2012, Kredit Perbankan Optimis Naik 25%

Senin, 02/01/2012

Oleh: Rindy Rosandya

Jakarta - Dengan keoptimisan tinggi, perbankan nasional di 2012 berusaha mencetak kinerja yang lebih baik dibanding 2011. Meski bayang-bayang krisis global tetap menghantui dan diperkirakan akan terus berlanjut di 2012. Dari sisi kredit, Gubernur BI Darmin Nasution berani mengatakan pertumbuhan kredit perbankan nasional dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% dapat naik 24-25% di 2012.

Faktor masuknya Indonesia ke investment grade oleh lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings diyakini akan menarik dana asing ke dalam negeri dalam jumlah besar. Ini merupakan kesempatan bagi perbankan nasional untuk meraup keuntungan dari masuknya dana asing tersebut.

Namun itu harus didukung kesiapan perbankan sendiri baik dalam hal penyediaan produk maupun infrastrukturnya.

Dari sisi regulator, Bank Indonesia telah menyiapkan arah kebijakan 2012 untuk perbankan. Secara umum arah kebijakan tersebut adalah menjaga keseimbangan antara peningkatan efisiensi, penguatan ketahanan perbankan dan mendorong intermediasi bank termasuk memperluas akses masyarakat ke layanan jasa perbankan berbiaya rendah.

Dalam hal efisiensi perbankan, BI memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik sehingga sasaran kebijakan dapat tercapai. Caranya, dengan enforcement ketentuan, yaitu mewajibkan rencana bisnis bank (RBB) mencantumkan target-target peningkatan efisiensi dan penurunan suku bunga kredit pada level yang wajar.

Selain itu, BI melakukan kajian terhadap praktik pemberian tingkat bunga dana pihak ketiga (DPK) di atas bunga LPS dan pembatasan pemberian hadiah bagi nasabah.

Dalah hal ketahanan perbankan, dilakukan penguatan permodalan agar bank siap mengantisipasi perubahan siklus bisnis ke depan. Upaya perlindungan nasabah selama ini masih kurang. BI juga menyempurnakan ketentuan transparasi laporan keuangan dan mengkaji kebijakan kepemilikan di perbankan.

Guna mendorong intermediasi, akan dilakukan upaya melanjutkan perluasan akses perbankan (financial inclusion) kepada masyarakat. BI juga akan melakukan pengembangan edukasi keuangan.

Optimisme serupa datang dari ekonom CIDES Umar Juoro. Dia menengarai kredit perbankan masih akan tinggi di 2012. Kredit perbankan bakal melonjak 23-23 persen di tahun mendatang. "Pertumbuhan kredit perbankan masih akan tinggi sekitar 23 sampai 25 persen pada tahun 2012 mendatang," ujar Umar.

Meski tinggi, Umar mengatakan ketersediaan kredit dolar akan semakin ketat. Keharusan eksportir menempatkan penerimaan ekspornya di perbankan domestik, diharapkan dapat meningkatkan paspokan dollar di dalam negeri. "Selain itu pula dipertimbangkan dibukanya repo dalam bentuk dollar oleh BI. Lebih jauh dapat dipertimbangkan penurunan giro wajib minimum perbankan dalam bentuk dollar," jelas Umar.

Selain itu, sektor non-traded seperti telekomunikasi menurut Umar masih akan tumbuh tinggi. Disamping peningkatan sektor telekomunikasi, justru pertumbuhan perdagangan dan perumahan diperkirakan akan mengalami penurunan. "Jika pembangunan infrastruktur dapat dipercepat, maka dapat mengkompensasi penurunan pertumbuhan perumahan ini," ujarnya.

Hanya saja, lanjut Umar, perbankan ditaksir tidak akan terlalu besar turunkan tingkat suku bunga dasar kreditnya (SBDK) pada 2012 mendatang. "SBDK di tahun depan tidak akan turun terlalu banyak. Karena (tergantung) bagaimana BI (Bank Indonesia) mempersuasi bank untuk menurunkan suku bunga agar meningkatkan ekonomi domestik," katanya.

