Inflasi Tahunan hanya 3,79%

Selasa, 03/01/2012

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan inflasi sepanjang 2011 hanya sebesar 3,79%. Artinya, inflasi secara keseluruhan sepanjang 2011 sebesar 3,79% atau di bawah target pemerintah yang sebesar 5,65%. “Untuk inflasi tahun kalender (periode Januari sampai dengan Desember) inflasi berada di kisaran 3,79%," kata Plt Kepala BPS Suryamin kepada wartawan di Jakarta,2/12.

Lebih jauh kata Suryamin, inflasi pada Desember 2011 hanya sebesar 0,57%. Sedangkan inflasi inti bulan Desember sebesar 0,28% dan inflasi inti tahunan sebesar 4,34%. Sebanyak 66 kota mengalami inflasi, inflasi tertinggi terjadi di Kupang 2,19% dan terendah di Tanjung Pinang 0,02%.

Selama Desember, kata Suryamin, penyumbang inflasi terbesar adalah bahan makanan yang naik 0,37%, dengan kontribusi ke inflasi 1,62%. Sedangkan kontribusi inflasi bahan makanan selama 2011 mencapai 0,84%. “Angka itu turun dibandingkan andil bahan makanan terhadap inflasi selama tahun 20110 yang sebesar 3,5%,” tambahnya.

Menurut Suryamin, tekanan inflasi pada Desember 2011, selain bahan makanan juga didorong rokok dan tembakau, dengan inflasi tahunan sebesar 0,09%. Sementara untuk Desember 2011 mencapai 0,50%. Sedangkan untuk tahun kalender tercatat 0,51%. Meski begitu, dibandingkan tahun sebelumnya tekanan dari bahan pangan mengalami penurunan drastis, dari 3,50% di 2010, menjadi 0,84% di 2011.

Data data BPS, terungkap makanan, minuman rokok dan tembakau, tercatat sebesar 2,23% pada 2010, sementara untuk 2011 menjadi 0,78%. Selain itu tercatat laju inflasi dari harga bergejolak (volatiled) tahun kalender sebesar 3,37% dengan year on year 3,57% dan inflasi harga diatur pemerintah sebesar 2,78%. .

Ditempat yang sama Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Djamal mengatakan emas menyumbang deflasi sebesar 0,04% pada Desember 2011. Selain emas, bawang merah juga menyumbang deflasi sebesar 0,03 persen dan kacang panjang 0,02%. “Faktor pembentuk inflasi pada bulan Desember 2011 sebesar 0,57%, lebih disebabkan oleh beras yang mencapai 0,13 persen, cabe merah 0,1%, tomat sayur 0,07% daging ayam 0,03% , ikan segar 0,03% , telur ayam 0,03% , tomat buah 0,02%. "Emas justru deflasi, yaitu 0,04% dan juga bawang merah dan kacang panjang juga deflasi," ungkap Jamal.

Ditempat terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Bambang PS Brojonegoro mengatakan rendahnya tekanan Indeks Harga Konsumen (IHK) alias inflasi tahunan 2011 di angka 3,79% merupakan pencapaian terbaik Indonesia pasca krisis moneter di 1998. "(Inflasi 2011) pencapaian terbaik setelah krisis 1998, dan terjadi ketika pertumbuhan cukup tinggi pada (kisaran) kira-kira 6,5 persen," jelasnya

Menurut Bambang, paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan rendahnya tekanan inflasi pada 2011. Pertama, adalah kestabilan harga pangan yang tetap terjaga di 2011 lalu. Selanjutnya, adalah keputusan pemerintah untuk tidak melakukan penyesuaian alias kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. "Serta inflasi inti yang terkendali," tukas dia. **sahlan