Prediksi 2011, Kinerja Perbankan Tetap Tinggi

Prediksi 2011, Kinerja Perbankan Tetap Tinggi

Jakarta,

Industri perbankan sepanjang sepanjang 2011 diprediksi tetap prospektif, meski tekanan inflasi masih tinggi dan kenaikan suku bunga berpengaruh. Bahkan laba bersih perbankan tetap tinggi. “"Meski suku bunga naik 75 basis poin tidak berpengaruh terhadap NIM dan NPL perbankan, atau hanya kecil pengaruhnya," kata ekonom Bank Mandir, Mirza Adityaswara kepada wartawan di Jakarta, Rabu (23/2).

Menurut Mirza, menambahkan laba tinggi yang diperoleh perbankan pada 2010 selain karena tingginya pertumbuhan kredit yang mencapai 23% juga didukung membaiknya ekonomi dunia dan belum meningkatkanya suku bunga. “Dengan meningkatnya kompetisi deposit maka cost of fund akan meningkat,” tambahnya.

Yang jelas, kata Mirza lagi, Indonesia dimana ekonominya sedang tumbuh, hal yang paling penting adalah bagaimana fungsi intermediasi perbankan bisa berjalan dengan baik. Sehingga sektor UMKM mendapatkan akses kredit yang semakin besar. "Maka meningkatnya kompetisi kredit mendorong bunga kredit akan turun pelan-pelan. Sehingga dalam jangka menengah NIM akan turun," paparnya.

Untuk lebih mendorong penurunan suku bunga kredit, Mirza mengatakan harus didukung oleh penurunan inflasi dari posisi 7 persen di akhir Desember 2010 menjadi 2 - 3 persen secara permanen. Sejumlah bank besar dalam laporannya ke Bank Indonesia mencatatkan laba yang melonjak tinggi seperti yang diraih PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) yang berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 9 triliun di 2010, atau naik sekitar 23 persen dibandingkan pencapaian di 2009 yang sebesar Rp 7,31 triliun.

Pencapaian laba bersih tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih BRI yang mencapai Rp 28,06 triliun sepanjang 2010. Hasil pendapatan bunga Rp 39,48 triliun dikurangi beban bunga Rp 11,41 triliun. PT.Bank Mandiri Tbk, bank yang memiliki aset terbesar di Indonesia pada 2010 juga membukukan laba bersih Rp8,85 triliun (unaudited), atau naik 23,6 persen dari laba periode yang sama tahun sebelumnya Rp 7,16 triliun (audited).

Sementara dari data publikasi Bank Indonesia per Desember 2010, BCA mencatat laba bersih sebesar Rp 8,37 triliun, naik sebesar 23,45 persen jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 6,78 triliun. Sedangkan, laba bersih PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) di akhir tahun 2010 meningkat 63,82 persen menjadi Rp 805,056 miliar (unaudited) dari sebelumnya pada periode yang sama sebesar Rp 724,126 miliar.

Sementara untuk Industri perbankan syariah Indonesia pada 2011 diduga juga makin memantapkan posisinya di perbankan nasional. Hal ini diperkuat dengan prediksi oleh berbagai kalangan yang menyatakan bahwa perbankan syariah Indonesia akan terus tumbuh di tahun-tahun mendatang. **cahyo

Beberapa waktu lalu, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah, juga sempat memprediksi pertumbuhan perbankan syariah dari pertumbuhan aset per tahun, perluasan jaringan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga, dan pembiayaan. Beberapa faktor yang merupakan refleksi dari kinerja perbankan syariah Indonesia itu menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Misalnya tren pertumbuhan total aset dalam 5 tahun terakhir mencapai 33% per tahun. Total aset perbankan syariah per Oktober 2010 mencapai Rp86 trilyun. Kemudian secara kelembagaan, jumlah bank syariah juga mengalami peningkatan. Saat ini, sudah ada 11 Bank Umum Syariah, 23 Unit Usaha Syariah, 146 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dengan jaringan kantor mencapai 1.625 unit. Jaringan perbankan syariah saat ini juga telah menjangkau lebih dari 89 kabupaten/kota di 33 provinsi**cahyo

Related posts