Saatnya Perkuat Fundamental, Selektif Pilih Calon Emiten

PREDIKSI PASAR MODAL 2012

Rabu, 04/01/2012

Oleh: Lazuardhi Utama Rifky

Memasuki tahun 2012, tentu banyak harapan dipanjatkan untuk kemajuan industri pasar modal di Indonesia. Sejak pasar modal Indonesia beroperasi 34 tahun silam, kini industri tersebut tidak hanya dituntut target calon emiten yang terdaftar (listing) di Bursa Efek Indonedia (BEI), tetapi juga, kualitas calon emiten.

Hal ini dilakukan untuk meminimalisir saham "tidur" dan meningkatkan kapitalisasi pasar yang likuid. Logikanya sederhana, buat apa target tanpa dibarengi mutu emiten yang listing di pasar modal, tapi di lain pihak, hanya akan menjadi angka belaka.Tidak hanya emiten "tidur", namun emiten likuid akibat "gorengan" juga harus didepak karena banyak menyerap biaya moneter, yang seharusnya disalurkan ke sektor produktif.

Integritas pasar modal Indonesia diprediksi akan semakin meningkat tahun ini. Harapannya agar transaksi di bursa menjadi transaksi wajar, aman, dan nyaman bagi investor. Selain itu, tuntutan jumlah emiten dan investor yang memiliki pemahaman baik berinvestasi di pasar modal, juga diharapkan semakin banyak di tahun shio naga air ini.

Pada penutupan perdagangan saham tahun 2011, nilai transaksi saham di BEI selama setahun kemarin, mencapai Rp 1.220,67 triliun. Pencapaian ini naik 3,78% dari periode sebelumnya Rp 1.176,24 triliun. Sementara nilai transaksi harian rata-rata naik dari Rp 4,8 triliun menjadi Rp 4,96 triliun. Namun sayang, di tengah membanjirnya modal asing, nilai penyerapan dana IPO di Indonesia tahun ini justru dilaporkan anjlok 55,47% dari Rp 29,68 triliun di 2010 menjadi hanya Rp 19,09 triliun pada akhir Desember 2011.

Fundamental menjadi permasalahan selama ini. Data Bank Dunia danInternational Monetary Fund(IMF) menunjukkan bahwa rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB (RKPP) Indonesia selama 2006-2011 cenderung meningkat, yaitu 38,1% (2006), 49% (2007), 19.4% (2008), 33% (2009), 51% (2010), dan 52% (2011). Penurunan RKPP di tahun 2008 terjadi hampir di semua bursa dunia.

Angka RKPP Indonesia tersebut ternyata yang terendah di kawasan Asia, bahkan hanya 28% dari RKPP Malaysia dan hanya 19% dari RKPP Singapura. RKPP Malaysia periode yang sama rata-rata di atas 100%, bahkan pada 2011 mencapai 189% . Hal yang sama juga di bursa Singapura rata-rata di atas 160%, bahkan pada tahun ini mencapai 272,5%.

Realitas ini sungguh mengagetkan, betapa hebatnya pertumbuhan kinerja teknikal BEI yang ternyata secara fundamental masih lemah. Namun setelah ditelisik kembali, ternyata besaran nilai absolut kapitalisasi pasar Malaysia dan Singapura memang lebih besar dibanding Indonesia. Kecilnya nilai kapitalisasi BEI antara lain disumbang oleh kecilnya jumlah emiten yang terdaftar di bursa dan kecilnya jumlah investor yang bertransaksi.

Data hasil olahan Neraca menyebutkan, jumlah emiten di lima bursa Asia, yaitu Singapura 782 emiten, Malaysia 954 emiten, India 5.054 emiten, China 1.220 emiten, Jepang 2.289 emiten, dan Filipina 254 emiten. Lalu, ditinjau dari sisi jumlah pemodal, BEI hanya memiliki 600 ribu investor, atau dibawah 1% dari total populasi nasional. Sangat jauh dengan bursa Singapura yang total penduduknya jauh di bawah Indonesia, justru memiliki 1,26 juta investor atau 30% dari populasinya.

Investasi dan Penegakan Hukum

Sudah semestinya, pasar modal harus memiliki fungsi intermediasi caranya dengan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO). Sama juga dengan sektor perbankan yang fungsi intermediasinya melalui penyaluran kredit. Meskipun sudah mencapai target BEI, yaitu 25 emiten, tapi masih jauh kualitas dan terkesan asal ‘nrimo’ saja, yang penting terlihat hebat dan memenuhi target.

Oleh karena itu, sudah menjadi tugas Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk mengumumkan berapa penyerapan dana dari publik serta penyerapan lapangan pekerjaan di sektor riil. Selama ini, tidak ada masukan dan ide segar yang membuat pasar modal Indonesia bergerak luwes. Seperti contohnya, menggaet kelompok masyarakat yang memiliki uang banyak lalu dialihkan untuk pembangunan ekonomi.

Apalagi, pada 15 Desember 2011 lalu, Indonesia mendapatkan ‘hadiah istimewa’ berupa kenaikan peringkat utang dari Fitch Ratings yang membuat Indonesia menjadi negara yang pantas untuk tujuan investasi (investment grade). Kemudian, yang harus diperhatikan pula bahwa calon emiten yang listing di bursa harus sehat dan memiliki kapitalisasi pasar besar. Khususnya bagi perusahaan BUMN. Tujuannya untuk menggaet investor asing lebih besar.

Bicara investor asing, janganlah main tarik untuk berinvestasi. Pasar modal harus lebih selektif, sebab, investor asing dimaksud adalah yang sifatnya jangka panjang (long-term), bukan jangka pendek (temporary atau profit taking).

Berdasarkan data Neraca, setidaknya ada dua kasus di mana aksi jual investor asing "bermain" yang berujung pada kerugian emiten tersebut. Pertama, saat PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) listing pada 10 November 2010. Ketika itu, penutupan sesi pertama perdagangan saham, investor asing ramai-ramai melakukan aksi jual sehingga kerugian saat itu mencapai Rp 500 miliar.

Kedua, emiten ke-25 yang bergerak di bidang properti, PT Greenwood Sejahtera Tbk (GWSA), juga bernasib kurang mujur. Ketika listing pada 23 Desember 2011, sahamnya anjlok -14% dari harga IPO Rp 250 per lembar menjadi Rp 215 per lembar. Ibarat pepatah, kita harus belajar dari masa lalu demi kebaikan di masa depan, tentunya, di tahun ini jangan sampai kasus serupa terjadi kembali.

Akibat "permainan" mereka, pasar dibuat volatile (tidak stabil). Untuk meredam aksi tersebut, kinerja Bapepam-LK harus ditingkatkan dan lebih keras bekerja dalam membuat peraturan. Sebab, selama ini hal mendasar yang dialami pasar modal Indonesia adalah lemahnya kepastian hukum. Ini pekerjaan rumah (PR) untuk Bapepam-LK agar pelaku pasar modal berkomitmen patuh kepada undang-undang.