The Bang-Bang Club

Kisah Seorang Fotografer Sejati

Sabtu, 14/01/2012

“THE BANG-BANG CLUB”, Kisah sang Fotografer sejati.

Neraca. The Bang-Bang Club, sebuah kisah dibalik terciptanya ratusan foto-foto luar biasa. Diceritakan tentang seorang jurnalis ditengah situasi panas oleh konflik tentu bukan hal yang mudah. Hati nurani akan terus terusik sementara di sisi lain kode etik jurnalisme harus terus dijunjung tinggi.

Mereka adalah orang-orang yang terjebak dalam situasi tidak nyaman, hati mereka berperang dengan tuntutan tugas. Dalam beberapa situasi, kejadian-kejadian yang mereka rekam kemudian menetap dalam waktu lama dalam memori mereka bahkan hingga mengguncang kejiwaan mereka.

Tersebutlah tiga orang jurnalis foto yang bekerja pada surat kabar, The Star. Mereka adalah Kevin Carter, Ken Oosterbroek, dan Joao Silvaketiganya kemudian secara tidak resmi membentu sebuah klub yang mereka beri namaThe Bang-Bang Club.

Mereka secara tersirat menggambarkan kecanduan mereka pada situasi genting, di mana desingan peluru, sabetan senjata tajam, luka menganga dan tangis kehilangan adalah makanan sehari-hari.

Kevin Carter yang meraih penghargaan “Pulitzer”, Berdasarkan Foto yang dramatis tentang seorang anak perempuan pengungsi Sudan yang kelaparan dan diintai seekor burung bangkai menjadi buah bibir di mana-mana. Kejadian di balik foto ini menjadi perdebatan tentang bagaimana sikap seorang jurnalis menghadapi situasi seperti itu, apakah membiarkan si anak kelaparan atau melakukan sesuatu untuk menolongnya ?

Setelah publikasi foto Kevin Carter yang luar biasa menyentuh itu, semua orang kemudian menanyakan nasib si anak perempuan dalam foto tersebut.St. Petersburgh Timesdi Florida bahkan menyebut kalau Carter tidak ada bedanya dengan burung bangkai itu. Dia hanya peduli pada frame dan sama sekali tidak peduli pada nasib si anak perempuan. Tudingan ini menambah daftar alasan untuk depresi pada sosok Kevin Carter selain berderet alasan lain yang sudah terekam dalam ingatannya.

Puncaknya, pada 27 Juli 1994 Carter menghabisi nyawanya sendiri . Catatan bunuh dirinya menjadi bukti kalau dia sama sekali tidak bisa bertahan lagi dari segala macam trauma yang melekat selama masa pengabdiannya sebagai fotografer, ditambah lagi dengan kepergian temannya Ken yang meninggal dunia dalam tugas.

Film ini dihadirkan semacam dokumentasi tentang kejadian di balik layar terciptanya ratusan foto menyentuh dari sebuah perang saudara di tanah Afrika di awal tahun 1990an.

Departemen artistik bekerja keras untuk membawa situasi Afrika Selatan yang keras dan panas di awal tahun 1990an. Beberapascenedihadirkan lewat potongan gambar yang terasa begitu nyata dan dengan gambar yang artistik dan enak dilihat. Emosi penonton digiring perlahan untuk ikut merasakan kerasnya pertikaian antar suku di Afrika Selatan waktu itu.