Pemerintah Siap Tambah Utang Rp250 T

Tak Gubris Permintaan SBY

Senin, 09/01/2012

NERACA

Jakarta----Himbauan Presiden SBY agar mengurangi utang tak mendapat respon anak buahnya. Apalagi Silpa 2011 mencapai Rp39 triliun. Anehnya, pemerintah berencana menambah utang baru pada 2012. Alasanya utang Indonesia yang mencapai Rp1.800 triliun masih kecil tergolong kecil. “Tidak masalah (utang), kan dilihat sustanibility fiskal itu debt to GDP ratio, utang akan semakin rendah bila pendapatan negara besar, pendapatan nasional," kata Dirjen Pengelolaan Utang (DJPU) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Rahmat Waluyanto kepada wartawan di Jakarta.

Menurut Rahmat, salah satu yang mendorong utang adalah karena debt to GDP ratio Indonesia semakin rendah. Makanya pendapatan negara menjadi semakin besar. Yang jelas penambahan utang demi mendongkrak pertumbuhan. “Kan nantinya penggunaan utang bisa semakin efisien untuk membiayai kegiatan. Bisa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

Lebih jauh kata Rahmat, hingga 2014 nanti, pemerintah menargetkan adanya penurunan debt to GDP ratio hingga 22%. Sementara saat ini debt to GDP ratio masih berada di angka 24%. "Yang penting nilai tukar jangan melemah, harus dijaga. Karena kalau melemah maka utang membesar 45% utang kita kan valas, dolar Amerika Serikat (AS), yen, euro,” terangnya

Meski demikian, Rahmat menilai utang sebesar Rp1.800 triliun telah mengecil. Karena itu dalam utang yang penting adalah bagaimana mengelola utang itu dengan hati-hati dan prudent. "Dalam utang itu kita tidak tau kan, pasar dinamis tidak bisa diprediksi. Yang penting mengelola utang dengan hati-hati,” paparnya.

Rahmat yakin status investment grade yang diraih pemerintah makin membuat optimistis mendapatkan tambahan utang sebesar Rp250 triliun pada 2012. Penambahan utang sebesar itu akan diperoleh melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), Sukuk, Syariah, dan termasuk samurai bond. "Tentunya (invesment grade) kita harapkan yield bisa semakin efisien, kemudian demand tinggi dan kita melihat situasi Eropa yang tidak banyak ketidakpastian di mana recover suku bunga imbal hasil rendah dalam jumlah besar," tuturnya

Dikatakan Rahmat, rencana penambahan utang ini bisa saja dibatalkan, melihat penyerapan anggaran kementerian lembaga pada 2012 apakah bisa mencapai target atau tidak. "Kita lihat, membatalkan pinjaman luar negeri, membatalkan lelang SUN, kita bisa membatalkan kalau penyerapan. Kalau kita penyerapannya tidak banyak kita bisa batalkan," imbuhnya

Sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengakui ada dana sekitar Rp39,2 triliun tak terpakai, alias menganggur “Dalam pelaksanaan APBN-P 2011 terdapat sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) yang mencapai Rp 39,2 triliun,” ujarnya

Menurut Agus, dana menganggur ini didapat karena pemerintah menyerap pembiayaan anggaran senilai Rp 129,3 triliun di 2011 dari utang dan sebagainya. Sementara realisasi defisit anggaran hanya Rp 90,1 triliun. Ini yang menyebabkan munculnya anggaran sisa tersebut.

Mantan Dirut Bank Mandiri ini menambahkan adanya alokasi dana mitigasi krisis APBN 2012, yaitu dana cadangan risiko fiskal sebesar Rp 15,8 triliun. Kemudian ada juga anggaran bantuan sosial Rp 47,8 triliun. **cahyo