Hasil Jualan SUN Capai Rp 15,75 Triliun

NERACA

Jakarta - Pemerintah berhasil meraup dana sekitar Rp15, 75 triliun dari transaksi penjualan Surat Utang Negara (SUN) seri RI0142. Adapun transaksi itu dalam valuta asing senilai US$ 1,75 miliar. Transaksi tersebut merupakan bagian dari program Global Medium Term Notes (GMTN) RI sebesar US$ 15 miliar. "Total penawaran yang masuk (total order book) adalah sebesar US$ 3,6 miliar, sehingga terdapat oversubscription sebesar 2,06 kali," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto kepada wartawan di Jakarta,10/1

Lebih jauh kata Rahmat, pendistribusian SUN dilakukan sebesar 51% bagi investor AS, 12% untuk Eropa, 37% untuk Asia, dan sekitar 15% untuk investor Indonesia. Berdasar jenis investor, pengalokasian SUN dilakukan asset managers sebesar 73%, bank 20%, asuransi dan dana pensiun sekitar 4%, serta private banking sebesar 3%.

Berdasarkan catatan, SUN seri RI0142 merupakan obligasi bertenor 30 tahun, dengan tingkat kupon 5,25%, acuan yield 5,375%, dan harga sebesar 98,148 %. Pricing date penjualan SUN tersebut dilakukan pada Senin, 9 Januari 2012. Tanggal penerbitan dilakukan pada 17 Januari 2012 dan tanggal jatuh tempo 17 Januari 2042.

Bertindak sebagai joint lead managers dan joint bookrunners dalam transaksi ini adalah HSBC, JP Morgan Chase, dan Standard Chartered. Selain itu, PT Mandiri Sekuritas juga ditunjuk sebagai co-managers. Sebagai informasi, Republik Indonesia memperoleh peringkat BBB- (investment grade) dengan outlook stabil dari Fitch Rating, BB+ (positive outlook) dari Standard & Poor, serta Ba1 (stable outlook) dari Moodys.

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan tingkat imbal balik (yield) penjualan Surat Utang Negara (SUN) Indonesia telah mengalahkan yield negara maju. Yield SUN Indonesia sendiri saat ini adalah 5,37%. "Kita sudah sempat mendiskusikan yang (SUN) barusan dikeluarkan dengan yield mengalahkan negara maju. Likuiditas dunia cukup ketat, perbankan di Eropa ingin mencari dana. Pemilik dana bisa memilih, Indonesia akan bisa menghimpun dana," ujarya

Mantan Dirut Bank Mandiri, yield SUN ini telah turun drastis dibandingkan 2008. Di mana pada 2008 yield SUN Indonesia masih berkisar di angka 8,7%. "Dan penerbitan SUN USD1,75 miliar baru ini akan digunakan untuk refinance jatuh tempo yang 10 tahun, atau yang lebih mahal. Yield 2008 masih 8,7 dan sekarang lima persen," pungkasnya. **bari/cahyo

BERITA TERKAIT

Adhi Commputer Properti (ACP) Kenalkan 3 Proyek

    NERACA   Jakarta - PT Adhi Commuter Properti (ACP) sebagai terus mengembangkan kawasan yang berkonsep Transit Oriented Development…

Pengusaha Dukung Pemerintah Jembatani Gap Harga EBT

    NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM, F.X Sutijastoto…

Persiapan MotoGP di Mandalika, ITDC Bentuk MGPA

    NERACA   Jakarta - PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Badan Usaha Milik…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Serap Rp23 Triliun dari Lelang SUN

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp23 triliun dari lelang tujuh seri Surat Utang Negara (SUN)…

MRT Kembangkan Pembayaran Tiket Lewat QR Code

    NERACA   Jakarta - PT Mass Rapid Transit Jakarta mengembangkan sistem pembayaran tiket baru dengan menggunakan QR Code…

Motor Penyumbang Polusi Terbesar di Jakarta

    NERACA   Jakarta - Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan bahwa sepeda motor masih menjadi…