Junjung Tinggi Semangat Mobnas

Sejak ramai diberitakan sebagai mobil dinas Wali Kota Solo, mobil “Kiat Esemka” kini menjadi isu nasional yang diminati publik. Mobil yang “dirakit” anak-anak sekolah menengah kejuruan (SMK) itu kemudian menjadi buah bibir. Dan, ada efek domino yang muncul kemudian adalah gambaran sebuah sikap nasionalis dari Wali Kota Jokowi. Di sana terlihat jelas semangat mencintai produk dalam negeri yang selama ini dikeluhkan banyak orang.

Adalah sangat penting menjunjung tinggi semangat mencintai produk dalam negeri itu, karena akan memberikan pengaruh yang besar pada pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi kualitas dan kuantitas produksi dalam negeri, maka serapan tenaga kerja juga meningkat. Bayangkan, bila seluruh mobil yang beredar memiliki kandungan lokal tinggi, semakin besar kelangsungan hidup industri nasional di negeri sendiri.

Prestasi siswa SMK itu memang membuat kagum masyarakat Indonesia. Dari mulai perakitan komputer, laptop, mobil, hingga pesawat, memang cukup membanggakan. Selain mobil “Kiat Esemka”, karya SMK Negeri 2 dan SMK Warga Surakarta, juga ada karya sejenis Sport Utility Vehicle (SUV) yang dibuat oleh siswa SMK Muhammadiah 2 Borobudur, Magelang. Setahun lalu, SMKN 1 Singosari Malang dan SMK Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur juga membuat mobil “Digdaya”, mirip “Kiat Esemka”.

Kita jadi teringat embrio mobil nasional (Mobnas) pada 1976 ketika Presiden Soeharto mendorong produksi mobil Timor. Dan, sejak tahun itu Kementerian Perindustrian memberikan berbagai insentif dan juga perangkat peraturan yang mendukung pembuatan Mobnas melalui pendekatan peningkatan kandungan lokal. Maka, saat ini telah terdapat 40 perusahaan industri beromotor roda dua yang menghasilkan 8,5 juta unit per tahun.

Jenis motor bebek misalnya, bisa dibilang paling sukses karena memiliki kandungan lokal 98%, dan yang 2% masih diimpor. Sedangkan untuk roda empat, sudah ada 20 perusahaan yang sebagian besar merupakan agen pemegang merk. Kandungan lokalnya juga terus meningkat, bahkan untuk jenis MPV sudah mencapai 80%. Perkembangan seperti ini tentu menggembirakan, karena bangsa ini semakin menunjukkan kualitasnya untuk menuju kemandirian.

Tetapi, untuk bisa melaju di jalan raya, masih ada Peraturan Menteri Perindustrian No 59 Tahun 2010 tentang industri kendaraan bermotor. Dalam aturan itu dipersyaratkan, pembuatan kendaraan harus memiliki izin usaha industri, melakukan kegiatan perakitan kendaraan yang utuh, melakukan pengujian dan pengendalian mutu. Selain itu, juga memiliki perjanjian merek dengan prinsipal, atau merek terdaftar pada Direktorat Hak Atas Kekayaan Intelektual.

Lalu masih ada lagi ketentuan nomor identifikasi kendaraan (NIK) dan tanda pendaftaran tipe (TPT). Setelah persyaratan ini komplet barulah mengajukan uji laik jalan ke Kementerian Perhubungan. Selain juga harus memperhatikan UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Produsen lokal juga dituntut harus profesional di bidang pemasaran dan layanan purna jual.

Tanpa mengurangi semangat Mobnas, kapasitas pabrik dan menjaga mutu hasil produksi hendaknya tetap menjadi prioritas utama sesuai kebutuhan pasar di dalam negeri. Walau kita terus mendukung terwujudnya mobil nasional (Mobnas), hal -hal seperti itu tentu tidak boleh dilewati begitu saja. Semangat nasionalisme boleh tinggi, namun tetap harus jernih menunjukkan hasil karya nyata berjangka panjang dan memuaskan konsumen Indonesia di masa depan. Semoga!

BERITA TERKAIT

KIOS Bilang Refleksi Minat Cukup Tinggi - Sahamnya Disuspensi BEI

NERACA Jakarta – Lantaran mengalami kenaikan harga saham dan waran di luar kewajaran, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya melakukan…

KOTA SUKABUMI - Animo Masyarakat Daftarkan Diri Untuk PPK dan PPS Cukup Tinggi

KOTA SUKABUMI  Animo Masyarakat Daftarkan Diri Untuk PPK dan PPS Cukup Tinggi NERACA Sukabumi - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU)…

Pesanan Mitsubishi Xpander Tembus 23 Ribu Unit - Kebutuhan MVP Tinggi

NERACA Cikarang - Chief Operating Officer Mitsubishi Motors Corporations (MMC) Trevor Mann mengatakan sejak pertama diluncurkan pada Agustus 2017 kemarin,…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Perlukah Pemerintah Memberi Tunjangan Profesi Wartawan?

Oleh: D.Dj. Kliwantoro Pemerintah telah memberi tunjangan profesi dan tunjangan khusus guru, baik yang berstatus pegawai negeri sipil maupun bukan…

Solusi Alami Kendalikan Pemanasan Global di Indonesia

Oleh: Genta Tenri Mawangi Pemanasan global telah menjadi masalah masyarakat dunia, karena dampaknya dianggap tengah terjadi di banyak negara. Dalam beberapa…

Budaya Kerja Ala Jokowi

  Oleh : Indah Rahmawati Salam, Peneliti di Lembaga Kajian Arus Pembangunan  Presiden RI ke-7 yaitu Ir.H.Joko Widodo atau biasa…