Kuartal Pertama, Pendapatan AALI Naik 48,8%

NERACA

Jakarta - Di kuartal pertama 2017, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 4,49 triliun. Angka ini naik 48,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sejumlah Rp 3,02 triliun. Sementara, laba bersih AALI pada kuartal I 2017 naik hampir dua kali lipat menjadi Rp 801,03 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Perseroan juga mengungkapkan, penjualan CPO dan produk turunannya masih mendominasi pendapatan AALI. Tercatat, sampai kuartal pertama 2017, penjualan CPO berkontribusi Rp 3,67 triliun. Sedangkan, palm kernel berkontribusi Rp 810,76 miliar. “El Nino sudah berkurang dampaknya, karena yang paling parah memang tahun lalu. Tahun ini, kami optimistis akan lebih baik," kata Tofan Mahdi, Head of Public Relations AALI.

Sebelumnya, para analis pasar modal memprediksi performace kinerja keuangan AALI akan membaik di tahun ini seiring dengan membaiknya produksi perkebunan. Keyakinan membaiknya kinerja keuangan AALI juga didasarkan positifnya pencapaian di tahun 2016. Dimana anak usaha dari Astra Internasional ini berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 14,12 triliun, meningkat 8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 13,06 triliun.

Sementara laba bersih tahun buku 2016 sebesar Rp 2,01 triliun. Angka ini meningkat lebih dari tiga kali lipat dari sebelumnya Rp 619,11 miliar. Seiring dengan lonjakan laba bersih tersebut, maka laba bersih per saham atau earning per share (EPS) AALI tercatat Rp 1.135,85 per saham. Tahun 2015, EPS AALI hanya Rp 393,15 per saham.

Joni Wintarja, analis NH Korindo Sekuritas Indonesia pernah bilang, kinerja AALI tahun ini diprediksi jauh lebih baik. Dimana pendapatan bakal meningkat 10,2% secara tahunan pada 2017 menjadi Rp15,56 triliun. Sementara itu, laba bersih naik 8,3% menuju Rp2,17 triliun. Peningkatan pendapatan pada tahun ini didukung oleh proyeksi stabilnya harga CPO dan bertumbuhnya produksi AALI. Di sisi lain, pemerintah bersikap proaktif dalam meyakinkan pasar Eropa untuk menyerap CPO dari Indonesia.”Meskipun pemasukan AALI berasal dari pasar domestik, pembukaan potensi pasar Eropa dapat mengantisipasi pulihnya produksi CPO pada tahun ini,”kata Joni dalam riset yang dirilis pada 6 Maret 2017.

Sebagai informasi, tahun ini AALI menginvestasikan dana sebesar Rp 300 miliar untuk pembangunan dua pabrik. Pabrik pencampuran pupuk (fertilizer blending plant) berkapasitas 100.000 ton per tahun ini akan dibangun di Kalimantan Tengah. Sedangkan, pabrik palm kernel oil (PKO) dibangun di Sulawesi berkapasitas produksi 400 ton per hari.

Related posts