Indonesia Jangan Jadi Korban Minyak

Presiden Ingatkan Soal Iran

Jumat, 06/01/2012

NERACA

Jakarta---- Memanaskan politik di Kawasan Timur Tengah terkait rencana serangan Inggris dan AS terhadap Iran membuat harga minyak diprediksi merekot. Hal ini tentu akan berdampak pada perekonomian Indonesia. "Kalau terjadi sesuatu di Selat Hormuz maka akan terjadi gejolak luar biasa pada minyak bumi," kata Presiden SBY kepada wartawan di Jakarta,5/1

Menurut Presiden SBY, sekarang saat terjadi benturan militer di wilayah tersebut, harga minyak dunia langsung terdongkrak naik, meskipun tidak ada perubahan di sisi pasokan dan permintaan. "Jadi dunia betul-betul khawatir kalau ada gangguan pasokan. Kalau ini terus berlanjut maka akan merugikan dunia,” tambahnya.

Lebih jauh Kepala Negara, terjadinya perang di Timur Tengah member keuntungan terhadap Negara-negara produsen minyak. Namun berdampak negative bagi negara pengimpor. “Mungkin kalau harga melonjak yang akan diuntungkan oleh negara-negara yang produksi minyak.,” terangnya

Dikatakan SBY, hari ini dirinya mengirimkan surat kepada Sekjen PBB agar mengambil langkah-langkah semestinya sehingga bisa mencegah terjadinya gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. "Ini semata-mata untuk perekonomian dunia, termasuk Indonesia sendiri,” jelasnya

Yang jelas, kata Presiden, sebaiknya lembaga IAEA berusaha mencari solusi dan mendahulukan dialog. . Sehingga suplai minyak dunia tak terganggu. "Indonesia berpendapat seharusnya PBB dan juga international atomic agency itu bisa memerankan peran yang bisa mencari solusi yang paling baik,”tuturnya

Ditempat terpisah, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengakui besarnya dana yang mesti ditomboki pemerintah guna mengeluarkan anggaran subsidi. Pada 2011 saja realisasi anggaran subsidi yang dikeluarkan pemerintah mencapai Rp 294,9 triliun, jauh lebih tinggi dari realisasi 2010 Rp 192,7 triliun. "Hal ini berkaitan dengan lebih tingginya beban subsidi listrik dan subsidi BBM serta pangan," katanya

Menurut Agus, realisasi subsidi di 2011 ini mencapai 124,3% dari target yang telah ditetapkan dalam APBN-P 2011 yang sebesar Rp 237,2 triliun. Bengkaknya anggaran subsidi ini juga disebabkan tingginya realisasi harga minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) yang mencapai US$ 111,6 per barel dibandingkan dengan asumsi APBN-P US$ 95 per barel.

Lebih jauh secara total Agus memaparkan dalam tahun 2011 realisasi belanja pemerintah pusat mencapai Rp 878,3 triliun atau secara nominal naik sebesar Rp 181 triliun (25,9%) dari realisasi 2010 yang sebesar Rp 697,4 triliun. **cahyo