Keindahan Minimalis Berusia Ribuan Tahun

Seni Arsitektur Jepang :

Sabtu, 14/01/2012

Neraca. Jepang merupakan kiblat desain minimalis pada seni arsitektur. Masyarakat tradisional negeri Sakura inilah yang kali pertama mengembangkan konsep tersebut dalam berbagai elemen budayanya.

Seni arsitektur jepang dimulai sejak awal periode Yomon (8000-300SM) dilanjutkan periode Yayoi (300-300M), dan periode Kofun (300-552M). Selama periode tersebut budaya arsitektur yang ditinggalkan bercorak dinamis.

Setelah ketiga periode tersebut, arsitektur mendapat pengaruh kuat dari kepercayaan shinto yang bersifat universal. Spiritnya teraplikasi dalam desain bangunan yang sederhana, tanpa detail dan ornamen, serta warna. Arsitekturnya anggun dengan jernih, jujur tanpa polesan. Keaslian adalah estetika, dan kesederhanaan adalah karakter.

Lalu Periode Asuka (552-645M) ke periode Nara (646-793M) dan berlanjut ke periode Heian (794-1185M). Masuknya agama Budha melaui Korea, dan membawa pengaruh budaya Cina maka berkembanglah ajaran esoterik Budisme aliran Mahayana dan Mandalanya. Pada periode ini, tidak ada perubahan berarti pada arsitektur jepang.

Pada akhirnya berkembanglah aliran Zen Budisme melalui Sekte Rinzai dan Sekte Soutou pada periode Kamakura (1186-1333M). Berlanjut hingga periode Muromachi (1134-1573M), dimana seni arsitektur dalam seni penataan taman merefleksikan ajaran Zen. Gaya minimalis terus mengalami perkembangan seiring bertahannya aliran Zen melintasi periode Momoyama (1574-1614M), periode Edo (1574-1868M), dan Meiji (1687-1911M), gaya minimalis terus mengalami perkembangan.

Manusia modern mulai berminat dengan keheningan yang membuai, dan pola geometris yang menyentuh ruang haru. Cita rasa matematika yang mencapai puncaknya pada abad ke-18, memberi citraan estetis baru pada perpaduan eksak matematis. Hal ini tersermin dalam eksplorasi garis dan kepolosan dinding geometrik yang menandai seluruh arsitektur jepang.

Arsitektur rumah tradisional didominasi bahan kayu serta pintu geser arah horizontal dan vertikal dari kayu, dengan atap bertindihkan batu. Kebanyakan bangunan utama menunjukan kedekatan dengan alam. Ruangan dengan lantai tanah, beralas tatami dan batu alam. Konstruksinya sederhana dengan prinsip, semakin sedikit semakin baik.

Umumnya orang Jepang memiliki rumah yang kecil. Rumah berukuran kecil bagi orang Jepang, bukan berarti mereka miskin (Jepang adalah negara maju), namun karena mereka tidak terlalu terobsesi dengan barang-barang mewah yang memakan tempat di rumah mereka.

Desain interiornya memaksimalkan dinding tipis nyaris tidak bermateri, bahkan tak jarang menggunakan bahan kertas. Dalam filoosofi Zen, ini merefleksikan kedekatan dengan alam. Nyaris tak ada hiasan dalam desain interior. Sebagai gantinya, citra hiasan ditemukan dalam garis lurus dan bidang-bidang kosong. Tata ruangpun sederhana dengan memainkan kotak dan persegi.