Prestasi Indeks vs Tantangan 2012

Rabu, 04/01/2012

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Mengawali tahun 2012, perdagangan saham perdana indeks Bursa Efek Indonesia sudah ditutup terkoreksi 12,852 poin (0,34%) ke level 3.809,140. Padahal dihari yang sama, tingkat inflasi sepanjang tahun 2011 tercatat rendah 3,79% atau dibawah target pemerintah 5%. Namun sentimen positif tersebut belum bisa mengangkat pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Menurut Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, volatile indeks di awal tahun dipicu masih kuatnya pengaruh krisis utang di Eropa. Kendati demikian, indeks lambat tapi pasti diyakini bisa melalui deras sentimen negatif tersebut.

Keyakinan yang sama juga disampaikan analis pasar modal bila indeks dalam tiga bulan pertama bakal tembus 4.200 karena pelaku pasar terutama asing makin aktif bermain di pasar domestik. Alasannya, kenaikan peringkat dalam investment grade dari BB+ menjadi BBB- menjadi alasan pelaku pasar menempatkan Indonesia yang layak dan aman untuk berinvestasi.

Banyak resolusi di 2012 yang diharapkan pelaku pasar terhadap industri pasar modal, selain kapitalisasi pasar modal yang terus di pacu lebih besar juga jumlah emiten dan tidak kalah pentingnya soal regulasi keamanan berinvestasi.

Ambisi yang sama juga disampaikan manajemen BEI, bila prestasi indeks 2011 hanya mencatatkan terbaik kedua di Asia Pasifik setelah Filipina, berharap bisa terbaik pertama sebagaimana prestasi yang ditorehkan di tahun 2010. Namun ambisi tersebut juga harus dihadapi dengan berbagai situasi buruk tahun 2011 terhadap krisis ekonomi Eropa yang masih menghantui indeks.

Persoalannya, apakah peluang prestasi investment grade bisa jadi "katup" atas ancaman krisis Eropa yang sedang mengintai industri pasar modal dalam negeri. Singkat kata, indeks saat ini sedang galau antara apakah akan meningkatkan prestasi atau terpukul telak berada di bawahnya lagi.

Merespon kondisi hal tersebut, otoritas pasar modal mengklaim sudah mempersiapkan sabuk pengaman menghadapi situasi terburuk yang terjadi pada industri pasar modal melalui protokol krisis manajemen. Pasalnya, belajar dari pengalaman tahun 2008, pasar modal menjadi bulan-bulanan yang pertama kali merasakan dampak negatif krisis di Amerika.

Supaya tidak mau mengulangi kondisi yang sama, pasar modal kini terus memperkuat regulasi dan infrastruktur. Meski demikian, krisis yang terjadi tidak bisa dihindari tetapi bagaimana menyikapinya agar tidak terlalu panik bagi para pelaku pasar.

Salah satu yang tengah diserukan pemerintah adalah memperbanyak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk segera melantai di pasar modal. Kondisi ini diyakini bisa meredam gejolak capital outflow yang masuk ke pasar modal, karena BUMN bisa menyerap dana panas tersebut ke sektor riil.

Hanya persoalannya, BUMN tidak mau gegabah untuk segera listing di tengah gejolak pasar yang tidak pasti. Alasannya, jangan sampai niatan baik harus ditanggung oleh risiko yang besar atau bukannya untung malah buntung. Oleh karena itu, sejatinya ditengah badai krisis ekonomi di Eropa terus berlanjut maka kesiapan pelaku pasar dan "katup" pengamannya sangat diperhitungkan secara matang.