Selat Hormuz dan Ekonomi Indonesia

Oleh : Agus Eko Cahyono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Ekonomi Indonesia rentan terhadap kenaikan harga minyak, baik dari sisi fiskal maupun dari sisi makro ekonomi, terkait gejolak harga minyak dunia yang terjadi di awal 2012 ini. Karena itu pemerintah perlu dan harus berhati-hati menghadapi 2012. Apalagi risiko eksternal bukan hanya berasal dari penurunan ekspor akibat pelemahan daya beli Eropa. Tapi juga dari risiko kenaikan harga minyak akibat ketegangan Iran dan Amerika yang semakin memuncak

Kenaikan harga minyak yang drastis akan memukul APBN, karena melonjaknya beban subsidi energi. Selain itu, inflasi akan meningkat karena mobil pribadi tidak akan lagi dapat subsidi. Jadi, inflasi yang kemarin dibanggakan terendah di Asia Pasifik itu artifisial, karena didukung oleh subsidi energi ratusan triliun rupiah. Intinya, jangan terlena, karena rentan oleh kenaikan harga minyak.

Sebenarnya salah satu risiko eksternal adalah harga minyak tidak dapat dikendalikan. Jika ini terjadi, maka yang bisa dilakukan hanyalah memastikan agar lifting minyak mencapai target dan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi dapat dilakukan dengan disiplin. Sehingga dampak kenaikan harga minyak terhadap APBN dan inflasi dapat diminimalisir. Lifting kemarin hanya 898 ribu barel per hari, sangat jauh dari target.

Pemerintah harus kerja keras untuk tahun ini. Apalagi harga minyak mentah Indonesia (ICP) masih berada di kisaran US$110, jauh di atas asumsi APBN 2012 yang hanya US$90 per barel.

Tentu saja Indonesia sangat mengkhawatirkan memanasnya Timur Tengah, gara-gara AS mengancam menyerang Iran. Bahkan Iran membalas siap menutup Selat Hormuz. Padahal Selat Hormuz sangat strategis, dan satu-satunya jalur perairan delapan negara di kawasan Teluk Persia atau Arab. Antara lain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kesultanan Oman, Kuwait, Irak, dan Iran.

Hampir setiap 10 menit satu kapal tanker melewati selat tersebut. Sekitar 40% impor minyak dunia melewati selat itu, dan sekitar 90% ekspor minyak negara-negara Arab teluk, Irak, dan Iran melalui jalur Selat Hormuz. Menurut kajian sebuah lembaga energi di AS, diprediksi volume ekspor minyak yang melalui Selat Hormuz bisa mencapai 35 juta barrel setiap hari pada tahun 2020.

Ancaman Iran tak boleh dipandang remeh. Karena penutupan Selat Hormuz akan berdampak pada perekonomian dunia. Masalahnya, kapal tanker minyak yang akan melewati Selat Hormuz harus menunggu beberapa hari untuk bisa melintasi selat tersebut. Kapal-kapal pengangkut minyak mentah itu harus menunggu kepastian melewati selat itu bebas ranjau . Padahal, dalam keadaan normal saja puluhan kapal tanker harus melewati Selat Hormuz.

BERITA TERKAIT

Sentry Safe Hadirkan Brankas dengan Proteksi terhadap Kebakaran dan Banjir

  NERACA Jakarta – Brankas biasanya digunakan untuk menyimpan dokumen-dokumen penting ataupun barang-barang berharga. Oleh karena itu Sentry Safe mengeluarkan…

Dua Tantangan Perpajakan Di Era Ekonomi Digital

    NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan mengungkapkan terdapat dua tantangan utama yang harus dihadapi Direktorat…

Indonesia Perlu Pertajam Strategi Diplomasi Ekonomi

  NERACA Jakarta - Kepala Departemen Ekonomi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, meyakini strategi…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Tantangan Dihadapi Masih Besar

  Oleh: Tauhid Ahmad Direktur Eksekutif INDEF Indef telah melakukan penelitan-penelitian termasuk dampak perang dagang. Perhitungan indef terhadap dampak perang…

Manajemen Risiko Utang dan Investasi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Utang yang terus menumpuk pada pemerintahan…

Kanalisasi Paradoks Sektor Riil

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Presiden tampaknya sangat risau dengan persoalan defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi…