Potensi Ekonomi Kreatif Capai Rp850 triliun

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai potensi ekonomi kreatif dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap Produk Domestik Bruto mencapai Rp850 triliun per tahunnya, dan mampu menciptakan 15 juta tenaga kerja. Gubernur BI Agus Martowardojo dalam Pameran Karya Kreatif BI di Jakarta, Jumat (18/8), mengatakan dengan besarnya nilai ekonomi yang diciptakan termasuk elastisitasnya terhadap penciptaan lapangan kerja, ekonomi kreatif dan sektor UMKM perlu menjadi prioritas untuk dikembangkan.

"Itu dari fesyen, kuliner dan itu bisa melibatkan kurang lebih 15 juta tenaga kerja. Saya melihat itu potensi yang besar untuk terus diperbesar," ujarnya. Pameran Karya Kreatif yang melibatkan 512 pelaku UMKM itu dibuka secara resmi oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo, yang didampingi Istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla.

Agus mengatakan pelaku usaha ekonomi kreatif dan UMKM juga banyak terdiri dari perempuan. Di sektor ekonomi kreatif saja, perempuan pekerja mencapai 45 persen dari total jumlah pekerja. Sehingga, kata dia, pengembangan ekonomi kreatif juga akan turut meningkatkan pemberdayaan perempuan. "Maka itu, besarnya potensi ini masih membutuhkan perhatian dan dukungan berbagai pihak," ujarnya.

Selain itu, di tengah masih derasnya tekanan ekonomi global, kata Agus, sektor UMKM dan produk kreatif juga relatif memiliki ketahanan ekonomi yang kuat. Permintaan ekspor produk UMKM dan ekonomi kreatif terus meningkat. Selain itu, penyerapan tenaga kerja UMKM dan ekonomi kreatif juga turut menjaga pendapatan masyarakat. Oleh karena itu, UMKM diyakini dapat menjadi salah satu sektor penopang stabilitas sistem keuangan dan juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. "UMKM pun dipercaya memiliki ketahanan ekonomi atau resiliensi yang tinggi, sehingga dapat menjadi penopang bagi stabilitas sistem keuangan," ujar dia.

Pameran Karya Kreatif BI diselenggarakan pada Jumat-Minggu, 18-20 Agustus 2017 di Balai Sidang Jakarta. Pameran tersebut akan menghadirkan koleksi lengkap seperti produk tenun, ikat dan kain batik serta kerajinan tradisional dari seluruh perajin binaan Bank Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain menyajikan koleksi kain dan kerajinan tradisional nusantara UMKM Binaan Bank Indonesia, melalui pameran ini, masyarakat dapat mempelajari tentang seluk beluk UMKM serta kain tradisional melalui berbagai kegiatan diskusi dan bengkel kerja.

Kepala Bekraf Triawan Munaf mengungkapkan, saat ini ada beberapa sektor ekonomi kreatif yang tengah berkembang dengan pesat dan memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan. "Ada tiga sektor, pertama fashion, kuliner, sama crafts (kerajinan tangan), itu sudah besar dan kami mau akselerasi, dan ada lagi yang menjadi prioritas mau dikembangkan adalah games, aplikasi, musik, sama film," ujar Triawan Munaf.

Selain tiga sektor itu, Bekraf juga terus berupaya meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan untuk menyadari betapa pentingnya upaya bersama mendorong sektor ekonomi kreatif lain. "Termasuk sub-sektor film, animasi dan video, desain produk, desain komunikasi visual, televisi, radio, musik dan penerbitan yang diharapkan ke depannya akan menjadi salah satu penggerak perekonomian nasional Indonesia," ungkap dia.

Selanjutnya, Triawan Munaf menjelaskan bahwa sebagai badan yang baru dibentuk di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Bekraf terus berusaha mengembangkan ekonomi kreatif dengan berbagai pihak. "Terus terang kami baru berjalan efektif satu tahun, karena tahun pertama kami betul-betul menyusun birokrasinya, strukturnya," kata Triawan.

Kontribusi Ekonomi Kreatif Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi ekonomi kreatif 2016 menunjukan ada peningkatan dari sisi PDB sektor ekonomi kreatif. Hasil data statistik ekonomi kreatif 2016 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2010 hingga 2015, besaran PDB ekonomi kreatif naik dari 525,96 triliun pada 2010 dan menjadi 852,24 triliun pada 2015 atau meningkat rata-rata 10,14 persen per tahun.

Sedangkan tiga negara tujuan ekspor komoditi ekonomi kreatif terbesar pada tahun 2015 adalah Amerika Serikat 31,72 persen kemudian Jepang 6,74 persen, dan Taiwan 4,99 persen. Untuk sektor tenaga kerja ekonomi kreatif 2010 hingga 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 2,15 persen, dimana jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif pada tahun 2015 sebanyak 15,9 juta orang.

Related posts