Memperkuat Fondasi Perekonomian Bangsa

Ketua Umum Perbarindo : Joko Suyanto

Sabtu, 14/01/2012

Neraca. Kepak kemajuan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dibawah Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) memang kian mengembang. Jumlah debitur BPR meningkat 126,54% selama kuartal I/2011, menjadi 7,34 juta nasabah dibandingkan akhir tahun lalu, sebanyak 3,24 juta. Kisah sukses ini melekat pada diri Joko Suyanto, Ketua Umum Perbarindo.

Sejak terpilih menahkodai organisasi Bank Perkreditan Rakyat seluruh Indonesia dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke VIII, awal November 2010 di Jakarta, sosok dibalik kemajuan PT BPR Nusamba Cepiring Holding BPR Nusamba Group ini, terbilang piawai mengelola industri bisnis keuangan. Bahkan Bank Indonesia (BI) melansir catatan, bila kenaikan jumlah debitur terbesar BPR, terjadi pada Maret 2011 yang bertambah 4,12 juta rekening.

Ditemui Neraca disalah satu kantornya di Menara Hijau, Jakarta, Joko menuturkan bahwa pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa BPR berkembang secara horizontal bukan vertical. “Bisnis BPR tumbuh bukan karena dia menyalurkan kredit kepada satu nasabah dalam jumlah besar tapi menyalurkan kredit kepada banyak nasabah,” ungkapnya .

Joko akrab ia disapa, menjelaskan bila asosiasi akan menargetkan kepada 1.679 BPR yang beroperasi di Indonesia, untuk dapat menyalurkan kredit hingga Rp 42,3 triliun pada akhir 2011 atau meningkat sekitar 25% periode yang sama tahun lalu.

Saat ini, nasabah tabungan dan deposito pada BPR pada kuartal I/2011 meningkat 4,38% dari akhir 2010 yang sekitar 8,21 juta menjadi 8,57 juta. Jumlah dana masyarakat yang disimpan pada BPR juga meningkat sekitar 5,27% menjadi Rp 32,96 triliun dibandingkan akhir tahun lalu yang sekitar Rp 31,31 triliun.

Figur dibalik motor penguat fondasi perekonomian Indonesia melalui dukungan financial dalam kemajuan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ini, meyakini bila ditengah persaingan pembiayaan terhadap UKM, BPR yakin akan mampu bersaing dengan performa keuangan termasuk laba dan rugi, rasio kinerja, dan tingkat kesehatan yang terus membaik. “Peningkatan dana (tabungan dan deposito) yang terhimpun mengindikasikan kepercayaan masyarakat yang semakin kuat terhadap BPR. Ini patut disyukuri,” tuturnya.

Pemerintah memang cenderung untuk meningkatkan dan menggalakkan sektor ekonomi rakyat dalam memperkuat fondasi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Sukses tidaknya ekonomi daerah, diantaranya sangat tergantung pada kemampuan memobilisasi dana masyarakat dan melakukan pembiayaan usaha yang membutuhkannya, “Oleh karena itu, BPR sebagai lembaga intermediasi tentunya mempunyai kedudukan strategis dalam menangkap peluang yang sangat besar itu,” ungkap Joko.

BPR yakin dengan comparative advantage, berupa pendekatan personal kepada debitur serta pelayanan yang cepat dengan prosedur sederhana akan memperkuat posisi BPR sebagai community bank. “Kami pertahankan dengan perkuat comparative advantage, di antaranya pendekatan dan pembiaan secara personal untuk mengetahui karakter debitur dan pemantauan penggunaan dana, menyediakan produk sesuai dengan kultur masyarakat setempat, proses yang cepat dan sederhana dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat dan lingkungan di sekitar lokasi BPR tersebut,” tegasnya.

