Mobil Esemka Layak Jadi Mobnas?

BUTUH "GOODWILL" PEMERINTAH

Kamis, 05/01/2012

Jakarta - Mobil "Kiat Esemka" karya siswa SMK 1 Solo, Jawa Tengah, kini tengah menjadi perbincangan banyak kalangan di Indonesia. Meski banyak yang “mencibir”, namun tidak sedikit juga yang optimis itu bakal menjadi perwujudan mimpi untuk memiliki Mobil Nasional (Mobnas).

NERACA

Bahkan, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa berharap ada investor yang menjadi pemodal untuk mengembangkan mobil Esemka. Meski dibuat oleh pelajar SMK, Hatta berharap mobil ini bisa diproduksi massal. "Itu sungguh bagus sekali, ini membuktikan bahwa anak-anak Indonesia sangat inovatif sungguh memberikan apresiasi," ujarnya di Jakarta, Rabu (4/1).

Hatta pun meminta agar produksi mobil tersebut terus digalakkan. Pria berambut putih ini juga mengharapkan ada investor strategis yang ikut mampu mendorong produksinya. "Ini jangan berhenti di situ, mudah-mudahan ada investor. Karya-karya itu bisa jadi produksi membanggakan," tandas dia.

Saat ini, PT Autocar Industri Komponen (AIK) dan beberapa perusahaan seperti PT Solo Manufaktur Kreasi membantu SMK mewujudkan mobil Esemka itu. Apalagi, Esemka sudah memiliki banyak model yang cocok untuk pasar Indonesia mulai dari MPV/SUV untuk keluarga, pikap untuk niaga, double cabin untuk pertambangan, dan hatchback untuk pecinta mobil kecil.

Mobil yang dirakit oleh para pelajar SMK dengan Kiat Motor yang menggunakan komponen 80% buatan lokal dan 20% impor itu dibiayai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh. Mobil yang bermerk "Kiat Esemka" itu berjenis Sport Utility Vehicle (SUV) dan dibandrol dengan harga Rp95 juta.

Menanggapi hal itu, Ketua pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo pun sangat mendukung kehadiran mobil tersebut. Dia menilai, saat ini merupakan saat yang tepat industri otomotif Indonesia meramaikan pasar otomotif. Maklum saja, Indonesia sekarang merupakan market besar untuk industri otomotif. “Terlebih saat ini, Thailand belum bisa produksi, maka keberadaan Mobnas harus didukung,” kata Sudaryatmo pada Neraca, kemarin.

Namun, lanjut Sudaryatmo, semua itu akan menjadi percuma kalau saja tidak mendapat dukungan dari pemerintah Indonesia. Dan saat ini, diakui Sudaryatmo, memang pemerintah kurang mendukung program Mobnas yang ada. “Hal ini mengindikasikan kinerja birokrat kita yang tidak mendukung program Mobnas, dan akibatnya program Mobnas yang pernah digagas beberapa tahun silam selalu gagal. Indikasi ke arah sana mungkin saja, tetapi yang jelas dukungan pemerintah masih lemah”, ujarnya.

Menurut Sudaryatmo, dukungan dari pemerintah bisa dengan cara membuat infrastruktur yang layak, serta membantu pengadaan sparepartnya untuk mobil tersebut. Sehingga, purna jual Mobnas pun baik. ”Dukungan itu kan bukan hanya meminta pejabat pemerintah menggunakan Mobnas saja, tapi bisa dengan cara lain,” tukas dia.

Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gajah Mada (UGM) Prof Dr Tech Ir Danang Parikesit MSc pun termasuk yang mendukung proyek itu menjadi cikal bakal Mobnas. “Mobil Esemka adalah salah satu inovasi anak bangsa yang harus didukung pemerintah dan kementerian yang terkait, karena mobil ini bisa menjadi salah satu harapan bangsa menjadi mobil nasional”, ujarnya, Rabu.

Namun, lanjut Danang, untuk menjadikan mobil Esemka menjadi mobil nasional harus didukung dengan ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel yang lengkap, pabrik yang memadai di seluruh pelosok Nusantara. “Menjadikan mobil Esemka menjadi mobil nasional itu mudah apabila pemerintah mau mendukung, dimulai dari para pejabat pemda setempat yang memakai seperti Bupati, Walikota dan Gubernur, termasuk DPRD”, tukas dia.

Belum Siap

Meski begitu, Sudaryatmo mengakui, Indonesia saat ini belum siap dengan proyek Mobnas. Karena masih banyak yang perlu dibenahi guna mendukung program Mobnas berjalan dengan baik. Mulai dari kesiapan teknologi, infrastruktur, setidaknya membutuhkan waktu dua tahun lamanya.

Hal senada diucapkan pengamat ekonomi Faisal Basri. Menurut dia, dari segi spiritnya amat menghargai produksi mobil Esemka. Namun, untuk bisa mencapai produksi massal, harus memikirkan banyak aspek seperti bagaimana cara mengkomersialisasikan mobil itu.

“Sebuah mobil yang bisa mencapai skala komersial, harus diproduksi dalam jutaan unit. Kalau hanya memproduksi satu- dua unit, memang bisa. Tapi supaya bisa mencapai skala komersial perlu banyak hal seperti moulding, sukucadang, kredit, financial, permodalan dan sebagainya. Tapi, semangat mereka jangan dimentahkan,” ujarnya, kemarin.

Faisal pun pesimis ada pejabat atau para anggota DPR/DPRD untuk mau menggunakan mobil buatan para siswa SMK Solo tersebut. “Mobil Kijang yang local content-nya 80% saja, Presiden atau para menteri tidak mau menggunakannya. Mereka lebih suka pakai Crown. Boro-boro mau pakai Esemka,” imbuh dia.

Menurut Faisal, kalau mau lebih realistis para siswa SMK itu harus membuat Bajay, traktor pertanian atau kendaraan untuk angkutan di pedesaan yang tidak ada saingannya. “Kalau di pasar sedan, sudah banyak agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang bersaing di sana. Apakah Esemka kuat bersaing di sana?”, tukas Faisal.

Dia mencontohkan Marimutu Sinivasan dari Texmaco Engineering yang pernah memproduksi truk "Perkasa" dengan kecanggihan teknologi sejuta kali para siswa SMK ini saja, gagal masuk ke pasar. “Oleh karena itu, kita jangan bermimpi. Kalau pun mau bermimpi harus yang realistis”, katanya. iwan/agus/ahmad/rin