Indonesia Tak Kebal Krisis

Siapkan Infrastruktur

Jumat, 13/01/2012

NERACA

Jakarta---Rasa optimisme terhadap kekuatan fundamental ekonom yang berlebihan bisa membuat terlena. Meski perhitungan di atas kertas kinerja perekonomian nasional pada 2011 relatif baik dan kondisi tersebut akan berlanjut pada 2012. Namun, ekonomi Indonesia tidak kebal terhadap kondisi ekonomi global yang diperkirakan semakin suram. .

"Ekonomi kita tidak kebal krisis global. Pada tahun ini, kewaspadaan dan kesiapan antisipasi guncangan eksternal akibat potensi krisis keuangan global harus terus ditingkatkan," kata peneliti Departemen Ekonomi Central for Strategic and International Studies (CSIS), Deny Friawan di Jakarta, Kamis (12/1)

Menurut Deny, proyeksi ekonomi nasional mampu tumbuh di atas enam persen pada tahun ini dengan tingkat inflasi di kisaran lima plus minus satu persen. Pemerintah diminta jangan berpuas diri atas capaian kinerja perekonomian di 2011 yang relatif baik. Sebab, dampak memburuknya kondisi ekonomi global dan pengaruhnya ke perekonomian domestik, sudah terasa di dua kuartal terakhir tahun lalu, yakni penurunan ekspor.

Dikatakan Deny lagi, ptensi memburuknya ekonomi dunia semakin kuat dan diperkirakan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Misalnya saja, potensi perlambatan ekspor sangat kuat seiring melemahnya tingkat permintaan dunia. CSIS menyiapkan tiga skenario atas kondisi tersebut. Skenario pertama, jika kondisi ekonomi dunia tidak terlalu buruk, ekspor Indonesia masih berpotensi tumbuh 20%.

Skenario kedua, lanjut Deny, ekonomi dunia sedikit mengalami pemburukan, masih tetap tumbuh. Namun hanya di kisaran 5%. Skenario terburuk, jika ekonomi dunia mengalami resesi dan menurunkan permintaan, maka ekspor Indonesia tergerus hingga 5%.

Lebih jauh kata Deny, kebijakan pemerintah perlu diarahkan untuk tetap mempertahankan stabilitas makroekonomi dan menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, meskipun dampak negative krisis ekonomi global masih sangat terbatas. "Pemerintah memiliki Crisis Management Protokol (CMP), dan ini harus diperkuat lagi," tandasnya.

Salah satu rekomendasi untuk menjaga makroekonomi nasional, adalah memaksimalkan peran anggaran negara untuk menggenjot aktivitas ekonomi dalam negeri. Belajar dari pengalaman China saat berhasil menghindar dari krisis ekonomi 2008, pemerintah China menggelontorkan anggaran yang besar untuk pembangunan infrastruktur. Sebab, pembangunan infrastruktur memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang mampu mendorong laju perekonomian nasional. "Kuncinya di infrastruktur," ucapnya.

Infrastruktur, menjadi tantangan mengingat rendahnya daya saing nasional salah satunya disebabkan oleh kondisi sarana dan prasarana yang tidak memadai. Pemerintah dinilai sudah memiliki modal untuk menjaga ekonomi nasional sekaligus meningkatkan infrastruktur melalui dokumen perencanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, mengatakan sisa lebih penggunaan anggaran pada 2011 sebanyak Rp 96,6 triliun telah disiapkan untuk berbagai program, dari infrastruktur hingga kemiskinan. Adapun pembangunan infrastruktur lebih ditujukan kepada daerah yang masih “lemah” sekitar Rp 12 triliun. " Nah dari Rp 24 triliun sebesar 50% itu akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur," katanya. **cahyo