Intiland Bagikan Dividen Rp 51,8 Miliar

NERACA

Jakarta – Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Intiland Development Tbk akan membagikan dividen sebanyak 17,3% dari total laba bersihnya di sepanjang tahun lalu kepada pemegang saham. Itu berarti senilai Rp51,8 miliar atau Rp5 per saham. Adapun, total laba bersih perusahaan tahun lalu Rp298,9 miliar.

Secara nilai, dividen yang disebar emiten berkode DILD tersebut memang tidak jauh berbeda dengan tahun lalu, yakni Rp51,3 miliar. Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono mengatakan, porsi pembagian dividen sejalan dengan pelemahan perolehan laba perusahaan tahun lalu.”Setahun ini, kinerja kami sesuai dengan industri. Industri properti harus menghadapi tekanan berat sepanjang tahun lalu yang disebabkan banyak faktor,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, laba bersih yang dikantonginya sepanjang tahun lalu tergerus hingga 25,53% dengan nilai sebesar Rp102,5 miliar dari total laba bersih yang berhasil dihimpun perusahaan pada 2015 lalu, yakni Rp401,48 miliar. Meski jumlah dividennya stagnan, namun secara nominal, pemberian dividen kepada pemegang saham tersebut terus menciut. Pada 2015 lalu, Intiland menyebar dividen Rp102,7 miliar atau Rp10 per saham setara 23,9% dari total laba bersihnya yang sebesar Rp429,2 miliar.

Sementara, pada 2014 silam, Intiland membagikan dividen Rp82,1 miliar atau Rp8 per saham. Itu berarti sekitar 25,6% dari total perolehan laba bersih 2013, yaitu Rp323,63 miliar.”Kami berusaha tetap memberikan porsi dividen yang sesuai kepada pemegang saham," tutur Sekretaris Perusahaan Intiland Development Theresia Rustandi pada kesempatan yang sama.

Adapun pemberian dividen akan diberikan pada 31 Mei 2017. Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan peningkatan pendapatan penjualan (marketing sales) sebesar 35% hingga 40% dari pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini didasarken keyakinan perseroan bila pasar properti cenderung positif.

Selain kondisi tersebut, peningkatan target marketing sales juga mempertimbangkan rencana perseroan untuk meluncurkan dua proyek skala besar tahun ini. Kedua proyek tersebut merupakan pengembangan mixed-use dan high rise skala besar yang berlokasi di pusat bisnis Jakarta dan Surabaya Barat. Perseroan mengklaim melemahnya pasar properti sepanjang 2016 berdampak langsung pada penurunan kinerja penjualan.

Related posts