Penyakit Belanda

Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara

Peneliti INDEF

Negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap hasil komoditas mentah sering dianggap terserang penyakit Belanda atau Dutch Disease. Dinamakan penyakit Belanda karena tahun 1977 ditemukan cadangan gas yang besar di Belanda dan membuat ekonomi berubah menjadi berbasis sumber daya alam ketimbang membangun industri manufaktur. Struktur ekonomi yang mengandalkan SDA terbukti rapuh.

Istilah ini mulai populer kembali di tahun 2013 lalu ketika harga minyak mentah mulai merosot tajam hingga akhir 2016. Beberapa Negara yang mengandalkan komoditas mentah seperti Brazil, Malaysia, Venezuela, Arab Saudi termasuk Indonesia terpukul hebat. Perekonomian kocar-kacir, devisa dan penerimaan Negara turun, kredit macet naik, sementara di sektor riil pengangguran membludak.

Indonesia nampaknya lambat belajar dari pergerakan harga komoditas yang makin sulit diprediksi. Negara yang mengidap penyakit Belanda punya beberapa gejala khas yakni, perencanaan anggaran yang buruk, perbankan dipacu untuk mendanai sektor komoditas seperti perkebunan, dan batu-bara, dan sektor industri tidak mendapat perhatian serius. Hampir 80% ekspor Indonesia ke luar negeri adalah komoditas mentah dengan porsi barang jadi hasil manufaktur kurang dari 8,6% berdasar data WTO. Tidak ada perubahan yang signifikan struktur ekspor Indonesia sejak era Orde Baru.

Oleh karena itu saat BPS baru-baru ini mengumumkan perekonomian tumbuh 5,01% (yoy) dengan sektor pertanian yang naik 7% seharusnya itu bukanlah prestasi. Apalagi sampai diklaim di berbagai forum sebagai pertumbuhan No.3 tertinggi di G20. Padahal wajar naiknya pertumbuhan sektor pertanian masih berhubungan dengan kenaikan subsektor perkebunan kelapa sawit akibat kenaikan harga CPO global.

Disisi yang lain sektor manufaktur masih tergopoh-gopoh mengejar pertumbuhan ekonomi karena tumbuh 4,21%. Perdagangan juga belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang 56,9% perekonomian nasional terbukti turun tipis menjadi 4,93%. Investasi stagnan, dan belanja Pemerintah masih lambat realisasinya. Mandeknya reformasi struktural perekonomian jadi alarm bagi Pemerintah.

Saat ini kita mesti bersyukur harga komoditas berbalik arah naik, tapi pertanyaanya kondisi ini bisa bertahan sampai kapan? Era minyak murah sangat mungkin terjadi di semester II mendatang, AS tengah gencar menggenjot produksi minyak mentah bahkan kelebihan pasokan. Saran OPEC untuk memangkas kembali pasokan di semester II sangat terbatas. Sementara itu konsumen energi terbesar dunia, yakni China masih berbenah. Layaknya dokter, gejala penyakit Belanda sudah teridentifikasi, tinggal si pasien menuruti diagnosa dokter atau tidak, dan meminum obat yang tertulis di resep. Ketakutan terbesar adalah pembuat kebijakan tutup mata atas penyakit yang dihinggapi, sehingga sambil lalu tetap membanggakan pencapaian ekonomi yang semu. Kondisi delusional ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan pembangunan nasional.

BERITA TERKAIT

Koperasi Produksi Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah   Kekayaan Indonesia sangat berlimpah ruah, hal ini dikarenakan didukung dengan alam yang…

Medsos & Koperasi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Era medsos dan industri 4.0 tidak bisa dipungkiri membawa…

Pendalaman dan Penguatan Struktur Ekonomi

  Oleh:Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Kalau Indonesia masih lebih sering dibicarakan sebagai penghasil dan pengekspor komoditas, maka…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Tak Mau Defisit, Iuran BPJS Naik Mencekik

Oleh: Pril Huseno, Pemerhati Ekonomi Sebagai salah satu kebutuhan dasar, kesehatan rakyat merupakan amanat undang-undang yang mewajibkan penyelenggara negara untuk…

Koperasi Produksi Syariah

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah   Kekayaan Indonesia sangat berlimpah ruah, hal ini dikarenakan didukung dengan alam yang…

Medsos & Koperasi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Era medsos dan industri 4.0 tidak bisa dipungkiri membawa…