Perumahan Menengah di Bisnis Properti 2012

Pada tahun 2012 ini, banyak hal serta strategi bisnis yang dilakukan oleh pengembang properti. Persaingan bisnis menjadi pekerjaan utama bagi mereka para developer. Harapan positif produk propertinya mampu terserap oleh para konsumennya, menjadi keyakinan yang kuat. Melihat bisnis properti yang kian menggeliat. Lewat analisanya, Ali Tranghanda Direktur Indonesia Property Watch menguraikan banyak hal mengenai perkembangan properti yang bakal terjadi di 2012. Ia menjelaskan, pertumbuhannya masih terus meninggi hingga menjelang tahun 2013 nanti.

Indonesia Property Watch (IPW) juga sempat mengamati indikasi-indikasi pasar yang mulai mengalami percepatan pertumbuhan. “Biasanya dalam kondisi normal, pasar properti akan mengalami booming properti tiga tahun setelah terjadi percepatan,” ungkap Ali Tranghanda. Melihat hal tersebut, booming properti diperkirakan akan terjadi pada tahun 2012-2013. Dengan demikian, tren naiknya pasar properti 2011 dimungkinkan akan berlanjut hingga 2012. Pertumbuhan sektor properti mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun lalu.

Ali juga menjabarkan persentase pertumbuhan serta penyerapannya. “Segmentasi apartemen menengah atas akan naik 19% dibanding tahun lalu. Sedangkan apartemen menengah belum terlihat. Masih akan tumbuh meski hanya 12%,” menurutnya. “Sektor residensial mengalami pertumbuhan tertinggi mencapai 26% disegmentasi menengah atas dan 21% di kelas menengah. Begitupun di sektor hotel yang mulai berancang-ancang. Pertumbuhannya diperkirakan mencapai 17%,” ulasnya melengkapi.

“Area komersial seperti ruko dan kios belum terlalu menggembirakan, kenaikannya diprediksi hanya berkisar 8%. Lain halnya di luar Pulau Jawa, pertumbuhan komersial jenis ruko mengalami pertumbuhan hampir mencapai 13%,” tambahkan Ali. Data diatas, Ali beranggapan tahun 2012 tetap akan mengalami pertumbuhan. Terlepas dari itu, ia juga menyarankan untuk berhati-hati. Sebab, dibeberapa lokasi sudah terindikasi over value karena kenaikan yang tinggi dua tahun belakangan. Sehingga, pertumbuhannya tidak setinggi 2012.

Meskipun krisis Eropa membayangi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. IPW memperkirakan dampak krisis Eropa hanya bersifat market shock untuk pasar Indonesia yang bersifat sementara. “Melihat stabilnya iklim perekonomian kita, bisa jadi pasar Indonesia justru akan menjadi daya tarik pasar internasional. Area perkantoran dan apartemen yang diperkirakan akan menjadi incaran,”ujarnya beranggapan.

Begitu pula dengan suku bunga perbankan untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang bakal terjadi di 2012. “Hingga 2013, suku bunga tidak akan berubah secara signifikan. Namun, bila terjadi over heating karena uang beredar dan suhu investasi memanas, dimungkinkan baru tahun 2013 suku bunga akan beranjak naik,” jelaskan Ali singkat.

Lalu, apakah pembangunan properti masih terus tumbuh di tengah kota? “Saya rasa masih dimungkinkan. Meskipun tanah yang ada terbatas,” jawabnya. “Lambat laun akan terbentuk Central Business District (CBD) kecil baru. Terutama di wilayah seperti TB Simatupang, Jakarta Utara, dan Barat,” tegas Ali.

Menurutnya, properti yang masih berkembang ditengah kota Jakarta. Bangunan vertical termasuk perkantoran, apartemen dan rusunami. “Melihat tingginya permintaan akan kebutuhan ruang, sektor properti tersebut masih mumpuni untuk berada di tengah kota,” imbuhnya. Dari data analisa IPW, pertumbuhan properti khususnya landed house di 2012, terdapat dibeberapa lokasi seperti Serpong dan Pantai Indah Kapuk. Sektor landed residensial segmentasi menengah atas mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi tahun 2010-2011 mencapai lebih dari 50%.

“Meski dibeberapa titik telah terindikasi over value. Namun, lokasi tersebut masih cukup menjanjikan. Pertumbuhannya pun masih terus berlanjut di 2012 walaupun tidak setinggi 2011,” paparnya lebih lanjut. “Segmentasinya akan bergeser ke perumahan menengah dan mengalami kenaikan tertinggi tahun 2012. Wilayah-wilayah penyangga Jakarta seperti Sentul, Bogor, Depok, Bekasi adalah wilayah yang bakal tumbuh dengan cepat,” ujar Ali Tranghanda.

BERITA TERKAIT

Sesuaikan Hasil Kajian RBB - Bank BTN Optimis Bisnis Tetap Tumbuh

Tahun 2019, menjadi tahun yang penuh tantangan karena pertumbuhan ekonomi dunia dan  domestik diperkirakan melambat akibat berkepanjangannya perang dagang antara…

Sentimen BI Rate Jadi Katalis Positif Sektor Properti

NERACA Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate  sebesar 0,25% menjadi 5,75% mendapatkan…

CIMB Niaga Maksimalkan Potensi Bisnis Wealth Management

    NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) terus memaksimalkan potensi bisnis wealth management seiring…

BERITA LAINNYA DI HUNIAN

Pemasaran Urbantown PP Urban Capai 90 Persen

Pemasaran Urbantown PP Urban Capai 90 Persen NERACA Jakarta - Urbantown, produk properti milik PT PP Urban menunjukkan performa baik…

Kebijakan Relaksasi Pajak Bisa Lesatkan Apartemen Kelas Atas dan Mewah

Kebijakan Relaksasi Pajak Bisa Lesatkan Apartemen Kelas Atas dan Mewah NERACA Jakarta - Kebijakan relaksasi pajak yang baru dikeluarkan oleh…

Investasi Properti Diperkirakan Terdampak Perang Dagang AS-China

Investasi Properti Diperkirakan Terdampak Perang Dagang AS-China   NERACA Jakarta - Investasi sektor properti diperkirakan bakal terdampak perang dagang antara Amerika…