Program Residensi, 21 Penulis Dikirim Ke Luar Negeri

Perjalanan ke negara-negara asing memungkinkan seorang penulis keluar dari rutinitas, mencari inspirasi segar, serta mengambil jeda sejenak beberapa saat agar dapat berkonsentrasi pada proses kreatifnya. Komite Buku Nasional (KBN) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali mengadakan program Residensi Penulis. Pada 2017 ini, telah terpilih 21 orang penulis yang akan dikirim ke berbagai negara.

Para penulis ini dapat menentukan kota dan negara tujuan sesuai dengan target penulisan buku yang sedang dikerjakan. Para peserta residensi dapat tinggal dan melakukan riset di negara tujuan selama 1-3 bulan. Pendanaan kegiatan ini berasal dari program Beasiswa Unggulan Kemendikbud 2017. Sebelumnya, pada 2016, juga ada sembilan penulis asal Indonesia yang sudah dikirim ke berbagai negara.

Kepala Biro Perencanaan dan Kerja sama Luar Negeri Kemendikbud Suharti berharap para penulis menjadi duta bagi dunia intelektual Indonesia. Sebagian penerima beasiswa residensi penulis sudah puluhan tahun bergelut di bidang kepenulisan, sebagian yang lain merupakan para penulis muda. "Kami sangat berharap mereka juga bisa berbicara dalam forum-forum diskusi dengan masyarakat setempat dan bergaul dengan dunia yang digelutinya di tiap negara sehingga makin matang dalam pergaulan dunia internasional," ujar Suharti.

Para penulis ini akan melakukan residensi di negara tujuan mulai kurun waktu Juli-November 2017. Mereka bisa melakukan riset atau wawancara yang dibutuhkan untuk mendukung karyanya. Ada beberapa negara tujuan residensi, di antaranya Portugal, Jerman, Australia, Inggris, Ceko, Inggris, Vietnam, Perancis, Polandia, Italia, Belanda, Meksiko, AS, dan Finlandia.

Koordinator Literary Funding Program-Komite Buku Nasional Dewi Noviami menyatakan program Residensi Penulis sangat menunjang upaya perluasan jejaring dan promosi karya penulis Indonesia di tingkat dunia. Penulis juga bisa melakukan pertemuan dengan penerjemah untuk karyanya, selain melakukan riset dan menyelesaikan karya.

Salah satu peserta program Residensi 2016 Faisal Oddang menuturkan pengalamannya meneliti naskah La Galigo di Belanda. Ia mengaku program residensi telah membukakan jalan untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan bagi karyanya. "Selama di Belanda saya banyak membaca naskah-naskah tua dan bertemu dengan pakarnya langsung," ujar Faisal.

BERITA TERKAIT

Meningkatkan Daya Saing SDM Industri Dengan Program Vokasi

NERACA Kediri - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan lemahnya daya saing industri dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah Sumber Daya…

Walikota Sukabumi Terpilih Ekspos Program Quick Wins

Walikota Sukabumi Terpilih Ekspos Program Quick Wins  NERACA Sukabumi - Walikota Sukabumi M. Muraz terpilih untuk mengekspos program quick wins…

Saatnya Reformasi Program Bantuan Sosial - LAPORAN BANK DUNIA TERBARU

Jakarta-Bank Dunia dalam laporan terbarunya mengungkapkan, bahwa reformasi program bantuan sosial yang lebih baik dapat membantu mengurangi kemiskinan dan ketimpangan…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

UI Gagas Program Smart City

      Universitas Indonesia (UI) bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI serta USAID menggagas program Smart…

Menakar Pesantren Di Tengah Moderintas

      Menilai perkembangan pesantren dari dulu hingga sekarang merupakan perkara yang agak sulit. Sulit karena tidak ada satu…

Kontribusi Indonesia di UNESCO

    Kantor Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) di Paris,…