Kisah Kapal Pengangkut di Kepulauan Karimunjawa

Cerita dari Kepulauan Karimunjawa tak melulu soal pesona alam bawah lautnya. Kepulauan yang masih masuk dalam pemerintahan Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, itu ternyata menyimpan banyak cerita. Yang paling menarik ialah soal kehidupan masyarakat di pulau itu.Kisah menarik didapatkan saat melakukan perjalanan ke Kepulauan Karimunjawa menggunakan Kapal Motor Penumpang (KMP) Siginjai, dari Pelabuhan Kartini, Jepara, Jawa Tengah, pada Rabu (26/4) lalu.KMP Siginjai dapat mengangkut 260 orang dan 19 unit kendaraan bermotor.

Di lambung kapal yang dijadikan tempat parkir kendaraan bermotor, melihat banyak tumpukan sembako, sayur, buah, dan berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Bahkan ada juga tumpukan kasur, bantal, guling sampai barang elektronik yang masih terbungkus rapi di dalam kardus.

Bagi awak kapal dan masyarakat Kepulauan Karimunjawa, banyaknya tumpukan barang itu bukan lagi menjadi pemandangan yang aneh. Salah satu masyarakat, Yul Wawan, mengatakan kalau kapal yang dioperasikan oleh PT ASDP Indonesia Ferry itu merupakan “perantara” mereka dengan “dunia di luar pulau”.

"Kapal untuk angkut barang ya cuma Siginjai. Kapal ini kami jadikan tumpuan harapan, apalagi bagi saya yang berprofesi sebagai pedagang,” kata Yul, salah satu penumpang kapal yang membawa beberapa karung pisang dan pepaya dari Jepara.

Yul tak mengada-ada. Karena berdasarkan data Statistik Daerah Kecamatan Karimunjawa 2016 dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Jepara, disebutkan bahwa sebagian besar pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat setempat masih berasal dari luar pulau.

Selama seminggu, KMP Siginjai hanya beroperasi satu kali sehari, dari Pelabuhan Kartini di Jepara ke Pelabuhan Karimunjawa di Karimunjawa. Jadi, jika Senin kapal berlayar dari Jepara menuju ke Karimunjawa, maka Selasa, setelah menginap semalam, kapal akan berlayar dari Karimunjawa untuk kembali ke Jepara.Jadwal keberangkatan kapal pukul 7 pagi setiap harinya.

Jadi, jika wisatawan ingin ke Kepulauan Karimunjawa, ada baiknya menginap semalam di Jepara atau Semarang, lalu berangkat sebelum pukul 6 pagi menuju Pelabuhan Jepara. Bagi wisatawan, melakukan perjalan dengan jadwal seperti itu mungkin unik dan seru. Tapi tidak melulu begitu bagi masyarakat setempat.

“Kehidupan di sini tidak susah, tidak seperti yang ditulis banyak media. Sama seperti masyarakat di kota lain, kami baik-baik saja. Hanya terkadang jadwal kapal menjadi hambatan tersendiri,” ujar Yul, yang diamini suaminya. “Seperti saya yang kemarin ke Jepara. Saya menginap dua malam di sana, demi menunggu jadwal kapal untuk pulang ke Karimunjawa,” lanjutnya.

Selain KMP Siginjai, sebenarnya ada juga kapal cepat dengan waktu tempuh yang lebih singkat, hanya sekitar dua jam perjalanan.

Sementara, KMP Siginjai menempuh waktu perjalanan selama empat jam, jika doa masyarakat agar cuaca cerah dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Harga tiketnya pun lebih mahal, mulai dari Rp150 ribu untuk kelas ekonomi. Sedangkan, KMP Siginjai memberi harga tiket mulai dari Rp78.000.Jadi, yang lebih sering menggunakan kapal cepat ialah wisatawan.

BERITA TERKAIT

Pajak e-Commerce, Asas Equity, dan Kisah Graham Bell

Oleh: Andi Zulfikar, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak *) Siapa yang tidak mengenal Alexander Graham Bell? Lelaki yang lahir di Edinburgh, Skotlandia,…

Humpuss Intermoda Beli Tiga Kapal Baru - Kuras Kocek US$ 10,1 Juta

NERACA Jakarta – Dalam rangka mendukung pengembangan bisnisnya, PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS) melakukan pembelian atas tiga kapal dari…

Iperindo Sesalkan BUMN Pelayaran Masih Impor Kapal Bekas - Dunia Usaha

NERACA Jakarta - Belum lama ini, PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni membeli enam kapal bekas dari luar negeri,…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Menjelajahi Pulau Paling Ujung Selatan Indonesia

Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote" Masih lekat dalam ingatan sepenggal lirik dari lagu iklan mie instan…

Ambon Menuju Kota Musik Dunia

Pemulihan Kota Ambon terus dilakukan pasca konflik silam. Kini Ambon terus berlari untuk menobatkan diri sebagai "Kota Musik" dunia."Ambon manise",…

Parade Budaya Bahari di Wakatobi

Siang itu panas terik sinar matahari terasa menyengat kulit. Jam di tangan menunjukkan pukul 14.00 WITA. Saya pun mempercepat langkah…