Spirit Social Entrepreneur

Nenny Soemawinata, Managing Director Putra Sampoerna Foundation

Sabtu, 07/01/2012

Puluhan tahun sudah Nenny Soemawinata mengarungi jagat bisnis. Mulai dari bisnis perhotelan, periklanan, teknologi informasi, hingga media, sempat dijajal wanita energik ini. Bahkan Nenny sempat menduduki top manajemen sejumlah stasiun TV, seperti RCTI, ANTV, dan O-Channel. Tetapi akhirnya, lulusan Computer Programming, Auckland Technical Institute, Selandia Baru ini memilih dunia sosial pada ujung perjalanan karir cemerlangnya tersebut.

Sejak dua tahun lalu, Nenny menerima tawaran memimpin Putera Sampoerna Foundation (PSF), sebuah lembaga yang mempunya visi sosial untuk menciptakan pemimpin bangsa melalui jalur pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan kewirausahaan. Namun berbeda dengan lembaga sosial lain, wanita kelahiran India, 31 Januari 1954 ini mengelola PSF dengan pendekatan bisnis atau diistilahkan sebagai ‘bisnis sosial’. “Tujuannya agar program-program sosial PSF bisa berkelanjutan, tidak tergantung pada dana donatur, dan mandiri, seperti perusahaan pada umumnya,” ungkap ibu dua anak ini.

Ditanya masalah bisnis sosial dirinya mengatakan bahwa, social business adalah suatu aktivitas yang tujuan utamanya untuk sosial yang dikelola dengan pendekatan bisnis. Jadi semua kegiatan bisnis yang ada dalam perusahaan tersebut bermuara pada satu tujuan yakni kegiatan sosial. Oleh karena itu, semua dana yang diperoleh akan digunakan untuk kepentingan sosial wajib dikelola dengan memperhatikan aspek keberlanjutan tersebut. Ini beda jika murni sosial. Misalnya filantropi, kadang tidak ada kelanjutannya. Ketika dananya habis kegiatan tersebut juga akan berhenti.

Dia juga memberikan contoh bahwa seorang pendiri Microsoft, Bill Gates juga memberikan bantuan kemanusiaan miliaran dollar ke seluruh dunia. Tetapi yang perlu kita tahu, tidak semua dana sosial Bill Gates tidak hanya berasal dari dirinya sendiri. Ada kontribusi dari berbagai kalangan, seperti Warren Baffett (pendiri perusahaan investasi Berkshire Hathaway dan salah satu orang terkaya di dunia –red). Makanya Bill Gates bisa memberi bantuan hingga miliaran dollar AS.

Namun kalau hanya berharap dari funding tentu tidak akan berkelanjutan. Maka kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Awalnya boleh saja dapat dana dari funding, tetapi selanjutnya harus bisa mandiri. Bagaimana pun kalau ingin program-program sosial tetap berjalan, kita tidak bisa mengandalkan dana sendiri, tapi tidak bisa juga mengharapkan dana CSR (corporate social responsibility) dari perusahaan karena bisnis juga mengalami pasang surut yang akan berpengaruh pada besaran dana CSR.

Sedangkan Putra Sampoerna Foundation (PSF) mengaplikasikan prinsip-prinsip bisnis dalam aktivitas sosialnya seperti mulai dari tujuan sosialnya, baru kemudian mencari bisnis yang di arahkan untuk mendukung kegiatan sosial tersebut. Kemudian kami berusaha merealisasikan target-target sosial yang menjadi tujuan utama PSF dengan pendekatan manajemen bisnis. Tujuannya untuk menjamin keberlanjutan semua program-program sosial PSF.

Menurut Nenny, salah satu caranya adalah memiliki bisnis-bisnis unit yang berada di bawah Sampoerna Foundation. Misalnya, kita punya unit bisnis Acces Education Beyond yang hasilnya bisa kita gunakan untuk membantu pendidikan. Kemudian unit bisnis yang kami sebut ‘Mekar’ di mana tugasnya mencari investor yang bersedia membiayai dan membantu memperdayakan perempuan. Selain itu, di PSF tidak ada voluntary melainkan karyawan. Kenapa? Karena kita punya target tertentu. Kalau relawan mana mungkin kita bisa menetapkan target tertentu.

Di PSF, juga punya unit bisnis yang banyak sekali. Kemudian mem-brand produk-produk PSF seperti di unit bisnis pada umumnya. Kita pakai semua ilmu-ilmu bisnis, marketing, keuangan. Cuma semua itu kita gunakan untuk tujuan sosial. Jadi, prinsip-prinsip usahanya masih seperti prinsip bisnis tetapi tujuannya untuk sosial.

Sedangkan visi PSF adalah creating leader future. Kita menargetkan untuk mencetak 1.000 leader tiap tahun. Ini visi sosial. Namun visi ini akan tercapai kalau ada kesinambungan dari kegiatan yang sudah kita rancang secara holistik. Untuk itu dalam membangun bisnis sosialnya, PSF memiliki empat pilar, yakni pendidikan, pemberdayaan perempuan, entrepreneurship, compassionate relief.

”Sebelum Pak Putera Sampoerna (pengusaha dan pendiri Sampoerna Group - red) mendirikan PSF, beliau melakukan riset, bidang sosial apa yang paling kita butuhkan. Hasilnya adalah pendidikan. Selain itu, beliau memang sudah lama konsen dengan pendidikan. Bahkan saat masih aktif sebagai pebisnis, beliau sangat memperhatikan pendidikan para eksekutifnya, ” ungkap Nenny.

Salah satu bentuk perhatian penuh beliau pada PSF, misalnya, untuk mencari pendanaan bagi Sampoerna Academi di Bogor. Beliau samapi rela pergi ke Amerika Serikat, ke World Bank, dan United State Secretary, khusus untuk meminta bantuan bagi PSF.