Redenominasi Rupiah Dinilai “Ngawur”

NERACA

Jakarta – Langkah dan kebijakan yang “dimotori” Bank Indonesia melakukan redenominasi rupiah dinilai telah “menyimpang” , alias ngawur. Karena kebijakan redenominasi rupiah dengan mengubah Rp 1.000 menjadi Rp 1 bisa memicu inflasi tinggi. “Redenominasi itu ngawur. Saya menyarankan BI jangan main-mainlah. Masalahnya, Ini membodohi publik," kata ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa kepada wartawan di Jakarta,9/1

Lebih jauh kata Purbaya, adalah kekeliruan BI melakukan redenominasi karena membandingkan kondisi Indonesia dengan Turki. Padahal kondisi Turki saat melakukan redenominasi sangat buruk dengan tingkat inflasi rata-rata dalam 15 tahun sebesar 70%. “Kalau BI melihat Turki untuk melakukan redenominasi itu salah. Redenominasi dilakukan saat inflasi stabil, di Turki itu inflasinya 70% rata-ratanya dalam 15 tahun,” terangnya.

Menurut Purbaya, mata uang Turki sempat mengalami pelemahan yang luar biasa. Sementara Indonesia baru 5 kali. “Turki mata uangnya sudah melemah 1.400 kali dalam waktu 10 tahun, kita cuma 5 kalilah kalau dari Rp 2 ribu ke Rp 10 ribu, inflasi kita sekitar 8 persenan, bukan bandingan lah," tegasnya.

Dikatakan Purbaya, tak beralasan redenominasi terkait dengan memudahkan penghitungan. Karena selama ini BI berasalan untuk mempermudah proses perhitungan akuntansi dengan menghilangkan 3 nol di mata uang rupiah. "Sekarang kan komputer sudah dual core, four core, canggihlah, nggak ada juga yang menghitung pakai kalkulator," ujarnya.

Purbaya menilai dampak yang diberikan dari kebijakan redenominasi ini bisa bersifat psikologis yang nantinya berujung pada kenaikan inflasi. "Misalkan kalau sekarang,pedagang mau naikin harga dari Rp 5 ribu ke Rp 6 ribu, naik seribu, itu terasa berat, nanti ini kan dianggap hanya naik 1 rupiah, nanti dengan redenominasi dengan mudah naikkan 5 rupiah. Efek psikologis ini yang susah dikendalikan,” ungkapnya

Yang jelas, kata Purbaya, kalau ingin menjaga gengsi, bukanlah melalui redenominasi, melainkan penetapan kebijakan moneter yang baik. "Misal bunga kredit turun tapi uang juga diserap. Itu kontradiktif yang menghancurkan dunia kita. Mending fokus kepada ketika BI rate turun tapi bunga kredit juga turun. Jadi masih banyak kerjaan yang mendesak daripada redenominasi," tandasnya.

Redenominasi merupakan proses penyederhanaan nilai mata uang rupiah. Dalam kajian sebelumnya, redenominasi akan menghilangkan 3 nol dalam nominal rupiah sekarang, namun tidak akan mengurangi nilainya. Misalnya adalah uang Rp 1.000.000 nantinya menjadi Rp 1.000 namun nilainya tidak berkurang. **cahyo

BERITA TERKAIT

Pelayanan Publik Dinilai Masih Buruk - YLKI NILAI KENAIKAN TARIF TOL TIDAK ADIL

Jakarta- Hasil survei dan observasi Ombudsman RI mengungkapkan, pelayanan publik di kementerian/lembaga dan pemerintah daerah secara keseluruhan masih buruk. Sementara…

Nilai Tukar Rupiah di 2018 Diprediksi Kisaran Rp13.600

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan rata-rata nilai tukar rupiah…

Motif MUFG Akuisisi Saham Danamon Dinilai Belum Jelas

      NERACA   Jakarta - Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) dikabarkan berniat mengakuisisi 40% saham PT Bank Danamon…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Menkeu Harap Swasta Makin Banyak Terlibat di Infrastruktur

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap makin banyak pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan…

Menggenjot Skema KPBU di Sektor Pariwisata

    NERACA   Jakarta - Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang tumbuh secara masif di tahun ini. Bahkan,…

BPJS Ketenagakerjaan Siapkan Layanan Digital

      NERACA   Jakarta - Era digital menuntut semua pihak untuk dapat memenuhi tuntutan pelanggan dengan mudah dan…