Prediksi Perekonomian Indonesia 2012

Sabtu, 07/01/2012

Perekonomian Indonesia pada 2012 masih dibayangi ketidakpastian global, terutama yang bersumber dari masalah utang dan defisit anggaran negara-negara di Uni Eropa.

Seperti apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2012? Pertanyaan utama yang diajukan oleh banyak orang, dan pengamat mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh antara 4- 6 %, meskipun saat ini ekonomi secara global diliputi dengan ketidakpastian. Bahkan Benua Eropa dan Amerika saat ini sedang dihantam krisis ekonomi. Prediksi Ekonomi Indonesia di level optimis diperkirakan tumbuh 6 % sedangkan untuk level pesimis diperkirakan hanya tumbuh 4%.

Meskipun pada kenyataannya masih banyak kesenjangan ekonomi di masyarakat Indonesia, terutama pertumbuhan ekonomi di satu daerah dengan daerah lain sangat timpang, belum lagi tidak meratanya kesejahteraan ekonomi di setiap penduduk Indonesia. Namun, di tengah perlambatan ekonomi global itu, analis ekonomi PT Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, optimistis pertumbuhan ekonomi akan tetap pada level 6,7 persen pada 2012.

"Prediksi kami, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,7 persen, inflasi 4,9-5,5 persen, tapi bukan karena ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), melainkan hanya pembatasan BBM," kata Lana dalam diskusi media Economic Outlook 2012, di Jakarta akhir tahun lalu.

Lana juga memprediksi nilai tukar rupiah pada 2012 akan berada pada level Rp8.900-9.150 per dolar Amerika Serikat. Sementara itu, tingkat suku bunga acuan atau BI Rate berada di level 6 hingga 6,5 persen seiring kenaikan inflasi. "Target di atas enam persen masih sangat mungkin, IMF saja menganggap 6,3 persen, meskipun turun sedikit dari 6,5 persen," ungkapnya.

Dia mengakui, pertumbuhan ekonomi Indonesia versi skenario Bank Dunia hanya berada pada level optimistis antara 6 sampai 6,3 persen. Sementara itu, pada level moderat berada di posisi 5,5 sampai 5,9 persen. Untuk level pesimistis, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 hanya berada di level 4,5 sampai 5,5 persen.

"Ekonomi dunia masih diperkirakan tumbuh sekitar empat persen, perlambatannya kecil dan tidak seburuk 2009," kata Lana. Dia menjelaskan, tantangan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 masih bersumber dari kondisi ekonomi global. Namun, di tengah gejolak tersebut, ekonomi dunia masih memberikan kabar positif. Faktor positif tersebut di antaranya perbaikan ekonomi AS, yaitu berkurangnya risiko ekonomi akibat pelaksanaan pemilihan presiden AS pada November 2012.

Hal lain adalah, suntikan modal Bank Sentral Uni Eropa pada tahap I senilai 489 miliar euro. Sementara itu, suntikan modal tahap II akan dilakukan pada Februari 2012 dengan total dana mencapai satu triliun euro. "Portfolio rebalancing dari UE ke pasar Asia termasuk Indonesia, kami perkirakan pada kuartal pertama 2012," kata dia. "Intra trade Asia yang kuat, lebih besar dari perdagangan Indonesia-AS, Indonesia-UE, dan lainnya. Sementara itu, dari sisi negatif ekonomi global, Lana mengungkapkan, masih ada potensi ketidakstabilan nilai tukar euro yang cenderung menuju bubarnya mata uang tunggal tersebut. Hal itu bisa ditandai dengan permintaan dolar AS yang semakin meningkat.

Kawasan Eropa juga masih dihantui dengan adanya potensi resesi, karena kebijakan fiskal yang sangat ketat. "Utang jatuh tempo 2012 di UE mencapai 776 miliar euro, Roubini (ekonom AS, Nouriel Roubini) pernah bilang, hati-hati dengan ekonomi China, dan adanya konflik Iran versus AS-Israel membuat harga minyak mentah dunia sulit turun," kata Lana.

Tak hanya dari luar negeri, Indonesia harus menghadapi kemungkinan tantangan ekonomi domestik yang harus dikelola secara baik. Tantanggan tersebut di antaranya pasar domestik yang kuat dengan dukungan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa. Demografi penduduk Indonesia juga dianggap memiliki struktur yang baik dengan stabilitas politik dianggap menguntungkan.

"Di saat yang sama, struktur PDB itu dominan dari dalam negeri. PDB kita 70 persen dikuasai sektor domestik," kata dia. Untuk kegiatan ekspor, Indonesia dengan basis produk komoditas masih cukup diuntungkan. Alasannya, produk komoditas Indonesia bersifat inelastik atau tidak bisa digantikan oleh yang lainnya. "Ekspor manufaktur akan kena dampak, tapi untuk komoditas akan kuat," kata dia.

Dari sisi fiskal dan moneter, Indonesia juga dinilai telah melakukan koordinasi dengan cukup baik. Namun, dia mengingatkan perlunya perbaikan serapan anggaran dan efisiensi fiskal terutama yang terkait dengan proyek infrastruktur.

