Harapan Dalam Sekeranjang Kue

Sabtu, 21/01/2012

Neraca. Di Negara China terdapat kebiasaan saat tahun baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun. Nien Kao atau Nian Gao, kata Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat.

Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Nien Kao atau Nian Gao, kata Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.

Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru imlek.

Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang tahun baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek).

Dipercaya pada awalnya kue, ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada raja Surga, selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Kue ini memang unik karena hanya laku pada perayaan Imlek saja. Meski demikian saat mendekati perayaan imlek, permintaannya sangat tinggi kerena menggantikan kue tradisional Tionghoa lainnya. Biasanya, pesanan kue keranjang akan meningkat hingga H-2 perayaan Imlek. Peminatnya sebagian besar adalah para pengusaha Tionghoa yang memberikan kue keranjang kepada pegawainya sebagai bingkisan perayaan Imlek. Ada pula pesanan khusus untuk diantar ke Vihara maupun konsumsi sendiri.

Menjelang perayaan Imlek atau Tahun Baru China, sejumlah kawasan di Jakarta yang banyak dihuni etnis Tionghoa mulai disibukkan dengan berbagai persiapan untuk memeriahkan perayaan tersebut. Kawasan Glodok mulai dipadati para pedagang yang menjual berbagai keperluan ataupun aksesori perayaan Imlek.

Salah satunya, keberadaan para pedagang kue keranjang atau sering disebut kue ranjang yang merupakan salah satu kue khas atau wajib ada saat berlangsungnya perayaan Imlek.

“Kue keranjang yang dijual terdiri dari dua kemasan dan dua rasa. Untuk rasa, ada rasa durian dan rasa wijen. Kue keranjang kemasan plastik dengan rasa durian seberat 1 kilogram dijual seharga Rp 22.000. Adapun kue keranjang rasa wijen dengan kemasan ukuran yang sama seharga Rp 20.000”. jelas Engkoh kate, salah seorang pedagang kue keranjang di jalan Petak Sembilan, Jakarta.

Kue keranjang rasa durian dengan kemasan daun pisang ukuran satu kilogram dijual seharga Rp 25.000. Sementara kue rasa wijen dengan ukuran dan kemasan yang sama dijual seharga Rp 23.000. Tambahnya.