efisiensi dari sisi biaya produksi seperti menggunakan tenaga listrik dari pembangkit sendiri yang bersumber dari energi batu bara. "Perlu diketahui kalau listrik pabrik semen dari PLN akan lebih mahal 20 persen ketimbang pembangkit sendiri," ujar dia.

Ia mengatakan salah satu tantangan industri semen hari ini adalah bagaimana beroperasi dengan lebih efisien apalagi saat ini sudah tidak ada larangan untuk membuka pabrik baru. "Dengan demikian industri semen tidak perlu banyak lagi perlindungan yang banyak dari pemerintah," katanya.

BERITA TERKAIT

PLN Bekasi Raup Pendapatan Rp1 Triliun/Bulan

PLN Bekasi Raup Pendapatan Rp1 Triliun/Bulan NERACA Bekasi - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Area Bekasi, Jawa Barat, membukukan pendapatan…

Pemerintah Terbitkan Dua Seri Surat Utang Valas

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dalam dua valuta asing (dual-currency) yaitu denominasi dolar…

Mencari Solusi untuk Masa Depan Bank Muamalat

Oleh: Satyagraha Beberapa waktu lalu, Bank Muamalat, yang saat ini merupakan bank syariah tertua di Indonesia, diterpa oleh isu kekurangan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - Disiapkan, Pelatihan Implementasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Pemerintah tengah menyiapkan program pelatihan mengenai implementasi Industri 4.0 kepada pegawai di lingkungan pemerintahan, Badan Usaha Milik…

Industri Kecil dan Menengah - Kemenperin Pacu IKM Agar Go Global dan Go Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus dalam pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) karena telah lama berperan penting menopang perekonomian…

Teknologi Industri Berperan Penting Dongkrak Daya Saing

NERACA Jakarta – Balai penelitian dan pengembangan (litbang) industri di lingkungan Kementerian Perindustrian selama ini mengambil peran dalam upaya mendongkrak…