Ini Penyebab Perut Semakin Buncit Selama Ramadan

Selama bulan Ramadan, umat muslim menahan lapar dan haus saat berpuasa. Ketika momen sahur dan berbuka puasa banyak yang mengurangi porsi makanannya. Pengurangan porsi makan ini diharapkan membawa dampak positif bagi yang berpuasa, seperti tubuh lebih sehat, langsing hingga perut buncit yang mengempis. Namun entah mengapa pada kenyataannya, justru yang terjadi sebaliknya.

Lingkar perut semakin luas dengan bentuk yang semakin membuncit. Dimanakah letak kesalahan yang menyebabkan perut semakin buncit selama berpuasa?. Ini penjelasan pakar gizi, Jansen Ongko.

1. Kalap saat berbuka

Saat adzan Maghrib berkumandang, banyak orang yang terbawa suasana dan cenderung ‘balas dendam’. Alhasil makan dan minum menjadi kalap dan porsi yang biasanya disantap justru bertambah dengan pola asupan gizi yang tidak baik.

Dengan varian menu berbuka yang serba manis dan digoreng, ditunjang dengan rasa lapar dan haus yang sangat tinggi, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Hormon ghrelin akan mengirimkan sinyal ke otak agar segera makan banyak, namun kenyataannya penyerapan nutrisi berlangsung lama dan hormon ghrelin menurun dalam kecepatan lambat.

Kalori yang terkandung pun tidak dapat dihitung karena tubuh merasa lapar meskipun sudah makan banyak. Sedangkan kebutuhan kalori orang dewasa pada umumnya adalah sekitar dua ribu untuk pria dan 1,500 untuk wanita.

Solusinya menurut Jansen adalah tetap berbuka dengan yang manis tapi sehat. Yang dijual di pasaran biasanya lebih banyak yang tidak sehat. Manis yang sehat bisa dari buah potong, air kelapa hingga kurma alami tanpa pemanis.

2. Jeda makan

Untuk menyegarkan kembali tubuh yang telah seharian berpuasa, maka nutrisi harus diserap tubuh secara maksimal dengan cara bertahap. Antara protein, karbohidrat, serat dan lemak haruslah seimbang.

Jadi setelah berbuka dengan yang manis, jedalah waktu makan besar dengan rutinitas salat maghrib. Barulah dari situ dilanjutkan dengan makan besar seperti karbohidrat kompleks dari pilihan nasi merah, roti gandum, singkong, ubi, atau jagung.

Protein bisa didapat dari daging putih seperti ikan, ayam, cumi atau udang hingga daging merah atau tahu/tempe. Lemak sehat bisa didapatkan dari kacang-kacangan, keju, telur, hingga alpukat.

3. Camilan sehat

Setelah makan besar biasanya orang akan melanjutkan ibadah salat Isya dan Tarawih. Usai salat, terkadang perut masih terasa lapar dan ingin kembali makan sebelum tidur.Jarak antara makan dan tidur sebaiknya dua jam, dan sebaiknya hindari makan besar di waktu jelang larut malam. Selain mengganggu kualitas tidur, penyerapan nutrisi dari makanan kurang bekerja dengan baik oleh tubuh. Konsumsilah buah-buahan segar, yoghurt atau oatmeal hingga susu. Selain tidak membuat perut menjadi buncit, rasa lapar pun terobati.

4. Malas olahraga

Saat bulan puasa, banyak alasan untuk tidak berolahraga, seperti lemah, letih, dan lesu. Padahal sebenarnya aktivitas menggerakkan tubuh tetap penting agar pembakaran makanan hingga peredaran darah tetap lancar.

Menurut spesialis kedokteran olahraga, dr Michael Triangto, SpKO, olahraga tetap harus dilakukan di saat sedang berpuasa dengan intensitas ringan yang tidak mengakibatkan dehidrasi. Latihan di area perut juga penting untuk menjaganya tetap kencang selain ditunjang dengan gerakan kardiovaskular.

Bila aktivitas olahraga sebelum berbuka puasa sulit dilakukan, tidak ada salahnya untuk melakukannya di kantor. Seperti melakukan gerakan reverse crunch di kursi meja hingga squat di sela-sela rehat bekerja.

5. Sahur

Porsi hingga susunan menu makanan sahur dianjurkan Jansen Ongko agar sama seperti makan berat. Komposisi nutrisi yang lengkap seperti karbohidrat (nasi), lauk-pauk (daging, tahu/tempe), lemak dan serat (sayur dan buah-buahan) harus dijaga.Di saat sahur, justru ada beberapa makanan dan minuman yang perlu dihindari akan efeknya yang cepat mengenyangkan namun juga cepat lapar, seperti mie instan dan makanan kaleng yang juga tinggi komposisi bahan pengawet.

Related posts