SDN Blang Sukon Jadi Sekolah Ramah Gempa - Berkah Inisiasi Sampoerna

Belajar dari pengalaman pahit gempa bumi dan tsunami di Aceh 2004 dan gempa bumi Desember 2016 lalu, masyarakat Indonesia, khususnya warga Aceh dituntut untuk lebih peka atau siaga terhadap potensi bencana yang datangnya sulit diprediksi. Namun berbekal pengalaman, tentunya antisipasi menjadi hal penting untuk menghindari dampak bencana yang tidak di inginkan. Berangkat dari hal tersebut, PT HM Sampoerna Tbk menginisiasi sosialisasi pendidikan bencana dan juga melakukan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) dengan pembangunan ruang kelas ramah gempa yang bekerjasama dengan Aksi Cepat Tanggap di SDN Blang Sukon, Pidie Jaya.

Herminwi, Head of North Sumatra Zone Sampoerna dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, pembangunan ruang kelas serta sarana pendukung belajar lainnya merupakan bagian dari program pemulihan pasca bencana gempa Aceh. Disebutkannya, perseroan menyampaikan turut prihatin dan berduka atas musibah bencana gempa Aceh yang merusak banyak infrastruktur sekolah.“Pembangunan ruang kelas baru serta sarana pendukung lainnya diharapkan bisa menambah semangat belajar siswa. Kami berkomitmen untuk senantiasa memberikan kontribusi positif bagi masyarakat melalui program tanggung jawab sosial perusahaan,” jelasnya.

Kolaborasi dengan ACT sendiri sudah dilakukan sejak melakukan evakuasi, melayani korban dan pengungsi. Kini, sebanyak 150 siswa dan 24 guru di sekolah tersebut bisa tersenyum lega. Mereka bisa kembali belajar di tempat yang layak. Selain membangun ruang kelas, Sampoerna juga membantu renovasi meunasa di Gempong Keude, Kecamatan Panteraja.

Sebagai informasi, SDN Blang Sukon di Pidie Jaya, Aceh menjadi sekolah percontohan ramah gempa. Sekolah yang sempat hancur ketika gempa bumi terjadi pada Desember 2016 itu kini memiliki konstruksi yang bisa meminimalisir jatuhnya korban ketika gempa bumi datang. Kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie Jaya, Saiful berharap, keberadaan ruang kelas yang ramah dapat membuat anak-anak yang jadi korban gempa bumi kembali fokus pada pendidikan yang dijalani.

Bangunan ramah gempa juga dipercaya mampu mengembalikan motivasi anak dari trauma.”Dulu setelah gempa bumi banyak anak yang tak mau sekolah. Tapi kalau sudah ada tempat belajar yang nyaman dan ramah gempa, mereka bisa kembali menempuh pendidikan seperti dulu," ujar Saiful.

Dia melanjutkan, dalam beberapa bulan ke depan pihaknya kembali menguji kelayakan bangunan sekolah. Kalau hasilnya tetap sama, maka pihaknya akan menjadikannya sebagai sekolah percontohan dalam pembangunan ramah gempa. Asal tahu saja, gempa bumi pada Desember 2016 telah menghancurkan sekitar 160 bangunan sekolah, mulai tingkat TK sampai SMA. Jumlah itu cukup banyak mengingat wilayah tersebut hanya memiliki 232 sekolah.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 6,5 SR di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Rabu 7 Desember 2016, pukul 05.36 WIB. Pusat gempa bumi terletak pada 5,25 LU dan 96,24 BT, tepatnya di darat pada jarak 106 km arah tenggara Kota Banda Aceh pada kedalaman 15 km.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho pernah mengatakan, informasi terakhir yang diterima pihaknya menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal akibat gempa Aceh berjumlah 102 orang. Data ini diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Adapun rinciannya,di Kabupaten Pidie Jaya berjumlah 99 orang yang meninggal dunia, di Pidie satu orang, dan di Bireun dua orang meninggal dunia.

Related posts