Laba BRI Tumbuh 5,5%

NERACA

Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatatkan laba bersih tumbuh 5,5 persen atau Rp6,47 triliun secara year on year (yoy) dibandingkan dengan laba kuartal pertama di 2016 yang mencapai Rp6,1 triliun. "Kenaikan ini didorong oleh penyaluran kredit yang tumbuh di atas rata-rata industri serta kenaikan fee based income (FBI)," ujar Direktur Utama BRI Suprajarto dalam konferensi pers, di kantornya, Jakarta, Kamis, (20/4).

Sampai akhir Maret 2017, total penyaluran kredit perseroan mencapai Rp 653,1 triliun. Naik 14 persen dibandingkan penyaluran kredit di akhir Maret tahun lalu yang hanya Rp 561,6 triliun. Sementara itu, FBI mencapai Rp 2,5 triliun atau naik 29,3 persen dibandingkan periode serupa tahun lalu yakni sebesar Rp 2 triliun.

Suprajarto menuturkan, penyumbang FBI terbesar adalah 39 persen dari simpanan serta fee e-banking sebesar 23 persen. Secara keseluruhan, FBI berkontribusi sebanyak 9,2 persen dari total seluruh pendapatan BRI di kuartal pertama 2017. Ia pun menjelaskan, untuk penyaluran kredit, masih didominasi di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Pasalnya, penyaluran kredit ke UMKM sudah menembus Rp 471 triliun atau 72,1 persen dari seluruh keseluruhan portofolio kredit BRI. "Dari penyaluran tersebut, kredit mikro masih mendominasi dari seluruh penyaluran segmen kredit BRI. Mencapai 33 persen atau senilai Rp 216,1 triliun dari total penyaluran kredit," kata dia.

Ia menambahkan, sampai kuartal pertama kredit mikro tumbuh 23 persen, sedangkan kredit korporasi maupun konsumer masing-masing tumbuh sekitar 12 persen. Suprajarto menyatakan, pertumbuhan kredit signifikan BRI berkat penyaluran kualitas kredit yang terus dijaga. Pada kuartal pertama tahun ini rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross BRI sebesar 2,16 persen, turun tipis dari NPL gross perseroan periode sama tahun lalu yakni 2,22 persen.

Sedangkan untuk kredit segmen mikro, NPL gross sebesar 1,35 persen di akhir Maret. BRI bahkan meningkatkan NPL Coverage menjadi 181,55 persen, naik dari NPL Coverage kuartal pertama tahun lalu sebesar 150 persen. "NPL masih terjaga. Kita akan lakukan ekspansi kredit secara maksimal. Kita pun sedang lakukan berbagai strategi untuk tingkatkan DPK (Dana Pihak Ketiga)," kata Suprajarto.

DPK BRI sendiri pada kuartal pertama ini tumbuh 11 persen menjadi Rp 701,2 triliun, sebelumnya Rp 631,7 persen. Secara komposisi, dana murah (CASA) masih mendominasi yakni 56,63 persen, sebelumnya di kuartal pertama tahun lalu 56,54 persen.

Suprajarto menerangkan, untuk menggenjot fee based income, perseroan akan mengoptimalkan agen Brilink atau layanan keuangan tanpa kantor (Laku Pandai). “Saat ini jumlah agen Brilink kita ada 97.500, ini satu potensi yang luar biasa. Ke depannya kita akan kembangkan agan-agen ini sebagai referral untuk loan-loan kecil sehingga lebih efisien,” kata Suprajarto.

Wakil Direktur Utama BRI Sunarso menargetkan kontribusi dari fee based income bisa tumbuh double digit, dari 9,2 persen dari total pendapatan, menjadi paling tidak 10 persen. “Untuk itu, kami akan menambah agen Brilink hingga mencapai 135 ribu tahun ini,” paparnya.

Related posts