Pertumbuhan 8% Bisa Picu Overheating

NERACA

Jakarta—Kecemasan terjadinya overheating ekonomi di Indonesia dinilai terlalu mengada-ngada. Meski pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 7%. Namun suplai barang masih tetap terjaga. Artinya, pertumbuhan masih di bawah 8% per tahun. “Overheating kalau pertumbuhannya tinggi di atas 8%, kita kan belum," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat kepada wartawan di Jakarta,10/1

Lebih jauh kata Hidayat, gejalan overheating terjadi apabila ada pelonjakan impor bahan baku industri, seperti impor barang-barang modal dan bahan baku. "Itu yang menyebabkan kita memasukkan investasi barang modal itu mendapatkan tax holiday, supaya investasinya diatur. Bahan baku juga jangan sampai impor melonjak melebihi plafonnya Bank Indonesia (BI)," tambahnya

Menyinggung pertumbuhan industry, mantan Ketua umum Kadin ini menambahkan adanya paket regulasi tentang fasilitas penangguhan pajak untuk jangka waktu tertentu (tax holiday) dan insentif keringanan pajak (tax allowance) telah memicu pertumbuhan industri. "Dan ada tax allowance untuk 125 sektor, itu memberikan rangsangan baru," terangnya

Meski begitu, Hidayat mengatakan masih ada satu sektor yang harus dibenahi guna memacu pertumbuhan industri Indonesia lebih kencang lagi. "Tinggal satu saja, infrastruktur," tutur dia.

Sebelumnya, Kepala Ekonom Deutsche Bank untuk Indonesia Taimur Baig memaparkan, pemerintah harus mewaspadai terjadinya overheating pada tahun ini karena tingginya konsumsi, kondisi pasar yang stabil dan suku bunga rendah. “Dengan kondisi pasar Indonesia yang stabil, pemerintah harus mewaspadai terjadi overheating yang berlebihan, karena kelebihan permintaan. Pemerintah bisa melakukan kebijakan untuk mengantisipasi pertumbuhan ekonomi cepat," ujar Baig.

Adanya overheating juga disebabkan adanya permintaan impor yang berlebih yang bisa berakibat ke nilai tukar dan krisis properti. Overheating, lanjut Baig, juga menyebabkan risiko inflasi tinggi.

Kemarin, Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga menolak prediksi ekonom Deutsche yang mewanti-wanti Indonesia memiliki potensi overheating tahun ini. "Saya tidak melihat gejala itu, karena kalau overheating kalau sektor kita tidak tumbuh," katanya

Menurut Hatta dari segala sektor Indonesia tumbuh cukup ekspansif. Pada kuartal III-2011 saja, pertumbuhan industri manufaktur tumbuh 6,7%. "Pada 2012 ini saya perkirakan tumbuh lebih besar seiring dengan meningkatnya investasi,"katanya.

Investasi ini, lanjut Hatta, selain investasi di sektor infrastruktur pada 2012 juga akan masuk investasi di sektoar industri manufaktur berbasis sumberdaya akan semakin meningkat. Salah satunya adalah sektor petrochemical yang selama ini mandek di Indonesia. "Seiring dengan tax allowance dan tax holiday, yang tadinya petrochemical margin kecil dan semakin banyak impor, sekarang minat itu cukup besar," katanya.

Hatta menambahkan dengan industri manufaktur tumbuh 6,7% pada kuartal III-2011 ini meningkat pesat karena beberapa tahun sebelumnya industri manufaktur hanya tumbuh 2%. Analisis sejumlah pengamat yang menyatakan terjadi deindustrilasisasi ternyata tidak terbukti karena tingginya market dalam negeri Indonesia dan terus tumbuh. **cahyo

Overheating

Jakarta—Kecemasan terjadinya overheating ekonomi di Indonesia dinilai terlalu mengada-ngada. Meski pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 7%. Namun suplai barang masih tetap terjaga. Artinya, pertumbuhan masih di bawah 8% per tahun. “Overheating kalau pertumbuhannya tinggi di atas 8%, kita kan belum," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat kepada wartawan di Jakarta,10/1

Lebih jauh kata Hidayat, gejalan overheating terjadi apabila ada pelonjakan impor bahan baku industri, seperti impor barang-barang modal dan bahan baku. "Itu yang menyebabkan kita memasukkan investasi barang modal itu mendapatkan tax holiday, supaya investasinya diatur. Bahan baku juga jangan sampai impor melonjak melebihi plafonnya Bank Indonesia (BI)," tambahnya

Menyinggung pertumbuhan industry, mantan Ketua umum Kadin ini menambahkan adanya paket regulasi tentang fasilitas penangguhan pajak untuk jangka waktu tertentu (tax holiday) dan insentif keringanan pajak (tax allowance) telah memicu pertumbuhan industri. "Dan ada tax allowance untuk 125 sektor, itu memberikan rangsangan baru," terangnya

Meski begitu, Hidayat mengatakan masih ada satu sektor yang harus dibenahi guna memacu pertumbuhan industri Indonesia lebih kencang lagi. "Tinggal satu saja, infrastruktur," tutur dia.

