TPIA Tanamkan Investasi Besar di Pabrik Baru - Raup Dana Rights Issue Rp 5 Triliun

NERACA

Jakarta – Mengantungi untung besar dari bisnis kimia, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) terus berekspansi mengembangkan bisnis. Memanfaatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang cukup positif, perusahaan petrokimia terbesar di Indonesia bakal menerbitkan saham baru melalui rights issue sebesar Rp 5,03 triliun atau sekitar US$ 378 juta. Hak memesan efek terlebih dulu (HMETD) TPIA tercatat efektif sejak Senin, (14/8) lalu.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, perseroan menyatakan, hasil dari rights issue tersebut akan digunakan untuk perluasan pabrik butadine yang diestimasikan memakan biaya US$42 juta dan ditargetkan sudah beroperasi pada kuartal kedua 2018. Penawaran Chandra Asri diterima dengan baik di pasar, hingga terjadi kelebihan order book. Sebagian besar order book tersebut berasal dari investor besar Thailand, investor jangka panjang lokal dan internasional, dana multi strategi serta perusahaan asuransi. Penempatan order book dialokasikan sangat ketat, dengan lima investor teratas memperoleh 90% dari total order book dan 10 investor teratas mendapatkan 95% dari total order book.

Dana hasil rights issue, selain membangun pabrik baru juga untuk membiayai belanja modal guna meningkatkan skala usaha. Salah satunya, untuk menambah kapasitas produksi dan diversifikasi produk. Disebutkan, penambahan kapasitas produksi dimaksud adalah naphtha cracker. Ekspansi ini diperkirakan menelan biaya US$ 45 juta dan direncanakan beroperasi kuartal I-2020.

Selain itu, perseroan ini menargetkan akan mengoperasikan pabrik polietilena baru pada kuartal IV-2019. Investasi ini bakal memakan biaya sebesar US$ 356 juta. Nantinya dengan menambah satu pabrik, kapasitas produksi pabrik polietilena yang saat ini 336.000 ton per tahun bisa bertambah 400.000 ton per tahun. Jadi, total kapasitas produksi polietilena mencapai 736.000 ton per tahun.

Selanjunya proyek yang masih dalam perencanaan, TPIA akan melakukan perluasan pabrik polipropilena yang diestimasi membutuhkan dana sebesar US$ 15 juta. Harry mengatakan perluasan pabrik polipropilena bisa menambah kapasitas produksi dari 480.000 ton per tahun, menjadi 590.000 ton atau naik 110.000 ton per tahun.

Kemudian, TPIA juga berencana melakukan diversifikasi produk dengan membangun pabrik methyl tertiary butyl ether (MTBE) dan butene-1. "Pabrik yang belum pernah kami miliki adalah MTBE dan butene-1, diharapkan dengan terbangunnya pabrik tersebut kami bisa menambah portofolio dalam produk turunan kami," kata Harry Tamin, Head of Investor Relation TPIA.

Ekspansi ini diestimasikan membutuhkan biaya US$ 100 juta dan diestimasikan mulai beroperasi pada kuartal II-2020. Terakhir, TPIA juga berencana membangun kompleks petrokimia kedua yang diestimasikan membutuhkan dana sekitar US$ 455 juta. Terlihat belanja modal TPIA sejalan dengan strategi bisnis perusahaan dalam upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi. Perluasan variasi produk melalui proyek integrasi produk hilir dilakukan guna mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar di dalam industri petrokimia Indonesia.

Related posts