Pesta Ekonomi China Bakal Berakhir?

Kamis, 12/01/2012

Krisis ekonomi yang menghantam Eropa dan Amerika Serikat mulai terasa dampaknya di China. Pertumbuhan ekspor China mulai melorot, surplus perdagangan juga merosot. Selama ini, China memang mengandalkan pasar Eropa dan Amerika Serikat sebagai pasar utama dari berbagai produk ekspornya. Itu sebabnya ekonomo China bisa meroket kencang sepanjang 5-7 tahun terakhir. Salah satu indikasi kencangnya geliat ekonomi CHina adalah lesatan jumlah devisa yang dimiliki China. Dengan mengandalkan kemampuan mengelola fiskal dan moneter, China sukses mengeruk devisa besar dari hasil penjualan produk ekspornya di pasar dunia.

Namun pesta meriah ekonomi China tampaknya segera berakhir. Produk China yang mayoritas pasarnya di Eropa dan Amerika Serikat mulai kehilangan konsumen. Ekonomi AS dan Eropa yang memburuk membuat konsumen di dua kawasan itu mengalami penurunan daya beli. Masyarakat Eropa dan AS mulai mengencangkan ikat pinggang sehingga mereka hanya membeli sejauh yang dibutuhkan. Gaya belanja masyarakat AS dan Eropa yang mulai efisien membuat produk China kehilangan banyak pelanggan. Tak pelak, ekspor China pun kian menyusut.

Kondisi tersebut kian memburuk tatkala Pemerintah China mulai memperkuat nilai mata uangnya untuk memenuhi tuntutan dari otoritas penguasa AS dan Eropa. Penguatan nilai kurs Yuan terhadap Dollar AS, Mark Jerman atau Franch Perancis membuat daya saing produk ekspor China kut menurun. Pasalnya, penguatan nilai Ren Mim Bi terhadap mata uang lain memaksa harga jual produk asal China ikut naik. Padahal, selama ini keunggulan kompetitif produk China adalah harganya yang sangat murah. Jauh lebih murah dibanding produk sejenis yang berasal dari negara lain.

Pelemahan nilai Yuan dan merosotnya perdagangan China di pasar Eropa dan AS harus diwaspadai secara cermat oleh pemerintah dan kalangan dunia usaha di Asia Tenggara, terutama Indonesia. Adanya perjanjian kerjasama perdagangan bebas dengan China membuat semua produk asal negara Panda itu bisa seenaknya masuk pasar di Asia Tenggara.

Sebelum pasar produk China di Eropa dan AS rontok, pasar Indonesia dan negara Asia Tenggara lain sudah dibanjiri produk asal China. Apalagi sekarang, produk China bakal jadi tsunami di pasar Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara. Lantaran, China bakal mengalihkan pasar ekspornya dari Eropa dan AS ke pasar kawasan lain. Dan sudah pasti, Asia Tenggara yang pemerintahnya relatif tak mampu membendung derasnya banjir bah produk China, bakal kian terhantam tsunami produk China.

Des, tahun 2012 bakal menjadi tahun pertarungan ketat dalam perlombaan menguasai pasar. Dengan jumlah penduduk besar dan memiliki daya beli lumayan tinggi, China bakal kian fokus membidik pasar Indonesia. Tak pelak, pemerintah Indonesia harus segera menyiapkan perangkat regulasi yang bisa menjadi bemper bagi dunia usaha nasional untuk menjaga pasar nasional agar tetap dikuasai produsen domestik. Produk lokal harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Itu bukan hanya sekedar kalimat, tapi untaian kata yang harus direalisasikan.