Hal ini disebabkan karena kekhawatiran bank jika pihaknya menurunkan tingkat SBDK-nya, bank lain justru melakukan sebaliknya yaitu menaikkan suku bunga deposito sehingga nasabah pindah. "Jadi kesepakatan antarbank saya kira perlu untuk melakukannya (penurunan SBDK) bersama-sama. Meskipun persuasi BI penting dilakukan ke bank-bank, mereka (bank) juga tidak ingin BI terlalu ikut campur tangan. Bank-bank itu kan juga harus untung," lanjut dia.

Umar menambahkan, bank sentral di tahun ini juga akan tetap menahan BI rate di angka enam persen untuk menahan krisis global. Meskipun pihaknya telah melihat adanya perlambatan ekonomi karena krisis ini, ekonomi Indonesia masih tumbuh 6,2 persen. "Ekonomi kita masih sebagian besar didukung oleh ekonomi domestik, karena ekspor hanya adalah berkontribusi ke pertumbuhan sekira 28 persen," lanjutnya.

Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia ini relatif tinggi, Umar berpendapat hanya masyarakat kelas menengah ke atas yang dapat menikmatinya. Hal ini terlihat di pertumbuhan kredit yang tinggi hanya di beberapa sektor seperti perdagangan dan telekomunikasi. "Pertumbuhan industri manufaktur hanya sekira enam persen tahun ini, tahun depan diprediksi lebih rendah (pertumbuhannya). Hal ini karena pertumbuhan manufaktur yang menyerap tenaga kerja masih terganjal banyak hal terkait infrastruktur seperti jalan dan listrik," tandasnya.

Faktor MP3EI

Yang jelas, menurut Dirut PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Gatot M Suwondo, salah satu pendorong tetap baiknya pertumbuhan perbankan nasional tahun depan adalah berkat dukungan proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). "Kinerja perbankan akan lebih terdorong lagi apabila MP3EI berjalan secepatnya," ucap Gatot.

Dia juga menegaskan bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh 6,5 % tahun ini, sedangkan pada 2012 ekonomi Indonesia akan tumbuh di kisaran 6,4% hingga 6,7%. "Ekonomi ke depan akan mendorong perbankan, di mana bank akan ikuti perkembangan sektor riil," katanya.

Ia menjelaskan, sektor perbankan hingga kuartal III-2011 telah menunjukkan fungsi intermediasinya dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) yang meningkat signifikan dalam 10 tahun terakhir. "Pada tahun 2000, LDR perbankan 35 %, tapi kini LDR perbankan mencapai 81,36% di kuartal III-2011," ujarnya.

Pada kuartal III-2011, kredit perbankan tumbuh 25,3% year on year (yoy), dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 18,7%. Menurut Gatot, penyaluran kredit masih didominasi oleh kredit produktif yang pertumbuhannya 26%, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 23,7%.

Pertumbuhan kredit produktif ditopang oleh kredit investasi yang pada kuartal III-2011 tumbuh 31,1 persen yoy dan kredit modal kerja naik 24%."Ini menunjukkan peran perbankan dalam mendorong usaha produktif. Juga bisa dilihat dengan lebih agresifnya membuka cabang untuk menjangkau masyarakat dan menyebabkan tingginya BOPO (beban operasional terhadap pendapatan operasional)," kata Gatot.

Sementara itu, rasio kecukupan modal (CAR) berada di atas level minimum 8%, yakni mencapai 16,6%. Dari sisi kredit bermasalah (NPL) turun dari 2,96% menjadi 2,67%, dan return on asset (ROA) naik dari 2,9% menjadi 3,1%. "Total modal juga meningkat 30% menjadi Rp301,3 triliun, yang ditopang laba operasional berjalan," kata Gatot.