Perusahaan Tambang dan "Ikan Salmon" Berulah

Bikin Panas Politik?

Senin, 09/01/2012

NERACA

Jakarta---Dugaan keterlibatan salah satu perusahaan tambang, PT SMN dalam kerusuhan Bima membuat gesekan Partai Golkar dan Demokrat makin keras. Bahkan Golkar juga dituding menjadikan isu Centuri sebagai barang dagangan politik. “Pendukung SBY itu besar, jauh lebih besar dari pendukung Ical. Jadi mereka mau menjual, kita borong semuanya sekalian,” kata Wakil Sekjen Partai Demokrat, Ramadhan Pohan kepada wartawan di Jakarta,8/1

Ramadhan menilai mengganggu SBY adalah bagian dari strategi Gollar. Maka bisa dipastikan strategi itu adalah strategi yang salah. Alasanya langkah mengoyang SBY justru akan kontraproduktif bagi Ical. “Masyarakat paham, Golkar bermuka dua. Kader-kader Golkar seperti Bambang Soesatyo terus merongrong SBY-Boediono dengan isu Century yang tidak jelas,” tegasnya.

Menurut Ramadhan, Partai Demokrat telah membuktikan pada rakyat tidak pernah mengintervensi hukum. “Kami telah membuktikan tidak pernah mengintervensi hukum, beda dengan Golkar yang begitu kena senggol hukum sedikit langsung lakukan intervensi dengan pernyataan mengintimidasi,” imbuhnya.

Lebih jauh kata mantan Wartawan ini meminta Ketua umum Partai Golkar, Aburiza Bakrie tidak menjual “Ikan Salmon”. Apalagi sampai mengembangbiakkannya karena tidak cocok untuk iklim di Indonesia. “Hubungan Ical-SBY bisa rusak oleh kader-kader yang seperti “Ikan Salmon”. Ical saya harap tidak memelihara Ikan Salmon apalagi mengembangbiakannya,”ujar Pohan.

Sementara itu Politisi Partai Demokrat, Sutan Bathoegana tetap menyebut Partai Golkar maupun PKS dengan sebutan "ikan salmon" singkatan “intelektual kagetan asal ngomong”. "Yang penting hajar SBY tak peduli apa isinya. Mereka tidak akan diam sebelum syahwat politiknya tersalurkan, sebelum orgasme politiknya tercapai," kata Sutan.

Sejak awal menurut Sutan, Partai Demokrat sudah menghimbau 2010-2012 adalah tahun kerja, tahun 2012 tahun politik, dan 2014 adalah tahun pertarungan. Namun kenyataannya, kata dia, SBY langsung diserang kasus "Cicak versus Buaya" setelah dilantik tahun 2009. "Selesai itu muncul Century. Ini politik semua. Karena mereka tidak legawa SBY, Demokrat menang. Mereka cari kesalahannya," kata anggota Komisi VII itu.

Sutan mengkritik sikap para politisi partai koalisi yang mempermasalahkan hasil audit forensik Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait aliran dana Century. Menurut dia, seharusnya mereka percaya terhadap hasil kerja BPK lantaran pimpinan BPK dipilih oleh DPR.

Sutan mempertanyakan sikap para anggota dewan yang diam terkait kasus besar lain, skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Lapindo, Rekening gendut PNS. "Kenapa semua diam? Hanya Century-Century saja. Padahal, Bank Century masih ada jadi Bank Mutiara. Ini tipikal "ikan salmon". Asal tampil beda. Tapi masyarakat tidak bodoh-bodoh amat,” ucapnya. **cahyo