Indonesia Jangan Jadi Korban Minyak - Presiden Ingatkan Soal Iran

NERACA

Jakarta---- Memanaskan politik di Kawasan Timur Tengah terkait rencana serangan Inggris dan AS terhadap Iran membuat harga minyak diprediksi merekot. Hal ini tentu akan berdampak pada perekonomian Indonesia. "Kalau terjadi sesuatu di Selat Hormuz maka akan terjadi gejolak luar biasa pada minyak bumi," kata Presiden SBY kepada wartawan di Jakarta,5/1

Menurut Presiden SBY, sekarang saat terjadi benturan militer di wilayah tersebut, harga minyak dunia langsung terdongkrak naik, meskipun tidak ada perubahan di sisi pasokan dan permintaan. "Jadi dunia betul-betul khawatir kalau ada gangguan pasokan. Kalau ini terus berlanjut maka akan merugikan dunia,” tambahnya.

Lebih jauh Kepala Negara, terjadinya perang di Timur Tengah member keuntungan terhadap Negara-negara produsen minyak. Namun berdampak negative bagi negara pengimpor. “Mungkin kalau harga melonjak yang akan diuntungkan oleh negara-negara yang produksi minyak.,” terangnya

Dikatakan SBY, hari ini dirinya mengirimkan surat kepada Sekjen PBB agar mengambil langkah-langkah semestinya sehingga bisa mencegah terjadinya gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. "Ini semata-mata untuk perekonomian dunia, termasuk Indonesia sendiri,” jelasnya

Yang jelas, kata Presiden, sebaiknya lembaga IAEA berusaha mencari solusi dan mendahulukan dialog. . Sehingga suplai minyak dunia tak terganggu. "Indonesia berpendapat seharusnya PBB dan juga international atomic agency itu bisa memerankan peran yang bisa mencari solusi yang paling baik,”tuturnya

Ditempat terpisah, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengakui besarnya dana yang mesti ditomboki pemerintah guna mengeluarkan anggaran subsidi. Pada 2011 saja realisasi anggaran subsidi yang dikeluarkan pemerintah mencapai Rp 294,9 triliun, jauh lebih tinggi dari realisasi 2010 Rp 192,7 triliun. "Hal ini berkaitan dengan lebih tingginya beban subsidi listrik dan subsidi BBM serta pangan," katanya

Menurut Agus, realisasi subsidi di 2011 ini mencapai 124,3% dari target yang telah ditetapkan dalam APBN-P 2011 yang sebesar Rp 237,2 triliun. Bengkaknya anggaran subsidi ini juga disebabkan tingginya realisasi harga minyak Indonesia (Indonesia crude price/ICP) yang mencapai US$ 111,6 per barel dibandingkan dengan asumsi APBN-P US$ 95 per barel.

Lebih jauh secara total Agus memaparkan dalam tahun 2011 realisasi belanja pemerintah pusat mencapai Rp 878,3 triliun atau secara nominal naik sebesar Rp 181 triliun (25,9%) dari realisasi 2010 yang sebesar Rp 697,4 triliun. **cahyo

BERITA TERKAIT

Indonesia-Papua Nugini Bermitra Awasi Peredaran Produk Ilegal

Indonesia-Papua Nugini Bermitra Awasi Peredaran Produk Ilegal NERACA Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjalin kemitraan dengan otoritas…

Peluang Mata Uang Digital Libra Di Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta - Ketua Indonesia Blockchain Society, Ery Punta H, menjelaskan mata uang digital (cryptocurrency) "Libra" besutan Facebook memiliki peluang untuk digunakan…

Peduli Lingkungan Hidup Sedunia - 3M Indonesia Donasi Pendidikan dari Limbah Kertas

Masih dalam rangka memperingati hari likungan hidup sedunia pada tanggal 5 Juni, menjadi renungan bagi bangsa ini untuk lebih meningkatkan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Dominasi Impor Barang China Penuhi Pasar Domestik

      NERACA   Jakarta – Ketergantungan akan barang China tak bisa dianggap enteng. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat…

GrabFood Bagikan Paket Ke 500 Pasukan Oranye - Ikut Rayakan HUT Jakarta

      NERACA   Jakarta - GrabFood ikut merayakan hari ulang tahun DKI Jakarta ke-492 bersama petugas Pemeliharaan Prasana…

Amran Sulaiman Dianggap Sukses Duduki Kursi Menteri Pertanian

NERACA   Jakarta – Jika tak ada aral melintang, calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) akan kembali memimpin Indonesia. Jokowi…