Tahun 2012, Tantangan Di Depan Mata

Oleh : Noor Yanto (wartawan HE Neraca)

Baru beberapa hari yang lalu, kita masih berpesta menyambut kedatangan tahun baru 2012. Ribuan kembang api dinyalakan, seakan-akan membuat malam hari seperti siang hari karena saking terangnya. Pesta-pesta diadakan, baik dari kalangan bawah dan menengah yang cukup menikmati ikan bakar di lingkungan rumah masing-masing. Hingga pesta kelas jetset di hotel-hotel mewah dengan tiket hingga puluhan juta rupiah.

Namun, semuanya segera berlalu. Saatnya kini kita ‘cuci piring’ setelah berpesta, kembali bekerja banting tulang menghadapi tantangan yang ada di depan mata. Lepas dari data-data bagus yang diterbitkan di berbagai media, situasi ekonomi Indonesia tetap memprihatinkan. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin besar. Putaran uang hanya terfokus di kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Sementara mayoritas penduduk tidak mendapatkan akses terhadap putaran uang raksasa tersebut.

Banyak pengusaha kecil kesulitan bersaing dengan para pemilik modal besar. Mereka juga kesulitan bersaing dengan produk-produk asing yang membanjiri pasar Indonesia. Lulusan perguruan tinggi diminta untuk berwiraswasta di dalam situasi yang mencekik mereka. Padahal slogan pendidikan kewirausahaan, seringkali hanya menjadi topeng untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah memberikan lapangan kerja yang memadai untuk rakyatnya.

Untuk kita ketahui, tahun baru juga melahirkan masalah dan tantangan-tantangan baru yang perlu untuk ditanggapi secara tepat dan jernih. Tantangan dan masalah baru tidak bisa ditanggap dengan kerangka berpikir dan tindakan-tindakan lama. Oleh karena itu, tahun baru juga berarti keberanian untuk melihat dunia dengan cara baru, yakni cara yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan. Tanpa keberanian semacam itu, tahun baru hanyalah merupakan tahun lama yang mengganti nama, namun tanpa mengubah substansi di dalamnya.

Hanya saja, kita tetap harus yakin tahun baru menjanjikan harapan akan perubahan ke arah yang lebih baik. Jamak ditemukan orang yang membuat janji untuk melenyapkan kebiasaan jeleknya di masa lalu. Hal yang sama sebenarnya berlaku untuk sebuah bangsa. Tahun baru adalah momen untuk menyatakan dan menegaskan komitmen untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Tanpa pernyataan, ketegasan, dan tindakan konkret untuk mewujudkan harapan serta menggulirkan perubahan, perayaan tahun akan kehilangan maknanya, dan menjadi ritual semua yang miskin substansi.

Pertanyaannya adalah : Bagaimana dengan Anda? Siapkah menghadapi tantangan di depan mata?

BERITA TERKAIT

Persoalan Muamalat di Mata KSSK, Sistemik atau Tidak?

Oleh: Rezkiana Nisaputra Bank Indonesia (BI) menilai, persoalan Muamalat (PT Bank Muamalat Indonesia) terkait dengan kinerja keuangannya mulai dari masalah…

Revitalisasi Citarum Butuh 7 Tahun

    NERACA   Bandung - Presiden Joko Widodo memperkirakan revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dapat diselesaikan dalam waktu…

Tahun Ini, CSAP Buka Dua Gerai Mitra 10

NERACA Jakarta –Genjot pertumbuhan penjualan, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) masih agresif perluas penetrasi pasar dengan membuka gerai Mitra…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Duh, Biro Umroh (Lagi)

Biro Jasa travel umroh kembali tercoreng, setelah kasus kemarin First Travel tidak bisa memberangkatkan kurang kebih 50.000 hingga 60.000 korban.…

Penyelenggara Umroh/Haji Perlu Didaftar Ulang

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta Perhimpunan Asosiasi Travel Umrah dan Haji Khusus (PATUH) ikut serta mengawasi biro perjalanan yang…

Wapadai Penipuan Jamaah “Berskema Ponzi”

Ketua Bidang Organisasi, Keanggotaan & Kelembagaan DPP Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Bungsu Sumawijaya menyatakan, kasus…