Sebelumnya, Kepala Ekonom Deutsche Bank untuk Indonesia Taimur Baig memaparkan, pemerintah harus mewaspadai terjadinya overheating pada tahun ini karena tingginya konsumsi, kondisi pasar yang stabil dan suku bunga rendah. “Dengan kondisi pasar Indonesia yang stabil, pemerintah harus mewaspadai terjadi overheating yang berlebihan, karena kelebihan permintaan. Pemerintah bisa melakukan kebijakan untuk mengantisipasi pertumbuhan ekonomi cepat," ujar Baig.

Adanya overheating juga disebabkan adanya permintaan impor yang berlebih yang bisa berakibat ke nilai tukar dan krisis properti. Overheating, lanjut Baig, juga menyebabkan risiko inflasi tinggi.

Kemarin, Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga menolak prediksi ekonom Deutsche yang mewanti-wanti Indonesia memiliki potensi overheating tahun ini. "Saya tidak melihat gejala itu, karena kalau overheating kalau sektor kita tidak tumbuh," katanya

Menurut Hatta dari segala sektor Indonesia tumbuh cukup ekspansif. Pada kuartal III-2011 saja, pertumbuhan industri manufaktur tumbuh 6,7%. "Pada 2012 ini saya perkirakan tumbuh lebih besar seiring dengan meningkatnya investasi,"katanya.

Investasi ini, lanjut Hatta, selain investasi di sektor infrastruktur pada 2012 juga akan masuk investasi di sektoar industri manufaktur berbasis sumberdaya akan semakin meningkat. Salah satunya adalah sektor petrochemical yang selama ini mandek di Indonesia. "Seiring dengan tax allowance dan tax holiday, yang tadinya petrochemical margin kecil dan semakin banyak impor, sekarang minat itu cukup besar," katanya.

Hatta menambahkan dengan industri manufaktur tumbuh 6,7% pada kuartal III-2011 ini meningkat pesat karena beberapa tahun sebelumnya industri manufaktur hanya tumbuh 2%. Analisis sejumlah pengamat yang menyatakan terjadi deindustrilasisasi ternyata tidak terbukti karena tingginya market dalam negeri Indonesia dan terus tumbuh. **cahyo

BERITA TERKAIT

Pelanggan Tokopedia Bisa Bayar di JNE - Kembangkan Kanal Pembayaran

NERACA Jakarta - Dalam rangka memudahkan pelayanan kepada pelanggan Tokopedia dalam membayar barang belanjaannya, perusahaan e-commerce ini menggandeng perusahaan logistik…

Mitra Sociopreneurs Muda DBS Berbagi Kiat Sukses - Dukung Pertumbuhan Wirausaha Sosial

Membangun kemandirian ekonomi kaum wanita saat ini bukan lagi menjadi pilihan tetapi juga kebutuhan. Oleh karena itu, dalam rangka memberdayakan…

BPK Tak Bisa Kendalikan Auditornya - PERLU KOMITMEN PETINGGI NEGARA BERANTAS KORUPSI

Jakarta-Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Moermahadi Soerja Djanegara mengungkapkan, tidak bisa mengendalikan “permainan” auditor di lapangan yang sedang memeriksa lembaga…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Infrastruktur jadi Senjata Pemerintah Atasi Middle Income Trap

      NERACA   Jakarta – Indonesia digadang-gadang akan keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah atau middle income trap.…

Pariwisata Digadang-gadang Bakal jadi Penyumbang Terbesar Devisa

    NERACA   Jakarta - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sektor pariwisata Indonesia diproyeksikan menjadi penghasil devisa terbesar pada…

LTC Glodok Sediakan Layanan SIM dan STNK Keliling

  NERACA   Jakarta – Pusat perbelanjaan Lindeteves Trade Center Glodok (LTC Glodok) bekerjasama dengan Polda Metro Jaya mengadakan pelayanan…