Lele Bioflok Diperkenalkan ke Pondok Pesantren - Sektor Akuakultur

NERACA

Jakarta – Terkait dengan pengembangan lele bioflok ini, KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya juga akan melirik lingkungan pondok pesantren sebagai sasaran pengembangan teknologi yaitu melalui program “Bioflok Masuk Pesantren”. Slamet menyampaikan, pondok pesantren sebagai lembaga non formal merupakan lingkungan yang efektif untuk pengembangan usaha, sehingga pengenalan usaha lele bioflok ini diharapkan akan mampu mewujudkan pemberdayaan umat, sebagaimana pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo.

“Kita punya tanggung jawab moral untuk membangun pesantren, bukan hanya secara ekonomi saja, namun juga bagaimana turut serta dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada. Dengan mulai memperkenalkan ikan sebagai sumber pangan bagi mereka, kita ingin generasi muda di lingkungan pondok pesantren lebih cerdas dengan mulai membiasakan mengkonsumsi ikan,” kata Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Sobjakto, sebagaimana disalin dari keterangan resmi.

Slamet menambahkan, tahun ini KKP akan mengalokasikan dukungan sebanyak 103 paket, dengan rincian 71 paket dari pusat dan 32 paket dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang akan diberikan terhadap 73 pondok pesantren, 12 kelompok pembudidaya dan 2 lembaga pendidikan yang tersebar di 16 Propinsi termasuk diantaranya adalah wilayah perbatasan yaitu Propinsi NTT(Kab. Belu), Propinsi Papua (Kab. Sarmi dan Wamena), Propinsi Kalimantan Utara (Kab. Nunukan). Total dukungan tersebut Masing-masing dukungan tersebut terdiri dari 12 kolam dengan diameter 3 m, benih lele, pakan dan obat ikan, probiotik, dan sarana operasional. Dimana akhir bulan ini ditargetkan akan direalisasikan.

Khusus dukungan pada pondok pesantren, Slamet berharap akan dapat memberdayakan setidaknya sekitar 78.500 orang santri. Dijelaskan Slamet, ada 2 (dua) outcome yang diharapkan dapat dicapai dengan mendorong program ini, yaitu : Pertama, terwujudnya pergerakan ekonomi di pondok pesantren dan yayasan, taitu dengan memicu terbentuknya kelembagaan penunjang seperti koperasi. Dukungan ini diharapkan akan mampu menghasilkan produksi ikan lele konsumsi sebanyak 370,8 ton per siklus atau 1.452 ton, dengan nilai ekonomi produksi sebesar 21,78 milyar per tahun, dengan angka tenaga kerja yang dapat terlibat mencapai 1.030 orang.

Kedua, meningkatnya konsumsi ikan per kapita di kalangan masyarakat pondok pesantren. Sebagaimana diketahui, tingkat konsumsi ikan dikalangan para santri masih rendah yaitu hanya sekitar 9,6 kg per kapita/tahun. Dengan adanya program ini diharapkan akan mampu mendorong tingkat konsumsi ikan di kalangan santri sampai 15 kg per kapita/tahun sehingga secara langsung akan meningkatkan perbaikan gizi . Paling tidak dukungan awal ini akan memicu frekwensi konsumsi ikan di Pondok Pesantren yang semula kurang dari 1 kali dalam seminggu, menjadi paling tidak 2 kali dalam seminggu.

Salah satu pesantren yang telah melakukan teknologi ini adalah pesantren Andalusia di Kabupaten Banjarnegara dan saat ini telah menjadi model rujukan bagi kalangan masyarakat di Banjarnegara maupun di daerah lain. “Tentunya ini menjadi salah satu poin positif untuk memicu keberhasilan yang sama di daerah lain. Kedepan seiring berjalannya usaha ini, di setiap pondok pesantren diharapkan akan terfasilitasi pembentukan kelembagaan penunjang semisal koperasi, dengan begitu usaha akan berkesinambungan,” tambah Slamet.

Untuk itu, KKP juga akan menggandeng pihak lain seperti Perguruan Tinggi, LSM, maupun lembaga lain untuk turut serta melakukan pembinaan dan pendampingan teknologi, sehingga usaha akan berkesinambungan. KKP juga berencana untuk menggandeng organisasi kegamaan dalam hal ini PP Muhamadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), untuk bekerjasama dalam program pengembangan lele bioflok ini. “Dua organisisasi keagamaan terbesar di negeri ini diharapkan akan menjadi motor khususnya dalam penguatan kelembagaan dan manajemen usahanya,” jelas Slamet

Sementara itu, pada kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XV di Banda Aceh pada tanggal 6 – 11 Mei 2017 Ditjen Perikanan Budidaya telah memperkenalkan teknologi budidaya ikan Lele sistem bioflok kepada masyarakat Aceh. 8 (delapan) kolam bulat ukuran diameter 3 meter berisi ikan Lele berbagai ukuran mulai dari 625 ekor/kg, 10 – 15 ekor/kg, hingga 8 – 10 ekor/kg, kepadatan 1000 ekor/m3 lengkap dengan sistem aerasi, contoh probiotik dan layanan konsultasi serta dipadukan dengan budidaya sayuran dengan teknologi hidroponik memanfaatkan air dari kolam budidaya bioflok ditampilkan dalam ajang tahunan tersebut.

Related posts