Pesta Ekonomi China Bakal Berakhir?

Krisis ekonomi yang menghantam Eropa dan Amerika Serikat mulai terasa dampaknya di China. Pertumbuhan ekspor China mulai melorot, surplus perdagangan juga merosot. Selama ini, China memang mengandalkan pasar Eropa dan Amerika Serikat sebagai pasar utama dari berbagai produk ekspornya. Itu sebabnya ekonomo China bisa meroket kencang sepanjang 5-7 tahun terakhir. Salah satu indikasi kencangnya geliat ekonomi CHina adalah lesatan jumlah devisa yang dimiliki China. Dengan mengandalkan kemampuan mengelola fiskal dan moneter, China sukses mengeruk devisa besar dari hasil penjualan produk ekspornya di pasar dunia.

Namun pesta meriah ekonomi China tampaknya segera berakhir. Produk China yang mayoritas pasarnya di Eropa dan Amerika Serikat mulai kehilangan konsumen. Ekonomi AS dan Eropa yang memburuk membuat konsumen di dua kawasan itu mengalami penurunan daya beli. Masyarakat Eropa dan AS mulai mengencangkan ikat pinggang sehingga mereka hanya membeli sejauh yang dibutuhkan. Gaya belanja masyarakat AS dan Eropa yang mulai efisien membuat produk China kehilangan banyak pelanggan. Tak pelak, ekspor China pun kian menyusut.

Kondisi tersebut kian memburuk tatkala Pemerintah China mulai memperkuat nilai mata uangnya untuk memenuhi tuntutan dari otoritas penguasa AS dan Eropa. Penguatan nilai kurs Yuan terhadap Dollar AS, Mark Jerman atau Franch Perancis membuat daya saing produk ekspor China kut menurun. Pasalnya, penguatan nilai Ren Mim Bi terhadap mata uang lain memaksa harga jual produk asal China ikut naik. Padahal, selama ini keunggulan kompetitif produk China adalah harganya yang sangat murah. Jauh lebih murah dibanding produk sejenis yang berasal dari negara lain.

Pelemahan nilai Yuan dan merosotnya perdagangan China di pasar Eropa dan AS harus diwaspadai secara cermat oleh pemerintah dan kalangan dunia usaha di Asia Tenggara, terutama Indonesia. Adanya perjanjian kerjasama perdagangan bebas dengan China membuat semua produk asal negara Panda itu bisa seenaknya masuk pasar di Asia Tenggara.

Sebelum pasar produk China di Eropa dan AS rontok, pasar Indonesia dan negara Asia Tenggara lain sudah dibanjiri produk asal China. Apalagi sekarang, produk China bakal jadi tsunami di pasar Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara. Lantaran, China bakal mengalihkan pasar ekspornya dari Eropa dan AS ke pasar kawasan lain. Dan sudah pasti, Asia Tenggara yang pemerintahnya relatif tak mampu membendung derasnya banjir bah produk China, bakal kian terhantam tsunami produk China.

Des, tahun 2012 bakal menjadi tahun pertarungan ketat dalam perlombaan menguasai pasar. Dengan jumlah penduduk besar dan memiliki daya beli lumayan tinggi, China bakal kian fokus membidik pasar Indonesia. Tak pelak, pemerintah Indonesia harus segera menyiapkan perangkat regulasi yang bisa menjadi bemper bagi dunia usaha nasional untuk menjaga pasar nasional agar tetap dikuasai produsen domestik. Produk lokal harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Itu bukan hanya sekedar kalimat, tapi untaian kata yang harus direalisasikan.

BERITA TERKAIT

BI : Siklus Krisis Ekonomi 10 Tahunan Tak Relevan

      NERACA   Jakarta - Pernyataan bahwa siklus krisis ekonomi di Indonesia akan terjadi setiap 10 tahun sekali…

FSTM : Membangun Ekonomi Umat Lewat Masjid

  NERACA   Jakarta – Forum Silaturahim Takmir Masjid (FSTM) Jakarta ingin menjadikan masjid sebagai sentral dalam pembangunan ekonomi umat.…

Matahari Bakal Rights Issue di Kuartal Pertama - Danai Pengembangan Bisnis

NERACA Jakarta – Dalam rangka mendanai ekspansi bisnisnya, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) mendapat persetujuan dari pemegang saham untuk…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

AKIBAT JARINGAN INTERNET BELUM MERATA - Bappenas: Indonesia Belum Siap Ekonomi Digital

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro menilai Indonesia belum siap menghadapi era ekonomi digital. Pasalnya, infrastruktur penopang…

Perlu Libatkan Lembaga Kajian Rumuskan Kebijakan

NERACA Jakarta – Pemerintah dinilai perlu melibatkan dan mempertimbangkan masukan serta rekomendasi yang konstruktif dari sejumlah lembaga kajian terpercaya dalam…

KEBIJAKAN DESENTRALISASI DINILAI BERMASALAH - Jokowi: Ada 42 Ribu Aturan Hambat Investasi

Jakarta-Presiden Jokowi mengungkapkan, masih ada peraturan di tingkat pusat hingga daerah yang menghambat investasi, bahkan jumlahnya mencapai 42.000 aturan. Sementara…