Wisata Selokan Bersejarah di Mataram

Sabtu, 14/01/2012

Ketika masa penjajahan Jepang, banyak rakyat Indonesia yang dikirim ke berbagai daerah untuk dijadikan tenaga kerja paksa atau Romusha. Mereka dipaksa membangun beraneka ragam infrastruktur yang mendukung untuk kepentingan militer Jepang melawan tentara Sekutu. Banyak rakyat Indonesia yang menderita dikarenakan kerja paksa tersebut.

Kejadian ini yang membuat Sri Sultan Hamengku Buwono IX prihatin, beliau berusaha menghindarkan warga Yogyakarta dari kewajiban menjadi kerja paksa. Pemimpin masyarakat Yogya ini langsung memerintahkan rakyatnya untuk membangun saluran irigasi sepanjang 30 km, yang membentang dari sungai Progo hingga ke sungai Opak.

Hal ini dikarenakan Sri Sultan menolak rakyatnya untuk dijadikan romusha oleh militer Jepang. Saluran yang semula bernama “Kanal Yoshiro” itu, sekarang dikenal sebagai ”Selokan Mataram” dan hingga kini masih menjalankan fungsinya untuk mengairi belasan ribu hektar sawah milik rakyat Yogja.

Menyusuri saluran irigasi bersejarah ini dengan menggunakan sepeda motor atau sepeda menjanjikan pengalaman yang menyenangkan bila dilakukan pada bulan Oktober – Mei, karena pada bulan Juni – September biasanya selokan ini dikeringkan untuk memutus siklus hama yang dapat mengganggu proses pertanian.

Terdapat dua rute jika kita ingin menelusuri selokan bersejarah ini. Pertama, menyusuri selokan mataram ke arah barat hingga bertemu hulunya disungai Progo Dusun Ancol Kabupaten Magelang. Rute kedua kita dapat menyusuri selokan tersebut ke arah timur yang akan berakhir si sungai Opak, Kalasan.

Jika kita ingin melakukan perjalanan menyusuri selokan bersejarah ini di sarankan pada waktu sekitar pukul 06.00 WIB pagi, dan tempat awal yang paling ideal adalah di perempatan MM UGM Kaliurang, dari sini terdapat dua pilihan rute. Jika Anda memutuskan untuk melakukan perjalanan di pagi hari, masih dapat merasakan kesejukan udara pagi pedesaan dan juga kesegaran mata memandang, akan lebih terpuaskan melihat hamparan persawahan yang luas membentang diselimuti embun pagi. Selain itu, sinar matahari juga belum begitu terik dan masih banyak aktivitas masyarakat agraris dapat kita lihat.

Jika kita tertarik menelusuri selokan Mataram ini melalui arah barat, pemandangan persawahan nan hijau akan segera menyapa. Jangan lupa untuk menoleh sejenak ke arah timur ketika matahari mulai tinggi. Matahari akan tampak bersinar cerah di atas sawah hijau dan pepohonan kelapa, bayangan akan tampak di permukaan air selokan yang mengalir tenang.

Setelah berjalan sejauh 16 kilometer, Anda akan memasuki Dusun Barongan. Di daerah ini, perjalanan akan serupa dengan off road, sebab harus melewati jalan setapak yang becek dan licin. Diperlukan kehati-hatian yang ekstra agar tidak tergelincir. Pada kanan–kiri tampak pintu air yang menghubungkan selokan dengan sawah penduduk sekitar, dan Anda akan menyadari bahwa aliran selokan ini merupakan urat nadi pertanian di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Selama off road ini pula, pandangan Anda akan direfleksikan dengan berbagai pengalaman menyenangkan seperti saat menyaksikan penduduk sekitar sedang angon (menggembala) bebek, kerbau, dan kambing. Pandangan mata Anda akan sangat berbeda jika lebih memilih menelusuri selokan bersejarah tersebut melalui arah aliran timur. Nuansa perkotaan akan lebih sering kita jumpai, beberapa wilayah yang akan Anda lewati adalah Gejayan, Depok, Maguwoharjo dan Kalasan. Bila kita belum mengisi perut, tak ada salahnya kita singgah sementara di SGPC (Sego Pecel atau Nasi Pecel) milik Bu Wiryo di sebelah utara Fakultas Peternakan UGM.

Persawahan hijau baru akan Anda jumpai bila telah sampai di wilayah Maguwoharjo. Jika terus melanjutkan perjalan hingga Kalasan, dapat melihat bagian tengah hingga puncak Candi Tara. Hamparan sawah dan pepohonan tinggi menjadi latar depannya. Terdapat jalan aspal ke arah kanan bila Anda hendak mampir ke candi yang menjadi peninggalan kebudayaan Budha tertua di Yogyakarta itu.

Dari sini, Anda harus masih berjalan ke arah timur untuk sampai ke hilir selokan Mataram yang bersejarah itu. Ditengah perjalanan, Anda akan menjumpai selokan mengalir dibawah rel kereta api. Kurang lebih satu Kilometer kemudian, akan menemui hilir aliran Selokan Mataram. Tampak air selokan mengalir deras ke bawah, bersatu dengan sungai Opak yang mengalir ke selatan menuju Samudera Indonesia. Pemandangan sekitarpun cukup indah, terlihat pohon-pohon tinggi tumbuh di tepian Sungai Opak. Pemandngan tersebut menjadi pertanda akhir perjalanan menyusuri aliran Selokan Mataram ke arah timur.

Keunikan Selokan Bersejarah Mataram

Jika Anda lebih memilih arah barat untuk wisata selokan Bersejarah ini, anda akan menemukan keunikan dari selokan ini. Setelah melalui perjalanan kurang lebih satu Kilometer melalui jalur tanah, Anda akan menemui jalan buntu dan terhalang kali Krasak yang membentuk cerukan(cekungan) sedalam lima meter. Bila sebelumnya selokan akan melalui jembatan yang melintas di atas sungai, disini jembatan itu tidak ada. Ternyata aliran selokan itu turun ke bawah, mengalir lewat saluran dibawah tanah, lalu naik lagi di seberangnya. Hebatnya lagi tidak tersedianya pompa sama sekali, hukum fisika bahwa permukaan air akan selalu rata digunakan disini.