Panti Rehab Berdiri Megah Di atas Konservasi

Kuningan – Meskipun Kawasan Palutungan Kecamatan Cigugur merupakan zona penyangga di daerah Konservasi dan Taman Nasional Gunung Ciremai. Akan tetapi, rencana pembangunan panti rehabilitasi narkoba kini telah berdiri megah di atas areal seluas 1 hektar dari rencana total seluas 3,5 hektar.

Keterangan yang diperoleh Harian Ekonomi Neraca, Senin (16/1), kawasan panti rehabilitasi tersebut direncanakan akan menelan anggaran lebih dari Rp 10 miliar. Karena di sana tidak sekadar panti rehabnya saja, namun akan ada asrama dan fasilitas lainnya yang mendukung rehabilitasi korban Napza dan obat terlarang lainnya.

Awal wacana itu digulirkan, banyak pihak kontra terhadap rencana tersebut. Dengan alasan, kawasan itu adalah kawasan konservasi dan merupakan Taman Nasional Gunung Ciremai. Maka tidak boleh ada bangunan yang dapat mengganggu keberlangsungan konservasi. Ditambah, sebelumnya ada rencana pembangunan vila, namun pemkab melarangnya.

Akan tetapi pada 2012 ini, pemkab sendiri yang mengusulkan untuk membangun panti rehabilitasi seluas 3,5 hektar di kawasan konservasi, letaknya di zona penyangga. Rencana itu tidak ada yang melarang, dan berhasil digulirkan dengan bantuan dari suntikan APBN. Terlebih di wilayah Cirebon, dan juga Jawa Barat, belum ada panti rehabilitasi. Pemkab Kuningan menilai, rehabilitasi narkoba harus di alam yang jauh dari permukiman, dan Palutungan dipandang cocok sebagai tempat rehabilitasi.

Ketika hal tersebut dikonfirmasikan kepala Plt Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dinhutbun) Kuningan, Asep Sumirat, kemarin, menjelaskan. Zona penyangga itu tidak akan hilang. Pihaknya akan tetap mempertahankan sesuai RDTR-nya (Rencana Detail Tata Ruang). Zona penyangga yaitu kawasan yang ditumbuhi tanaman keras dan tidak boleh diganggu.

“Kita telah sepakat dalam RDTR, yaitu zona penyangga tidak akan hilang. Justru yang harus Kita pikirkan kedepan, yaitu daerah wisatanya menuju Cisantana, dan supaya tetap hidup antara konservasi dan lainnya. Ekonomi rakyat tetap harus dipikirkan. Yang pasti panti rehab tetap berada di kawasan konservasi dengan tetap menjaga zona penyangga,” papar Usep.

Menurut Usep, tanaman tersebut akan disesuaikan dengan RDTR dari Dinas Cipta Karya. Yang pasti, tanamannya adalah tanaman keras, seperti pohon cengkeh, kopi, atau jenis tanaman endemik Ciremai lainnya. Tanaman yang akan mengelilingi panti rehabiitasi, harus tanaman yang memilliki akar kuat yang tumbuh ke dalam, bukan ke samping. Sehingga tidak akan mengganggu kondisi bangunan panti tersebut.

Mengenai pelarangan bangunan, menurut dia, 10 % di kawasan konservasi itu dibolehkan untuk bangunan. Akan tetapi, bangunan itu pun harus dilihat manfaat dan masa depannya. Kalau sekadar bangunan biasa dan tidak ada nilai manfaat, jelas tidak boleh.

“Namun jika seperti panti rehabilitasi Napza, itu adalah bangunan yang mempunyai nilai manfaat dan masa depan yang cukup menunjang, termasuk masalah wisatanya,” tandasnya. (nung)

Related posts