HL1- Ratusan Rumah di Cilegon Terendam Banjir

Rabu, 11/01/2012

Cilegon - Ratusan rumah di tiga kelurahan di Kota Cilegon, Provinsi Banten, terendam banjir setelah diguyur hujan deras sejak Minggu (8/1) hingga Senin.

Ketiga kelurahan yang terendam banjir itu yakni Tegal Ratu, Kubangsari, dan Samangraya Kecamatan Citangkil.

"Kami dan keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang aman, karena air hujan masih menggenangi rumah," kata Medi, warga Kelurahan Kubangsari, Kota Cilegon, Senin.

Ia mengatakan, banjir yang melanda wilayahnya diperkirakan ketinggian setengah meter sehingga warga banyak yang mengungsi ke tempat yang lebih aman maupun ke rumah saudaranya sambil menunggu banjir surut.

Saat ini, kata dia, air banjir belum surut karena hujan masih berlangsung dengan kapasitas deras.

Kemungkinan air banjir meningkat jika hujan terus menerus karena wilayahnya merupakan daerah banjir.

Apalagi, kata dia, diperparah saluran air tertutup oleh proyek pengurukan pabrik baja PT Krakatau Posco.

"Kami minta pembangunan yang dilaksanakan PT Krakatau Posco segera selesai sehingga saluran air berjalan lancar," katanya.

Begitu pula, Suhari, warga Kelurahan Samangraya mengaku ia dan keluarganya mengungsi ke tempat saudara karena curah hujan cukup deras.

"Kami dan istri serta dua anak tinggal di rumah saudara karena rumahnya terendam banjir sekitar 80 cm," katanya.

Menurut dia, penyebab banjir yang menimpa pemukiman warga tersebut diduga akibat proyek pembangunan pabrik baja PT Krakatau Posco, sehingga saluran air tidak berjalan.

Banjir juga, kata dia, menyebabkan kemacetan jalur wisata Anyer ke Kota Cilegon.

"Kami berharap pemerintah daerah secepatnya mengatasi banjir dengan koordinasi PT Krakatau Posco agar saluran air tidak tersendat ke pemukiman penduduk," katanya.

Antisipasi Tangerang

Dinas sosial Kota Tangerang menyatakan telah mengantisipasi berbagai kemungkinan jika kota ini dilanda banjir berupa menyiapkan beragam bantuan yang diperlukan bagi korban banjir.

"Curah hujan yang tinggi belakangan ini menyirami Kota Tangerang dimungkinkan dapat menimbulkan banjir, dan kami sudah menyiapkan berbagai bantuan yang dibutuhkan bagi si korban banjir," kata Kepala Dinas Sosial (dinsos) setempat Erlan Rusnarlan di Tangerang, Banten, Selasa.

Bentuk bantuan yang disiapkan adalah kebutuhan sehari-hari mulai dari sembako, obat-obatan, pakaian hingga kebutuhan khusus wanita, kata Erlan seraya menambahkan bantuan tersebut langsung dikirim ke titik-titik lokasi terjadinya banjir dan langsung diserahkan kepada korban,

Selain menyiapkan bantuan khusus, Dinsos bekerja sama dengan Taruna Siaga (Tagana) mempersiapkan bantuan pertolongan bagi korban banjir.

"Kami telah bekerja sama dengan Tagana Kota Tangerang, sedangkan untuk personel Tagana yang telah dipersiapkan sebanyak 100 orang," katanya.

Pemerintah Kota Tangerang mewaspadai kemungkinan banjir besar melanda wilayahnya, karena diprediksi siklus banjir 5 tahunan akan terjadi pada Desember 2011 sampai Februari 2012.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Diding Iskandar mengatakan ada tiga tahap program penanggulangan yang disiapkan, yaitu pra bencana, saat bencana dan pascabencana.

“Untuk tahap pra bencana, kita bersama dengan instansi terkait seperti Dinas Pekejaan Umum serta Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk menekan banjir, dengan melakukan perbaikan drainase serta membersihkan sampah-sampah yang dapat menghambat aliran air,” katanya.

Belum Serius

Komisi B DPRD Kota Bekasi, Jawa Barat, menilai pemerintah setempat belum serius dalam menangani persoalan banjir di kawasan setempat.

Ketua Komisi B DPRD Kota Bekasi, Ronny Hermawan, di Bekasi, Selasa, mengatakan hal itu dapat dilihat dari tidak terwujudnya usulan tahun drainase sebagai solusi pengentasan banjir di wilayah setempat pada 2012.

"Kampanye tahun drainase 2012 yang kami cetuskan dengan menambah komposisi anggaran untuk drainase pada Disbimarta tidak juga diubah dan direvisi oleh Pemkot Bekasi. Jadi kesimpulannya, masyarakat harus siap menghadapi banjir tahun ini," katanya.

Bila tahun drainase terwujud, kata dia, komposisi anggaran untuk drainase yang semula pada tahun 2011 hanya 11 persen dari total anggaran di Disbimarta, maka pada 2012 akan dinaikkan minimal 30 persen dari total anggaran Rp280 miliar.

Menurut Ronny, pada tahun 2010 dan 2011, anggaran di Disbimarta mencapai Rp150 miliar, nomor dua tertinggi setelah anggaran pendidikan. Namun, alokasi untuk pembangunan drainase hanya 20 persen, sedangkan sisanya digunakan untuk jalan. Seharusnya alokasinya sebanding, karena antara jalan dan saluran air tidak bisa dipisahkan.