Prediksi LIPI

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2012 hanya 6,3%, jauh lebih kecil dibandingkan dengan target pemerintah sebesar 6,7%. Penurunan pertumbuhan ekspor ditengarai menjadi pemicu perlambatan.

Zamroni, Peneliti P2 Ekonomi-LIPI, menyebutkan tingkat impor China ke Indonesia masih akan stabil jika tak terjadi guncangan ekonomi yang besar. India masih akan memberi kontribusi terbesar terhadap neraca perdagangan hingga US$7 miliar.“Ekspor Indonesia akan surplus hanya sekitar US$15 miliar, lebih rendah dari target pemerintah yang US$18 miliar,” ujarnya.

Berdasarkan penelitian, krisis global akan berdampak pada sektor perdagangan paling tidak dalam kurun waktu 6 bulan ke depan. Tekanan akan terjadi baik pada sisi permintaan ataupun suplai, melesunya pembiayaan perdagangan (trade finance), rapuhnya integrasi vertikal, dan guncangan di pasar modal internasional yang akan memengaruhi perdagangan dunia.

Zamroni menyebutkan ekspor Indonesia akan mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,698%, jika pertumbuhan ekonomi dunia turun 1% pada 2012. Dengan alur yang sama, ekspor Indonesia juga akan mengalami kontraksi jika negara mitra dagang utama, seperti Eropa, China, Jepang, dan AS mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi.

Ekspor Indonesia akan mengalami penurunan sebesar 1,037% jika negara di Eropa mengalami penurunan ekonomi 1%. Ekspor akan menurun 0,567%, 0,987%, dan 1,148% jika pertumbuhan ekonomi China, Jepang, dan AS masing-masing melambat 1%. Untuk mengompensasi penurunan ekspor, dia menjelaskan pemerintah harus berupaya melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor, memperkuat konsumsi dan perdagangan domestik dengan meningkatkan daya saing, serta produktivitas dan investasi.

Wijaya Adi, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, menambahkan ketidakpastian pemulihan krisis utang di kawasan Eropa dan Amerika Serikat memberi sinyal negatif terhadap ekonomi domestik. Ini terutama akan berdampak pada melemahnya permintaan ekspor dari negara-negara mitra perdagangan.

“LIPI memproyeksikan ekspor Indonesia hanya US$210,49 miliar, lebih rendah dari prediksi pemerintah sekitar US$228,22 miliar,” ujarnya dalam pemaparan Outlook Perekonomian Indonesia 2012.

Wijaya menjelaskan kontribusi ekspor nonmigas sekitar US$171,37 miliar dan ekspor migas US$39,11. Ini lebih rendah daripada target pemerintah dengan kontribusi ekspor nonmigas US$186,4 miliar dan ekspor migas senilai US$42,5 miliar.

Meskipun ekspor Indonesia ke kawasan Eropa dan AS hanya sekitar 10%, Umi Karomah Yaumidin, Peneliti P2 Ekonomi-LIPI, menjelaskan tetapi menutup kemungkinan akan merembet secara tidak langsung ke mitra perdagangan lapis dua lain.

“Dampak tidak langsung menjalar melalui mitra dagang lain yang menjadi pemasok barang konsumsi kawasan Eropa. Transmisi krisis dari sektor riil cenderung lebih rentan dari sektor lain,” jelasnya.

Wijaya menambahkan pemerintah harus memaksimalkan distribusi logistik domestik untuk mendorong perdagangan lokal. Salah satunya dengan merevisi beberapa peraturan daerag terkait bea dan tarif yang diberlakukan secara legal di setiap wilayah lintasan distribusi. “Kita juga harus fokuskan free trade domestic. Perda yang memberlakukan tarif barang masuk harus dihapus untuk menjaga daya saing produk lokal,” lanjutnya.

Prediksi ADB

Asian Development Bank (ADB) masih memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh 6,6% tahun ini, tetapi ADB menurunkan perkiraaannya untuk Indonesia untuk tahun 2012 menjadi 6,5% dari perkiraan sebelumnya sebesar 6,8%.

Hal ini dikatakan dalam publikasi terbaru Asian Development Bank Asian Economic Monitor. "Jika kawasan euro dan Amerika Serikat mengalami resesi yang mendalam, ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun 1,0% menjadi 5,5%," kata Iwan Jaya Aziz, Kepala Kantor Integrasi Ekonomi Regional ADB dalam publikasinya.

Laporan ini memperkirakan perekonomian di kawasan euro akan tumbuh 0,5% tahun depan dan perekonomian Amerika Serikat tumbuh sebesar 2,1%. Untuk tahun 2011, ADB masih memperkirakan masing-masing perekonomian tersebut akan tumbuh sebesar 1,7% dan 1,6 %.

Pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN juga akan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Thailand yang mengalami masalah besar karena banjir baru-baru ini akan pulih dari gangguan pasokan tahun depan. ADB sekarang memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Thailand akan turun menjadi 2,0% tahun ini, tetapi ADB tetap mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 4,5% tahun depan.