Tabir Dibalik Kunjungan Wapres AS

Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara

Peneliti INDEF

Mike Pence, Wakil Presiden AS dijadwalkan berkunjung ke Indonesia pada tanggal 20 April 2017. Salah satu Negara yang akan disinggahi adalah Indonesia, disamping Jepang dan Korea Selatan. Pertanyaannya mengapa Indonesia masuk kedalam 3 negara yang dikunjungi Pence di Asia? Jawabannya hanya dua yakni mencegah ekspansi China di Asia Tenggara dan mengamankan sumber uang di Papua.

Tiba di Jakarta, Pence dijadwalkan terlebih dahulu bertemu dengan Presiden Joko Widodo sebagai tanda kehormatan (courtesy call) kepada pemimpin negara. Setelah itu, Wapres AS ke-48 itu akan bertemu Wapres JK untuk membahas lebih lanjut penguatan hubungan strategis antar Washington dan Jakarta.

Kebijakan perdagangan AS merupakan salah satu sektor yang banyak mendapat perhatian di era pemerintahan Presiden Donald Trump. Sebagai salah satu mitra dagang terbesar, kebijakan perdagangan AS pun membawa pengaruh besar bagi Indonesia.

Sebelum melakukan kunjungan ke Indonesia, Pemerintah AS melakukan siasat yang cukup licik. Trump menuduh Indonesia masuk kedalam 16 Negara yang melakukan kecurangan perdagangan dalam perintah eksekutif tanggal 31 Maret 2017. Kecurangan yang dimaksud dapat berupa dumping atau currency manipulator yakni membuat mata uang menjadi rendah nilainya sehingga produk yang dijual ke AS dapat lebih murah harganya.

Dua tuduhan tadi jelas tidak berdasar. Indonesia tidak melakukan dumping maupun manipulasi mata uang. Meskipun semua tau bahwa sasaran Trump adalah China yang kerap disebut ‘pemerkosa ekonomi AS’, namun masuknya Indonesia kedalam target list tadi bukanlah tanpa sebab. Perintah eksekutif tadi memiliki waktu hingga 90 hari untuk dilakukan investigasi terhadap produk asal Indonesia.

Salah satu produk yang riskan adalah minyak kelapa sawit. Satu minggu sebelum perintah eksekutif Trump diteken, asosiasi biodiesel AS mengunggah sebuah petisi berisi gugatan kepada Indonesia dan Argentina yang melakukan dumping. Oleh karena itu kunjungan Wapres AS akan membuka tabir yang selama ini masih misteri tentang maksud AS menekan Indonesia, padahal selama ini hubungan Indonesia-Amerika Serikat baik-baik saja.

Tuduhan dumping tadi merupakan daya tawar AS untuk menekan Indonesia agar tidak terlalu berpihak kepada China baik dari segi keamanan misalnya soal konflik laut china selatan, dan soal ekonomi, sebagai contoh proyek-proyek strategis di Indonesia banyak didanai dari China. Pence diprediksi mendorong Jokowi untuk lebih aktif dalam ASEAN guna menangkal pengaruh China di kawasan. Pence juga akan menyentil Jokowi agar tidak terlalu menjalin hubungan akrab dengan Beijing.

Poin penting pembahasan berikutnya yang tak akan dilewatkan adalah kondisi investasi perusahaan AS di Indonesia. Dalam hal ini kepastian hukum Freeport jadi menu utama. Hal ini tersirat dari sikap manajemen Freeport yang meski sudah diberikan Izin Usaha Pertambangan Khusus sementara namun belum juga mengajukan izin ekspor konsentrat ke Kementerian Perdagangan.

Usut punya usut, Freeport masih menunggu arahan dari Pence. Jika Pence bisa menekan Pemerintah Indonesia dalam meja perundingan, maka kontrak karya Freeport nampaknya tidak bisa diganggu gugat. Freeport akan beroperasi lagi hingga 2041, dan aturan IUPK akan direvisi sesuai keinginan Freeport. Disaat itulah maksud Pence dapat terbaca dengan gamblang.

Related posts