Menurut Joko, seperti bank umum lainnya, BPR dan BPRS merupakan lembaga perbankan intermediasi dan berkomitmen menjalankan program sesuai sistem operasional bank yang telah ditentukan oleh regulator dan undang-undang yang serlaku. Untuk mendapat kepercayaan dari masyarakat, ujar Joko, pihaknya akan berkontribusi secara maksimum terhadap UKM, dengan meningkatkan pelayanan pemberian modal kerja.

Ia pun berkomitmen untuk meningkatkan daya saing diindustri Perbarindo dengan terus mendorong segenap anggotanya agar memiliki daya saing yang baik, “Saya sangat berharap, BPR akan benar-benar hadir untuk masyarakat dan UKM,” ucapnya berharap.

Perbarindo memandang, masih banyak peluang pembiayaan sebanyak 52,83% atau sekitar 27 juta lebih UKM yang bisa dibiayai. “Kami melihatnya UKM itu lebih berorientasi pada lingkungan setempat atau lokal, antara lain pasar lokal dan sumber keuangan lokal,” ungkapnya, ini merupakan potensi untuk meningkatkan aktivitas pengusaha mikro dalam hal pembiayaan dalam mengembangan usaha melalui modal kerja, sekaligus dalam menciptakan lapangan kerja di pedesaan, “Dan potensi ini akan terus menjadi perhatian Perbarindo, sejalan dengan komitmen kami terhadap kemajuan UKM,” tegas Joko.

Secara nasional dana kredit yang sudah disalurkan mencapai Rp 36 trilyun untuk tujuh juta nasabah di seluruh Indonesia. Dana Rp 36 triliun itu bersumber dari tabungan sebesar Rp 10 triliun, dari deposito Rp 22 triliun dan dari linkage program hingga Rp 5 trilyun. Joko menambahkan, bahwa Perbarindo di seluruh Indonesia memiliki 1.670 anggota dari Bank Perkreditan Rakyat, baik konvensional maupun syariah. Sedangkan kepengurusan DPD terdapat di 24 provinsi di Indonesia (24 DPD).

Perbarindo yang memiliki visi; terwujudnya organisasi yang aspiratif, sehat dan bermanfaat serta mampu menjadi mitra strategis bagi para pemangku kepentingan dalam memperjuangkan industri BPR, dan misi; Pertama, meningkatkan kebersamaan dan kerjasama untuk menciptakan nilai tambah yang saling menguntungkan bagi para anggota dan memberikan manfaat bagi para pemangku kepentingan. Kedua, meningkatkan profesionalisme para pengurus perbarindo dan pengelola BPR agar tercipta kualitas tata kelola, manajemen, dan operasional yang sehat, kuat, produktif, berdaya saing serta berkesinambungan.

Dan ketiga, meningkatkan kemitraan strategis dan keselarasan dengan pemerintah, otoritas perbankan, industri terkait dan lingkungan bisnis dalam upaya mendorong pertumbuhan industri BPR dan UKM. Diharapkan akan dapat terwujud.

Peran Perbarindo selaku organisasi yang menaungi industri BPR, jelas Joko, memiliki peran yang cukup vital. Setidaknya Perbarindo dapat menjadi jembatan antar kepentingan (masyarakat, pemerintah, dan BPR). “Kami juga memiliki peran lain, yaitu sebagai nara sumber bagi regulator dan mitra strategis bagi pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui UMKM. Setidaknya dengan solidnya organisasi Perbarindo, akan memberikan peluang lebih besar terhadap kemajuan industri BPR secara keseluruhan,” ungkapnya.

Dalam industri perbankan, sektor mikro masih sangat potensial. Itulah yang menyebabkan bank umum membidik dan berlomba-lomba dalam meraih pasar sektor yang selama ini menjadi pasar BPR. “BPR harus menyiapkan segalanya, diantaranya kesiapan SDM, infrastruktur dan peningkatan pelayanan, dalam menjawab tantangan dan peluangan ditahun mendatang. Dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam mendongkrak eksistensi UMKM lebih luas di Indonesia,” ujarnya.