Cirebon Gulirkan Ekonomi Kerakyatan

Senin, 16/01/2012

Cirebon – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Cirebon, sudah menyusun program untuk lebih mendukung program ekonomi kerakyatan, khususnya pada sektor pertanian.

Pasalnya, selama ini sektor pertanian ternyata menjadi salah satu ujung tombak perekonomian di Kabupaten Cirebon. Di samping itu, kurang matangnya perencanaan pada setiap SKPD di Pemkab Cirebon membuat Bappeda diharuskan membuat program yang benar-benar dirasakan masyarakat. Demikian dikatakan Kepala Bappeda Kabupaten Cirebon, Dedi Nurul, Jumat pekan lalu.

Dedi mengatakan, salah satu prioritas utama adalah sektor pertanian. Menurut dia, selama ini kepemilikan lahan petani di Kabupaten Cirebon sangat rendah. Setiap petani hanya memiliki luas lahan sekitar 0,3 Hektare saja. Padahal idealnya, harus memiliki luas lahan sekitar 1 hektare. Dengan begitu, banyak penyerapan tenaga kerja, yang kalau dihitung di atas 30%.

“Pada dasarnya saat ini kami memberdayakan kinerja petani. Pertanian itu bukan industri, yang setiap bulannya jelas menerima gaji. Petani harus menunggu 3 bulan untuk mendapatkan hasil. Selama menunggu itu, kita harus mencari solusi supaya mereka mendapatkan penghasilan,” kata Dedi.

Dedi menjelaskan, ada beberapa terobosan yang dibuat Bappeda untuk memberikan penghasilan tambahan kepada para petani, selama menunggu masa panen. Salah satunya dengan memberikan bibit ternak. Ternak tersebut bisa berupa sapi, kerbau atau kambing. Para petani bisa mengelola ternak-ternak tadi, dan hasilnya bisa dimanfaatkan.

“Kami sudah membuat program ini. Prinsipnya tidak ada yang sulit kok, hanya tinggal kemauan pemerintah daerah untuk lebih mensejahterakan rakyatnya. Program ini sudah didukung penuh bupati, dan beliau sangat respon sekali,” aku Dedi.

Hal lain yang akan lebih menyerap tenaga kerja pada sektor pertanian, menurut dia, adalah pembagian porsi pada urusan penggarapan tanah yang kembali menggunakan tenaga kerja konvensional.

Misalnya, untuk penggunaan traktor saat membajak sawah, Dedi cenderung lebih untuk memberdayakan tenaga kerja hewan berupa sapi atau kerbau, dibandingkan dengan traktor. Alasannya, ada penyerapan tenaga kerja, sekaligus menekan angka pengangguran.

“Kelihatannya kecil, tapi akan sangat terasa kalau kembali kita berdayakan itu. Sawah kembali kita bajak menggunakan sapi atau kerbau. Tapi bukan berarti traktor kita hilangkan, ini hanya pembagian porsi yang manfaatnya untuk menyerap tenaga kerja,” jelas Dedi.

Imbas dari pemakaian tenaga kerja secara konvensional, lanjut Dedi, nantinya akan terasa kepada sektor tenaga kerja pertanian lainnya. Misalnya, kembali mempekerjakan ibu-ibu rumah tangga menanam padi, dan saat panen tiba. Karena saat ini, menanam padi maupun saat panen, banyak petani menggunakan mesin. Alhasil, penyerapan tenaga kerja sangat kecil dibandingkan dengan menggarap tanah pertanian menggunakan tenaga kerja konvensional.

“Kita sudah fikirkan ini secara matang. Pasti ada reaksi, namun yang terpenting bagi kami kesejahteraan petani yang utama. Mereka harus kita berdayakan, dan ada kegiatan tambahan saat menunggu panen tiba. Kalau didukung semua pihak, pasti akan berhasil,” pungkas Dedi.

Sementara itu salah satu petani padi didaerah losari menyambut gembira rencana tersebut. Pada intinya mereka setuju dengan adanya wacana tersebut. Disamping bisa memberikan penghasilan tambahan kepada petani, juga bisa kembali memberikan lapangan pekerjaan.

Mereka juga mengaku senang dengan adanya wacana pemberian bibit hewan baik itu, sapi, kerbau ataupun kambing, yang intinya untuk penghasilan tambahan mereka, saat menunggu panen tiba. Menurut mereka, selama ini banyak waktu terbuang karena minimnya usaha sampingan, saat menunggu musim panen.

“Itu rencana yang perlu kita dukung. Kalau terlaksana, kami punya penghasilan lebih, dan mendapat pekerjaan sampingan. Hutang kepada tengkulak bisa kami kurangi,” kata Petani. (man)