Proyek Infrastruktur Jadi Target Sisa Anggaran

Kamis, 12/01/2012

NERACA

akarta---- Kementerian Keuangan menegaskan sisa anggaran lebih (SAL) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 mencapai Rp80 triliun, sebesar Rp30 triliun dari jumlah tersebut akan diprioritaskan untuk infrastruktur. "Dari total Rp30 triliun, 20% harus dialokasikan kepada pendidikan. Kemudian sisa Rp24 triliun itu rencananya akan diprioritaskan untuk infrastruktur," kata Menteri Keuangan, Agus Martowrdjojo kepada wartawan di Jakarta,11/1

Mantan Dirut Bank Mandiri menjelaskan, pemerintah tengah membuat rumusan sisa anggaran senilai Rp24 triliun itu untuk memperbaiki infrastruktur di daerah-daerah terpencil di Indonesia. "Sebelum direalisasikan, sekarang pemerintah masih harus membicarakan rencana tersebut dengan DPR sebelum merealisasikannya," tambahnya

Lebih jauh kata Agus, kementerian keuangan menyetujui 50% dari Rp24 triliun itu dialokasikan untuk infrastruktur yang bermanfaat bagi perekonomian rakyat Indonesia. "Kami setuju kalau 50 persen dari Rp24 triliun itu benar-benar dialokasikan untuk infrastruktur, karena memang merupakan prioritas," terangnya

Agus menambahkan jika rencana tersebut disetujui oleh DPR, maka selanjutnya akan digabung ke dalam APBN-P dan digunakan untuk membiayai proyek-proyek yang berjangka waktu lebih dari satu tahun.

Ditempat terpisah, Menteri Pertanian Suswono mengaku kecewa akibat banyaknya pembangunan infrastruktur di daerah yang berdampak negative pada lahan pertanian. Bahkan banyak yang berpotensi mengurangi lahan pertanian yang produktif. "Pembangunan jalan tol telah mengkonversikan lahan pertanian produktif. Dalam lima tahun terakhir, laju konversi lahan pertanian mencapai 100 ribu hektare (ha) yang disebabkan pengalihan fungsi lahan seperti industri dan perumahan," ujar Suswono.

Lebih jauh kata mantan Wakil Ketua Komisi IV DPR member contoh konkret terkait pembangunan jalan tol Padalarang–Cileunyi di Bandung, Jawa Barat, yang memakan areal pertanian hingga ratusan hektare. "Padahal lahan pertanian tersebut merupakan lahan pertanian yang sangat produktif dan dialiri irigasi teknis kelas I,” tandasnya.

Perhitungannya, kata Suswono lagi, masih dalam pengkajian yang mendalam seberapa banyak lahan pertanian yang terserap. “Kita juga harus menghitung bahu jalan. Itu juga memakan lahan pertanian," jelasnya.

Suswono mengimbau kepada kontraktor dan pengembang yang membangun jalan tol, tetap memperhatikan lahan pertanian padi yang berfungsi strategis terhadap penyediaan pangan untuk masyarakat. "Misalnya, membangun tol berbentuk layang adapun areal pertanian hanya dipergunakan sebagai tiang pancang. "Itu bisa meminimalkan konversi lahan pertanian," imbaunya.

Lebih lanjut Suswono menambahkan, guna mengejar produksi padi dan tanaman pangan yang lain, petani memerlukan akses terhadap ketersediaan lahan. "Jadi bukan membagikan lahan kepada petani," ujarnya. **cahyo