Kinerja Indeks Saham Rawan "Ujian" 3 Bulan ke Depan

KEGAGALAN OBLIGASI PERANCIS PENGARUHI IHSG

Jumat, 06/01/2012

NERACA

Jakarta – Klaim pemerintah bila prestasi kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terbaik kedua di Asia Pasifik setelah negara Filipina, sepertinya hanya berlangsung sesaat. Pasalnya, setelah di uji dalam sepekan ini ternyata pergerakan volatile indeks semakin deras di tengah ancaman krisis ekonomi Eropa.

Menurut pengamat pasar modal, Budi Frensidy, koreksi indeks yang malu-malu ini disebabkan karena penjualan surat utang (obligasi) pemerintah Perancis kurang diminati para investor.”Tidak hanya IHSG, tetapi bursa saham Asia juga ikut melemah seiring kekhawatiran akan kemampuan zona euro untuk membiayai kembali (refinancing) utang mereka,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Kamis (5/1).

Dia menyampaikan, awan sentimen krisis Eropa masih menempel. Tidak hanya itu, saham perbankan juga dipandang sebagai yang paling sensitif karena eksposur mereka terhadap utang zona euro merosot. Ditambah lagi, larangan impor minyak mentah Iran terkait sanksi program nuklir, tentu, mengancam harga minyak dunia.

Kemudian, terkait rencana pemerintah untuk melakukan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) Bersubsidi atau Premium pada April 2012 mendatang, dia menilai pemerintah seharusnya menaikkan menjadi Rp 500 per liter. Sementara bagi angkutan umum dialihkan ke bahan bakar gas (BBG).

Namun dia menambahkan, efek dari pembatasan BBM ini sangat kecil pengaruhnya ke IHSG. Terkecuali, jika inflasi meningkat double digit. “Pembatasan atau kenaikan BBM pasti berkaitan dengan inflasi. Jika double digit dan perekonomian Eropa masih sakit, saya kira indeks berada di level 3.800-4.000 atau di bawah 5%. Tapi tetap, sentiment Eropa masih dominan,” ungkapnya.

Secara terpisah, lektor kepala FE Univ. Pancasila Dr. Agus S. Irfani mengatakan ketidakmampuan IHSG mempertahankan penguatan akibat pembelian atas saham-saham di bursa sudah terlalu banyak (overbought). Dia menilai, sentimen positif turunnya tingkat inflasi dan adanya kecenderungan aksi beli terkait dengan fenomena January Effect tidak berdaya lagi untuk mendongkrak IHSG menjelang akhir pekan pertama Januari 2012.“Meski begitu, saya masih optimis indeks akan menembus angka 4.000 di akhir pekan kedua bulan ini,” ujarnya kemarin.

Indeks sektoral di lantai bursa pun berguguran akibat aksi profit taking tersebut, pasalnya, ambil untung terjadi di saham-saham unggulan berkapitalisasi besar. Meksi ada aksi borong saham menjelang penutupan, IHSG gagal kembali ke posisi positif.

Tahan Obligasi

Mengenai langkah pemerintah untuk mendorong perusahaan BUMN segera melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) tahun ini, Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika menegaskan bahwa dirinya kurang setuju dan bukan cara yang terbaik dalam mencari dana. Pasalnya, menurut dia, kepemilikan mayoritas saham pemerintah dikhawatirkan berkurang, terutama jika saham yang dijual ke publik merupakan perusahaan BUMN strategis.

“Pemerintah cukup mengeluarkan obligasi saja. Buat apa jual (perusahaan) BUMN. Memang benar, dengan BUMN IPO akan mendongkrak kapitalisasi pasar modal. Tapi harus diingat juga, ini semata-mata untuk kepentingan nasional bukan kelompok. Terutama mengenai berkurangnya kepemilikan saham mayoritas pemerintah. Saya harap, hal ini harus disikapi dengan bijak dan hati-hati,” ujarnya kemarin.

Berdasarkan data yang dihimpun Neraca, saham-saham yang yang menjadi andalan dan dapat dijadikan investasi jangka panjang di 2012 adalah sektor telekomunikasi, perbankan, farmasi, consumer goods, infrastruktur, dan properti.

Ke-6 sektor ini memiliki kinerja cukup bagus, tidak terlalu terpengaruh oleh krisis, seandainya, krisis global semakin parah, serta yang paling penting, berfundamental yang kuat. Selain itu, dukungan perekonomian Indonesia yang masih akan tumbuh positif, menjadi salah satu katalis utama penguatan IHSG tahun ini.

Adapun saham-saham andalan tersebut antara lain PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Telkom Tbk (TLKM). Kemudian, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Indofarma Tbk (INAF), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), serta PT BNI Tbk (BBNI).

Kemudian IHSG Kamis kemarin ditutup turun tipis 1,157 poin (0,03%) ke level 3.906,264. Sementara Indeks LQ 45 menguat tipis 0,154 poin (0,02%) ke level 691,688. Anehnya, penurunan IHSG ini akibat aksi ambil untung (profit taking) investor lokal terjadi setelah IHSG menguat dalam dua perdagangan terakhir.

Sementara investor asing terus mengalirkan dananya ke pasar modal, yang hingga penutupan, transaksi asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 567,087 miliar di seluruh pasar. Sedangkan sektor yang memimpin pelemahan IHSG yakni sektor keuangan yang turun 0,59%, sektor pertanian turun 0,48%, dan sektor pertambangan yang juga turun 0,47%.

Sebanyak 99 saham naik, 105 saham stagnan, dan 138 saham turun. Nilai transaksi perdagangan tercatat sebesar Rp 3,215 triliun, dengan volume 3.455.370.500. Saham-saham yang sukses mencetak laba antara lain PT Perdana Karya Perkasa (PKPK) yang naik 29,03% menjadi Rp 240 per lembar saham dan PT Bank Artha Graha (INPC) naik 21,57% menjadi Rp 124 per lembar. bani/ardi