Kekuatan Daya Beli dan Pendapatan

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

Daya beli adalah energi positif yang dimiliki orang seorang, institusi, dan merupakan kekuatan dari mereka untuk membelanjakan sebagian dari pendapatannya membeli barang dan jasa yang diperlukan atau dibutuhkan untuk berbagai keperluan. Dengan demikian jika mereka tidak berdaya, maka mereka pasti tidak akan mampu belanja apa-apa karena tidak mempunyai pendapatan.

Jadi daya beli hanya dimiliki oleh mereka yang tiap hari, tiap bulan atau tiap tahun mampu menghasilkan pendapatan. Jika mereka berpendapatan berarti mereka mempunyai daya beli untuk berbelanja barang, berbelanja modal, dan berbelanja jasa, dan sebagainya. Jika tidak ada daya beli berarti tidak ada pendapatan, yang berarti tidak ada kemampuan berbelanja. Inilah hukum besinya.

Konsep sederhana agar kita mempunyai daya beli, maka kita harus bekerja sehingga mendapatkan pendapatan. Pendapatan akan memiliki potensi daya beli secara nyata (real income) bila sudah dipotong pembelanjaan yang secara rutin harus dibayarkan. Kalau masih ada sisa, maka itulah sesungguhnya kekuatan daya beli riil yang melekat pada orang seorang atau institusi.

The real income ini biasa disebut dengan istilah discresionary income (pendapatan menganggur). Para ahli ekonomi atau para ahli marketing mempunyai pandangan bahwa berdasarkan rule of thumb yang berlaku umum adalah mereka yang mempunyai discresionery income sekitar 1/3 dari keseluruhan pendapatannya.

Aksioma ini kalau dipakai sebagai rujukan, maka penulis berpendapat ada dua klasifikasi daya beli, yakni daya beli yang marginal dan daya beli riil. Daya beli marginal adalah yang energinya terbatas untuk menggunakan pendapatannya berbelanja. Mereka hanya mampu melakukan belanja barang saja. Cukup tidak cukup itulah yang ada. Fenomena ini yang membuat praktik bank titil (rentenir) tumbuh subur.

Tugas bank titil ini adalah penghisap darah terhadap kelompok masyarakat yang pendapatannya marginal. Inilah praktik kapitalisme yang eksploitatif terhadap rakyat miskin dan mereka yang pendapatannya marginal. Daya beli mereka ini yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah. Karena itu sesuai dengan ekonomi konstitusi yang kita anut, maka kebijakan ekonomi harus dibarengi kebijakan sosial.

Terkait dengan ini, Dr HS Dillon dalam satu tulisannya pernah menyampaikan bahwa langkah paling efektif dalam membangun landasan bagi manusia Indonesia yang mandiri adalah dengan mendahulukan keadilan atau growth through equity melalui pembagian lahan negara untuk rakyat, pengucuran kredit untuk pengusaha kecil, dan pengalihan saham korporasi untuk karyawan.

Mazhab pembangunan sosial ekonomi yang mengutamakan kemanusiaan adalah paradigma people-driven yang menganjurkan agar semua kebijakan yang disusun, kelembagaan yang dibangun, teknologi yang dirakit dan diambil alih, ditentukan oleh komposisi kebutuhan dan kemampuan rakyat. Semua bermuara pada pemulihan harkat dan martabat seluruh rakyat.

BERITA TERKAIT

Lihat Jeroan dan Kecanggihan Advan iTAB - Tablet Harga 1,5 Juta

Advan yang saat ini menguasai pasar tablet di Indonesia, merilis tablet terbarunya bernama iTAB. Perangkat ini diklaim memiliki keunggulan layar…

Intip Dan Kenali Peluang Usaha Minuman Es Cream Nitrogen

Bisnis dengan konsep dapur terbuka (open kitchen) sebagai trend satu tahun lebih akhir-akhir ini juga merambah gerai es cream. Dengan…

Pemerintah Dituding Tidak Miliki Data - Produksi dan Konsumsi Beras Nasional:

Harga beras terus meroket di pasaran. Badan Pusat Statisk (BPS) mencatat sampai dengan minggu ke-2 Januari ini, kenaikan harga beras…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Dampak Shutdown AS Terhadap Ekonomi RI

  Oleh: Bhima Yudhistira Peneliti INDEF Shutdown atau penghentian sementara operasional Pemerintahan di AS diprediksi berlangsung dari minggu ke-4 Januari…

Ada Potensi Kebocoran Renovasi GBK - Oleh : Jajang Nurjaman Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA)

Jokowi, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) dalam kurun waktu tiga tahun 2016, 2017, dan 2018 menjalankan…

Ancaman Overhang Utang

    Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF     Dalam tahap membahayakan, utang bukan menjadi penyelamat ekonomi melainkan berpotensi…