Tantangan Ekonomi 2012

Senin, 02/01/2012

Kita memperkirakan dampak krisis Eropa dan Amerika Serikat akan mulai terasa pada semester I/2012. Untuk itu, Indonesia perlu mengantisipasi mengingat krisis ekonomi itu bak tsunami yang siap memangkas proyeksi pertumbuhan Eropa dan AS. Kendati angka-angka indikator makro ekonomi Indonesia berada dalam kondisi relatif “aman”, apakah ekonomi Indonesia sudah memiliki fundamental yang kuat dalam jangka menengah menghadapi krisis global?

Krisis Eropa-AS diduga banyak pihak akan mengganggu kinerja ekspor nasional. Selama ini, pasar Eropa dan AS masing-masing menyumbang 13,3% dan 10% dari total ekspor nonmigas selama Januari-Juli 2011. Industri tekstil, garmen, dan produk tekstil diproyeksikan sebagai sektor yang paling terpukul akibat krisis Eropa-AS.

Meski demikian, kita harus mengakui, di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ketidakstabilan makro ekonomi dan ketidakpastian kebijakan ekonomi makro sudah jauh menurun ketimbang masa sebelumnya. Namun, beberapa risiko dan ancaman yang harus dicermati oleh pemerintah pada 2012.

Seperti kondisi sektor riil sekarang masih “tertatih-tatih”, dengan laju pertumbuhan rendah dan pangsa pasar yang menurun. Adalah perlu prioritas stimulus perlu diberikan kepada industri yang padat tenaga kerja, berorientasi ekspor, dan sunset industry.

Komoditas ekspor Indonesia mayoritas berbasis buruh murah dan sumber daya alam yang melimpah. Penurunan pajak ekspor dan bea masuk untuk bahan baku dan penolong yang masih diimpor dari luar negeri akan sangat membantu industri di dalam negeri.

Kemudian usulan untuk memberi stimulus bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) layak untuk diperhatikan pemerintah. Beberapa stimulus yang mendesak adalah penurunan pajak pertambahan nilai (PPN) impor kapas maupun kapas dalam negeri dan semua bahan baku utama produk UMKM (misalnya perak, kedelai).

Stimulus lainnya adalah penurunan suku bunga dibutuhkan untuk mendorong investasi, dan mempercepat restitusi pajak. Selain itu, perlu didukung adanya rescue program untuk sentra UMKM yang dalam kondisi “darurat” akibat gempa, lumpur panas, dan bencana alam lainnya.

Pemerintah juga lebih fokus menggarap pasar domestik yang sangat penting dilakukan. Di tengah lesunya permintaan luar negeri, sudah saatnya menggarap pasar domestik lebih intensif. Diwajibkannya penggunaan produk tradisional, seperti batik dan tenun ikat di berbagai daerah, perlu dijadikan gerakan nasional gemar produk Indonesia.

Industri kreatif juga perlu digenjot. Pasar domestik pun dapat menjadi peluang untuk menyerap produk-produk berkualitas tersebut serta dapat menghambat gempuran produk ilegal dari Tiongkok, India, dan Vietnam. Pemerintah juga tidak lupa mengakomodasi semua usulan yang disampaikan tiap sektor, Kadin, dan asosiasi bisnis. Inilah saatnya mengimplementasikan kebijakan pembangunan industri nasional versi pemerintah dan Road Map Industri Kadin.

Akhirnya, stimulus ekonomi baik fiskal maupun moneter harus dimulai awal semester I/2012. Bagaimanapun, akselerasi implementasi kebijakan makro, sektoral, dan daerah untuk merespon krisis global perlu dijadikan agenda dan kegiatan utama. Bila penyerapan/pencairan APBN dan APBD pada akhir kuartal 2012, kekhawatiran gelombang PHK, dan hancurnya sektor riil bukan hanya mitos, namun menjadi kenyataan.